Part 2 Pemuda Aneh

1024 Kata
Iris mengambil sekotak rokok yang ia sembunyikan di balik tempat sampah. Saat sedang kesal ia memang sering menghabiskan waktunya di belakang sekolah yang jauh dari kunjungan para siswa. Selain karena tempatnya yang jauh, tempat itu juga sangat kotor dan bau. Benar-benar tempat yang tepat untuk menghabiskan waktunya tanpa gangguan siapa pun. Saat baru saja akan menyalakan rokoknya, ia bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ia berbalik dengan perasaan was-was dan sedetik kemudian ia berdiri sambil menyembunyikan rokoknya di balik punggungnya. "Ada apa?" tanyanya berusaha tenang. Sementara sosok pemuda dengan seragam yang sama dengan miliknya itu menatap lurus ke belakang punggungnya. "Kau merokok?" tanyanya tanpa basa-basi.  Iris menampilkan wajah dingin seperti biasa. "Apa urusannya denganmu? Kau mau melaporkanku? Silakan. Aku tidak peduli." Pemuda itu tersenyum. "Aku tidak seburuk itu." Ia membuang bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya ke dalam kotak sampah. "Aku datang hanya untuk ini," jelasnya. Setelahnya ia berjalan pergi, seolah-olah tidak pernah bertemu sosok Iris di sana. Sedangkan Iris hanya bisa mematung memandangi punggung pemuda itu yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang berbicara dengannya tanpa menampilkan raut wajah ketakutan. ***** "Baiklah, cukup sampai di sini saja materi yang Bapak sampaikan." Laki-laki paruh baya itu memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot. "Jangan lupa kerjakan soal yang Bapak berikan." "Baik, Pak!" Setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan Pak Rudi segera melangkah keluar dari kelas.  Tak seperti teman-temannya yang sudah bersiap untuk pulang. Iris masih terdiam di kursinya sembari memandangi pemandangan di luar jendela sekolah. Tampak begitu tak terganggu dengan kehebohan beberapa siswa-siswi yang bersemangat meninggalkan kelas. "Kamu belum mau pulang?" Iris mengernyitkan keningnya tak suka saat mendengar pertanyaan itu. Tanpa menjawab ia memasukkan buku beserta peralatan menulisnya ke dalam tas. Kemudian berlalu begitu saja melewati sosok yang masih berdiri dengan senyuman di samping mejanya. "Kau mengabaikanku?" Langkah Iris terhenti. Hatinya memanas mendengar pertanyaan yang tertangkap jelas di telinganya dalam kondisi kelas yang hening itu. Tanpa berbalik ia bisa merasakan senyum mengintimidasi dari balik punggungnya. Tangannya mengepal erat tanpa ia sadari. "Jangan begitu. Aku hanya ingin kita pulang bersama." Irina merangkul bahunya dengan ceria. "Walau bagaimanapun, kita ini tetaplah saudara. Aku hanya ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa kita ini saudara yang rukun." Iris tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kakak kembarnya itu berjalan meninggalkan kelas.  ***** Suara bell yang ditekan berkali-kali dari arah pintu, membuat Iris mau tak mau mengalihkan perhatiannya dari film yang sedang ditontonnya. Ia melangkah keluar dari kamarnya dengan rasa penasaran. Diletakkannya kedua tangannya di atas pagar sambil memperhatikan salah satu pelayan di rumahnya di bawah sana membuka pintu.  Matanya sedikit membulat saat mengenali sosok yang muncul di balik pintu dan sedang berbicara dengan pelayannya. Ia tentu tak bisa melupakan wajah pemuda yang memergokinya sedang memegang rokok di belakang sekolah itu. Pemuda itu ternyata menyadari keberadaannya. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. "Hai, kita bertemu lagi!" Iris ingin membalas sapaan ramah itu, namun urung ia lakukan saat melihat sosok Irina keluar dari kamarnya. Gadis itu berlari menuruni tangga dengan ceria mendekati pemuda yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya. Matanya memicing tak suka melihat kedekatan kedua orang itu. Terlebih saat ia melihat senyum Irina yang tampak begitu bahagia dengan kehadiran pemuda itu. Dalam hati ia berpikir. Ada urusan apa pemuda itu datang ke rumahnya? Juga, ada hubungan apa antara ia dan Irina? Merasa ia tak diperlukan di sana, ia memilih untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Satu-satunya ruangan di rumah ini yang bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang. ***** Iris menghela napas kasar sambil memandang tajam gadis di hadapannya yang sudah gemetaran sejak tadi. "Kau ... punya dua mata itu fungsinya untuk apa? Hanya pajangan?" Gadis di hadapannya menggeleng. "M-maaf. Aku yang salah." Raut wajah Iris menjadi lebih dingin dari sebelumnya. "Bukan itu jawaban yang aku minta." Siswa-siswi di sekitarnya mulai berbisik-bisik. Mengatakan betapa buruknya perilaku Iris dan betapa mereka mengasihani gadis yang tidak sengaja menumpahkan minumannya di seragam Iris. Gadis itu sudah sepucat mayat, namun mereka tentu tak berani mengambil resiko dengan berhadapan dengan sosok Iris yang terkenal dengan sikap arogannya. Kembali Iris menghela napas. Mendengar bisikan-bisikan tak berujung itu benar-benar membuatnya muak. Ia membungkuk sekedar mengambil gelas minuman di lantai. Gelas yang menjadi saksi tumpahnya cairan cokelat di seragam putihnya. Ia mengangkat tangannya kemudian menumpahkan sisa minuman di dalam gelas ke atas kepala gadis di hadapannya. Gadis itu terdiam dengan wajah terkejut yang tak terbendung. Bahkan Iris bisa melihat lelehan cairan bening di sudut matanya. Iris tersenyum manis namun terlihat sinis secara bersamaan. "Permintaan maaf diterima." Kemudian ia berlalu begitu saja bersamaan dengan merosotnya tubuh gadis itu di lantai dan kehebohan orang-orang di sekitarnya yang menanyakan keadaannya. Iris mendecak kesal. Apalagi menyadari cairan cokelat itu menembus pakaian dalamnya. Rasanya ia ingin pulang dan mandi saat ini juga. Jika saja sekolah mengizinkannya. ***** Alex menyaksikan pemandangan di depannya dengan alir bertaut. Ia yang sedang dalam perjalanan menuju kelas terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat kerumunan yang menutupi jalan. Dengan tubuhnya yang menjulang tinggi tidak sulit baginya untuk melihat objek yang sedang menjadi pusat perhatian di depan sana. Melihat sosok Iris membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut terlibat. Ia baru saja akan melangkah maju saat seseorang memegang lengannya. Menahannya agar berdiam di tempat dan tidak melangkah ke mana pun. "Tetap di sini." Alex mengalihkan pandangannya ke depan sejenak sebelum kembali menatap gadis di sampingnya. "Bukankah seharusnya kita menghentikannya?" Gadis yang masih memegang tangannya itu tersenyum, perlahan ia melepaskan genggamannya. "Iris akan sangat merepotkan jika sudah seperti itu. Jadi, aku harap kau tidak ikut campur." Kening Alex berkerut. "Lalu bagaimana denganmu? Kau kakaknya, sudah pasti bisa menenangkannya."  Irina masih menampakkan senyum yang sama. Matanya memandang lurus ke depan. Pada sosok adiknya yang sedang  memberikan pertunjukan gratis saat ini. "Aku memang kakaknya tapi bukan berarti dia akan mendengarkan semua ucapanku." Atensinya mengarah pada Alex yang terpaku. "Aku pikir kau sudah tahu tentang itu?" "Iya, kau benar." Alex memijit pangkal hidungnya dengan pelan. Kepalanya sedikit pusing saat ini. "Aku hanya masih sedikit tidak percaya dengan itu semua."  Perhatiannya kembali pada Iris yang sedang menuangkan minuman ke atas kepala gadis di depannya. Tatapan matanya mulai berubah yang tentu saja disadari oleh Irina di sampingnya. "Tapi, kupikir aku mulai percaya sekarang." *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN