Part 5 Sisi lain dari Iris

1608 Kata
Alex melambaikan tangannya dengan senyuman saat beberapa pemuda yang merupakan teman sekelasnya berpamitan padanya. Senyumnya masih belum pudar kala kembali pada kegiatan yang ia sedang lakukan. Tangan kanannya dengan tenang menghapus setiap tulisan yang terdapat di papan tulis, sementara dua orang siswi lainnya sedang menyapu lantai yang kotor dibantu oleh seorang pemuda yang bertugas untuk membuang sampah. Kebetulan hari ini memang adalah jadwal piketnya bersama ketiga temannya yang lain sehingga dirinya harus menunda waktu beberapa menit sebelum pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari sekolah. Bukan karena ada yang sedang menunggunya pun ada yang ingin ia kerjakan di rumah saat ini, namun ia hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya dan menikmati waktu bersantai di sana. Senyumnya tampak puas saat melihat pekerjaan terakhirnya sudah selesai yang menandakan bahwa tugasnya di sana sudah usai pula. Ia menoleh pada pemuda yang baru kembali dari tempat pembuangan sampah di belakang sekolah. “Masih ada yang perlu aku bantu?” tanyanya lebih kepada setiap orang yang masih berada di ruangan yang sama dengannya. Pemuda yang tubuhnya lebih pendek darinya yang masih memegang tempat sampah di tangannya menggeleng pelan. “Sepertinya sudah selesai.” Matanya beralih pada dua gadis cantik yang juga sudah menyelesaikan tugas mereka saat itu. hanya dengan tatapan mata tanpa mengutarakan apa pun gadis yang ditatapnya langsung bisa menangkap arti tatapan dalam kebisuannya itu. Gadis dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu menatap pada Alex yang masih setia berdiri di depan papan tulis, ia bisa melihat bagaiamana pemuda tinggi dan tampan itu berusaha menahan dirinya agar tidak berlari keluar kelas saat ini. Lagipula tidak ada siswa yang suka saat waktu pulang mereka harus tertunda demi membersihkan ruang kelas yang akan kembali kotor di pagi harinya. “Sudah selesai, kalian boleh pulang sekarang.” Alex bersorak dalam hati, namun berusaha menahan rasa gembiranya dengan senyum simpulnya. Ia merasa sangat beruntung bekerja sama dengan teman-teman yang bertanggung jawab seperti hari ini yang benar-benar mengerjakan dan menuntaskan pekerjaan mereka dengan benar. Sehingga ia tidak perlu menunda waktu pulang lebih lama hanya untuk tetap tinggal di kelas dan menyelesaikan pekerjaan yang bukan miliknya. Dengan kaki jenjangnya ia melangkah menuju mejanya yang berada dua baris dari belakang di sebelah jendela, mengambil ranselnya dan menatap satu per satu wajah ketiga temannya yang juga melakukan hal yang sama dengannya. “Kalau begitu aku pulang dulu, sampai bertemu besok.” Ia tersenyum sebelum melangkah keluar kelas dengan wajah ceria. “Lagi-lagi kau melewatkan kesempatan emas ini, Nda.” Gadis dengan rambut pendek sebahu memperhatikan kepergian pemuda yang baru saja meninggalkan kelas mereka. Ia menyerahkan tas selempang milik gadis berkacamata yang tetap cantik dengan pesonanya itu dengan senyuman. Gadis yang bernama Dinda menerima tasnya dari sahabat dekatnya itu dengan senyum tipisnya. “Terima kasih, Mel.” Menyadari kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kelas, keduanya bersama-sama jalan beriringan keluar dari kelas dan menyerahkan pada Pak Budi yang merupakan satpam di sana untuk mengunci kelas mereka nantinya. “Aku bukannya melewatkan kesempatan, tapi hanya sadar diri.” Setelah lama terdiam yang membuat Melani beranggapan bahwa sahabatnya itu enggan atau berusaha untuk menghindari topic yang berhubungan dengan Alex, pemuda yang sudah ia sukai sejak mereka menjadi siswa baru di sekolah itu. Melani mengangat alisnya, merasa tidak bisa menangkap maksud dari ucapan yang keluