"Iris Oktavia!"
Panggilan dengan nada amarah itu tentu saja membuat Iris mengalihkan perhatiannya dari luar jendela pada perempuan yang berdiri di depan kelas. Ia dapat dengan jelas melihat Bu Amelia yang berusaha menahan amarahnya yang memuncak.
"Apa pemandangan di luar sana jauh lebih penting dari pelajaran yang sedang Ibu bawakan?!"
Iris melirik ke sekitar. Teman sekelasnya beberapa kali tertangkap atensinya sedang mencuri-curi pandang padanya. Bahkan terkadang berbisik bersama teman sebangkunya yang Iris percayai adalah topik tentang dirinya. Ia tersenyum, tentu saja akan seperti itu. Mereka terlalu pengecut bahkan untuk menatap matanya dan berbicara langsung padanya walau sedetik pun.
"Iris! Ibu sedang berbicara denganmu. Kalau kamu memang serius ingin mengikuti kelas ini, maka beri perhatian ke depan."
"Maaf, Bu."
Iris berdiri secara mendadak yang menyebabkan kursinya terdorong jatuh ke belakang. Orang-orang yang berada di kelas itu tak bisa menahan kepala mereka untuk tidak menoleh, memandang gadis cantik yang berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada meja. Sementara tatapan Iris tak memancarkan perasaan bersalah sedikit pun atas kegaduhan yang ia timbulkan. Tatapannya lurus ke depan, memandangi Bu Amelia yang terkesiap.
"Sepertinya saya lebih memilih untuk tidak mengikuti kelas ini. Permisi." Iris meraih tasnya dan berjalan keluar kelas, mengindahkan seluruh tatapan tak bersahabat yang mengiringi langkahnya.
Bu Amelia terperangah. Tak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu. Ia mengejar langkah Iris yang mulai menjauh. "Tunggu, Iris! Kamu tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja!"
Iris tentu saja mengabaikan panggilan itu. Ia tetap berjalan dengan langkah cepat tak memperdulikan Bu Amelia yang mengejar di belakangnya. Mereka berdua kemudian menghilang dari pandangan.
Sedangkan para siswa di kelas justru mengucap syukur. Tanpa kehadiran Iris di kelas tentu membawa dampak positif bagi kesehatan jantung mereka.
"Adikmu itu menakutkan sekali."
Irina tersenyum menanggapi ucapan gadis yang duduk di depannya. Sementara yang lainnya mulai ikut memberi perhatian padanya. "Padahal dia sebenarnya anak yang baik," ujarnya.
"Baik darimananya?" Pemuda yang duduk di depan meja Iris memeluk tubuhnya dramatis. "Setiap hari aku selalu berjuang menahan aura dingin yang mencekam dari belakangku. Rasanya aku bisa mati kapan saja hanya dengan tatapan matanya itu."
"Berlebihan." Gadis yang duduk di samping Irina memberikan senyum mengejeknya pada pemuda yang masih memeluk tubuhnya dengan ekspresi ketakutan itu.
"Aku serius! Kalau tidak percaya coba saja duduk di kursiku selama sehari. Kau pasti akan merasakan aura gelap yang seakan-akan mengundangmu pada kematian."
"Jangan seperti itu." Pemuda yang menjabat sebagai ketua kelas di kelas itu memberikan tatapan memperingatkan. "Mau seperti apapun sikap Iris. Kalian tidak bisa begitu saja membicarakannya dengan buruk di depan Irina. Bagaimanapun, mereka itu saudara."
"Ah, benar." Gadis yang pertama kali memulai pembicaraan tentang Iris memberikan tatapan bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud menjelek-jelekan adikmu."
"Iya, aku juga minta maaf." Pemuda yang duduk di depan meja Iris juga menampilkan ekspresi yang sama.
Irina memberikan senyum menenangkan. "Tidak apa-apa."
*****
Irina meniupkan udara dari mulutnya. Membuat kepulan asap rokok memenuhi ruangan bilik kamar mandi yang sempit. Meskipun begitu, ia tampak tak terganggu dengan udara yang tercampur dengan asap dan kembali menghisap rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Beruntung ia selalu menyiapkan sekotak rokok di dalam tasnya untuk keadaan darurat seperti ini. Entah sejak kapan ia mulai suka seperti ini, menikmati kematian yang perlahan-lahan mendekatinya dari sebatang rokok yang kecil namun mematikan.
Sisa-sisa keringat di pelipisnya masih terlihat. Hasil dari perjuangannya menghindari Bu Amelia yang begitu kukuh mengejarnya. Ia tak menyangka, perempuan yang sudah berkepala tiga itu masih mampu mengimbangi langkah cepatnya. Bahkan saat ia berlari pun ia yakin guru muda itu masih sanggup mengejarnya.
Setelah menghisap rokoknya dalam-dalam ia kemudian berdiri dan membuka penutup Water Closet yang dari tadi didudukinya. Membuang puntung rokok yang ada di tangannya kemudian menekan tombol Flush yang seketika menghilangkan jejak puntung rokoknya tersebut.
Selanjutnya ia mengambil parfum dari dalam tasnya dan menyemprotkannya ke udara dan tubuhnya bergantian. Terakhir ia mengunyah permen karet agar bau rokok tidak terlalu tercium dari mulutnya.
Ia menutup kembali penutup Water Closet sebelum keluar dari bilik kamar mandi. Langkahnya berhenti sejenak di depan cermin sekadar mencuci tangannya dan memperbaiki penampilannya. Meskipun sebenarnya ia tahu semua hal yang ia lakukan saat ini tidak ada gunanya. Karena ia tak berniat untuk mengikuti kelas hari ini dan lebih memilih untuk membolos saja.
Saat melangkah keluar dari toilet ia tak sengaja berpapasan dengan seseorang. Seseorang yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu muncul di hadapannya tanpa diundang dan selalu sukses membuat mood-nya yang buruk semakin memburuk bahkan hanya dengan melihat wajahnya saja. Iris juga bingung dengan perasaannya itu, padahal pemuda itu sama sekali tidak pernah melakukan hal yang buruk padanya selama beberapa kali mereka bertemu.
Pemuda itu tampak terkejut melihatnya, namun sedetik kemudian ia tersenyum. Ia menilai penampilan Iris dari atas ke bawah yang mana membuat Iris semakin risih dengannya. "Bolos?"
Iris berdecak. "Bukan urusanmu." Ia berniat melewati pemuda itu begitu saja. Namun, suara pemuda itu ternyata mampu menghentikan langkahnya sejenak. Ia berhenti tanpa berbalik memandangi wajah tampan pemuda di belakang sana. Namun, tetap menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir pemuda itu.
"Namaku Alex. Sekadar informasi saja." Alex tersenyum, ia tak menyangka meski saat kesal sekali pun, gadis di depannya tetap mau mendengarkan ucapannya.
Iris menghela napas kesal sebelum kembali melangkahkan kakinya. "Aku tidak bertanya," serunya sebelum menghilang di balik tembok.
Mendapat perlakuan dingin seperti itu ternyata tidak membuat Alex sakit hati. Terbukti dengan senyuman yang masih ia tampakkan bahkan saat sosok Iris sudah menghilang dari pandangannya. Ia sendiri bingung, kenapa ia begitu penasaran dengan gadis itu yang hanya pernah ia temui beberapa kali. Berbeda dengan Irina yang memang sudah ia kenal sejak beberapa bulan yang lalu saat tak sengaja bertabrakan dengannya di koridor.
Ia memang tahu Irina memiliki saudara kembar, namun beberapa hari yang lalu adalah kali pertama ia melihat wajah gadis itu dari dekat. Keduanya benar-benar memiliki wajah yang sama persis, hanya saja bedanya Irina memiliki t**i lalat di sekitar bibirnya yang semakin menambah kecantikan wajahnya. Begitu pun dengan Iris yang tampak menawan dengan sikap apa adanya, entah kenapa sikap dingin dan kasarnya malah semakin membuat kadar kecantikannya bertambah. Terlihat sangat cocok dengan ekspresi wajahnya yang dingin tanpa dibuat-buat dan mungkin hal itulah yang membuat Alex semakin tertarik padanya.
*****