Part 4 Keegoisan Iris

1603 Kata
Suasana ruang makan yang luas itu tampak sepi meskipun sedang dihuni oleh tiga orang yang sedang menikmati makan malam bersama. Seorang laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tiga tahun beserta kedua anak kembar identiknya tampak lebih menikmati momen sepi dan senyap yang menyelimuti ketiganya. Hanya ada suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring yang menjadi irama tersendiri di sana, tidak ada canda tawa atau cerita santai yang bisa memecahkan keheningan di dalam ruangan itu. Mereka hanya sibuk dengan makanan masing-masing dan seolah-olah mengabaikan kehadiran satu sama lain. “Bagaimana sekolah kalian hari ini?” Bagas sang ayah berusaha memecahkan kekakuan di antara mereka. Hubungan ayah dan anak ternyata tak mampu merobohkan dinding pembatas di antara ketiganya yang seolah hanya berdasarkan pada status belaka. Atensinya memperhatikan satu per satu raut wajah kedua anak perempuannya yang duduk saling berhadapan, saudara kandung namun memancarkan aura permusuhan yang kuat yang mungkin hanya disadari olehnya. Irina tersenyum, jemari lentiknya yang putih halus seperti tak pernah menyentuh benda kotor meletakkan sendoknya dengan gerakan anggun dan pelan di atas piringnya. Mata sebening kristalnya memandangi wajah tampan ayahnya yang seperti tak dimakan usia, masih tampak muda dengan usia yang sudah mencapai kepala empat. “Masih sama seperti biasa, yah. Menyenangkan dengan teman-teman yang baik. Kalau soal nilai, ayah tentu tahu bagaimana prestasi kami di sekolah.” Sudut bibir Bagas melengkung ke atas mendengar penuturan anak pertamanya, anak perempuan yang menjadi kebanggaannya dengan sikap sopan dan prestasi yang luar biasanya di sekolah. Kemudian atensinya beralih pada sosok gadis cantik yang duduk di sebelah kirinya, sosok yang seolah memantulkan wajah dari Irina yang duduk berhadapan dengannya. “Bagaimana denganmu, Iris.” Berusaha mengabaikan, Iris menolak untuk menjawab apa pun meski sebenarnya kedua telinganya dengan jelas bisa mendengar pertanyaan dari sang ayah yang jarak duduk mereka tak begitu jauh. Tangan kanannya masih sibuk menyendokkan nasi ke dalam mulutnya dan menikmati makanannya dalam keheningan. Ia tak suka diganggu saat makan, apalagi menyangkut pertanyaan membosankan yang selalu ia dengar setiap malam oleh orang yang sama. Seolah jawaban yang ia berikan kemarin dan hari-hari sebelumnya tak berarti apa-apa dan tak pernah ada di mata ayahnya. “Iris.” Bagas berusaha untuk menahan dirinya agar tidak membentak anak bungsunya yang jelas sekali mengabaikan pertanyaannya. Ia sudah hapal bagaimana sikap Iris yang selalu memancing amarahnya setiap saat bahkan di saat dirinya berusaha untuk menunjukkan kasih sayangnya yang tidak berat sebelah. “Ayah sedang berbicara padamu,” ujarnya dengan nada tegas dan lugas, tak lupa dengan tatapan tajam yang sejak tadi selalu berpusat pada anak bungsunya. Iris menghela napas dengan panjang, seolah beban dan emosi yang ada di dalam tubuhnya bisa ikut keluar dengan napas yang ia hembuskan itu. “Apa ayah tidak bosan menanyakan pertanyaan yang sama setiap harinya?” Sepasang mata bulat dan jernih miliknya tak goyah saat memandangi kembali ayahnya yang jelas sekali sedang menahan dirinya saat ini. Ia tidak takut pun merasa terintimidasi bahkan jika ayahnya beranjak dari duduknya dan menyerangnya yang bisa menimbulkan luka di kulitnya, karena ia yakin ayahnya tidak akan mungkin pernah melakukan hal k**i seperti itu bagaimanapun sikapnya. Kini giliran Bagas yang menghela napasnya, berusaha menahan dirinya dari amarah yang berkecamuk di dadanya, meskipun sejak tadi bisikan-bisikan iblis jahat terngiang-ngiang di kepalanya. “Ayah hanya berusaha untuk mengobrolan dengan anak-anak ayah. Lagipula apa salahnya bagi orang tua menanyakan keseharian anaknya di sekolah? Bukankah itu lebih bagus dibandingkan ayah tidak perduli sama sekali?” “Ayah boleh bertanya pada Irina sepuasnya, jadi tolong abaikan saja keberadaanku.” Tak memperdulikan ekspresi wajah ayahnya yang perlahan-lahan berubah, Iris kembali menikmati makanannya yang kini terasa hambar dan selera makannya yang benar-benar hilang. Hatinya bergemuruh, merasa sesak karena amarahnya yang entah kenapa selalu terpancing di hadapan dua sosok menyebalkan di depannya, bahkan walau keduanya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Bagas mengeratkan pegangannya pada gagang sendok yang berada dalam genggamannya, berusaha melampiaskan emosinya melalui benda mati yang tak bersalah itu. Tatapan matanya yang tajam tak pernah beralih dari wajah anak bungsunya yang tak goyah dipandangi olehnya. “Kenapa ayah harus mengabaikanmu sementara kamu ada di hadapan ayah? Ayah punya dua anak perempuan bukan hanya satu. Apa salah jika ayah memberikan perhatian kepada semua anak ayah tanpa terkecuali?” Melihat suasana yang semakin tegang dan menambah ketidak nyamanan di antara mereka bertiga. Irina berusaha meraih tangan kanan ayahnya yang sedang menggenggam sendok dengan erat. Ia dengan jelas bisa melihat buku jari ayahnya yang memutih serta rahangnya yang mengeras. “Sudah, yah. Jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Iris. Iris hanya bercanda dan dia tidak benar-benar serius dengan ucapannya.” Tangan kanannya senantiasa mengusap punggung tangan ayahnya yang tampak mulai melemah dan luluh dengan rayuannya. “Ayo kita kembali makan sebelum makanannya dingin dan tidak enak lagi.” Bibirnya menampilkan senyuman yang menenangkan kala atensi ayahnya tertuju padanya. “Kamu benar, sayang. Silakan lanjutkan makannya.” Bagas mengangguk pelan sembari tangan kirinya memijit pangkal hidungnya demi menenangkan dirinya yang hampir di luar kendali, berhadapan dengan anak bungsunya tak pernah gagal memancing amarahnya yang selalu memuncak dan susah untuk ia kendalikan. Beruntung ia memiliki Irina di sampingnya, sosok lembut yang selalu bisa mengendalikan emosinya dan membuat suasana hatinya tenang. Iris tersenyum pongah melihat sikap lembut Irina yang terlihat palsu di matanya, terlebih saat melihat tatapan penuh sayang ayahnya pada sosok kakak kembarnya itu. Tidak ada rasa cemburu, yang ada hanya rasa jijik dan muak melihat sandiwara yang selalu ia saksikan setiap harinya. ***** Seperti biasa, saat melihat kehadirannya di sana suasana kelas yang awalnya bising itu mendadak hening. Seolah melihat monster, mereka semua kembali duduk di kursi masing-masing dan tak berani memandanginya, meski beberapa pasang mata selalu tertangkap ujung matanya memandanginya secara sembunyi-sembunyi. Mengabaikan sekitarnya ia merebahkan tubuh bagian atasnya di atas mejanya, menikmati sentuhan angin yang lembut membuai wajahnya dengan mata yang terpejam. Alunan musik lembut mengalir melalui earphone yang terpasang di kedua telinganya, namun begitu ia tetap bisa mendengarkan suara berbisik teman sekelasnya yang jelas saja sedang berbicara buruk tentangnya. Ia tidak perduli bahkan saat seorang guru masuk ke dalam kelas mereka dan memulai pelajaranya. “Siapa itu yang tidur di dalam kelas?” Iris tak bergeming mendengar pertanyaan bernada teguran untuknya dari Bu Nur yang berdiri di depan kelas. Mendadak suasana hening seketika, tidak ada yang berani untuk menjawab apalagi bertatapan dengan guru Bahasa Indonesia yang terkenal disiplin itu. mereka tentu tidak ada yang berani menyebutkan nama Iris yang seolah-olah akan memberikan kutukan pada mereka yang berani menyebut namanya tanpa seizinnya. “Ibu sedang bertanya siapa yang berani tidur di dalam kelas saat jam pelajaran? Kenapa tidak ada yang menjawab?” Wanita paruh baya dengan wajah tegas dan bibir merahnya itu menatap satu per satu wajah siswanya yang hanya menundukkan kepalanya, sementara yang menjadi objek pertanyaannya tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Tatapan Bu Nur terhenti pada sang ketua kelas yang tampak gugup dan berusaha mengalihkan pandangan darinya. “Bian, kamu tahu tugasmu sebagai ketua kelas adalah untuk menertibkan teman-temanmu. Tapi kenapa kamu tidak menegur temanmu yang tertidur di dalam kelas bahkan saat guru sudah datang? apa kehadiran ibu di sini tidak ada artinya bagi kalian?” Bian merasa tertampar saat mendengar pertanyaan bernada amarah dari guru di depannya. Ia sadar akan kewajibannya namun ia benar-benar benci jika harus berhadapan dengan sosok dingin dan selalu mengeluarkan aura permusuhan yang masih tertidur di dalam kelas. Matanya perlahan memandangi Bu Nur yang masih memusatkan perhatian padanya. “Maafkan saya, Bu. Akan saya bangunkan sekarang,” ujarnya pasrah dan dengan langkah gontai ia menghampiri meja Iris di mana gadis dingin itu memang duduk sendirian karena tidak ada satu pun siswa yang mau duduk bersamanya. Tangan kanannya dengan ragu terangkat untuk menyentuh pundak Iris sambil berharap dalam hati agar gadis itu tidak melakukan perlawanan dan membuat keributan yang tentunya akan semakin memancing amarah wanita paruh baya yang masih terus memandanginya, seolah-olah ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa ia melakukan pekerjaannya dengan benar kali ini. “Biar aku saja, Yan.” Irina muncul di hadapannya bagaikan sosok pahlawan yang sangat ia nantikan kehadirannya. Tentunya hal itu membuat kelegaan tersendiri di dalam d**a Bian yang tak perlu mengorbankan nyawa untuk membangunkan sosok mengerikan yang sewaktu-waktu akan mengamuk dan membuat keributan di kelas merekaa. Dan dengan senyum penuh kelegaan ia berterima kasih dengan tulus pada Irina yang hanya membalasnya dengan senyum manis yang menenangkan jiwa. Irina menyentuh pundak Iris dengan lembut dan menggoyang-goyangkannya pelan untuk membawa kembali adik bungsunya itu pada kesadarannya. “Bangun, Iris. Sudah ada ibu Nur di depan. Jam pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu.” Suaranya yang indah mengalun dengan lembut menyapu indera pendengaran Iris yang merasa risih dan terganggu, suara yang sangat ia benci dan dengan susah payah selalu berusaha ia abaikan. Iris membuka matanya dan menegakkan tubuhnya, mengaku kalah tanpa mengibarkan bendera putih atau ucapan kekalahan sedikit pun. Matanya dengan tajam dan intens menatap pada Irina yang masih memamerkan senyumnya yang tentu saja menjijikkan di matanya. Ia melepaskan earphone yang masih terpasang di kedua telinganya sebelum menyilangkan kedua tangannya di d**a dan beralih menatap lurus pada Bu Nur di depan kelas. Tidak ada perasaan bersalah atau ucapan permintaan maaf darinya sedikit pun untuk wanita paruh baya yang berjasa memberikan ilmu kepada mereka, dan tentunya sosok yang harus mereka hormati sepenuh hati. Melihat pekerjaannya telah usai, Bian berjalan kembali ke tempat duduknya yang berada persis di depan meja guru, tak ingin terlibat dengan Iris yang tentunya hanya akan memberikan pengalaman buruk untuknya. Ia menganggukkan kepalanya dengan canggung di hadapan Bu Nur sebelum kembali duduk di kursinya dengan perasaan tidak tenang, apalagi jika melihat raut wajah perempuan paruh baya itu yang masih memandangi tajam sosok Iris yang kini sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN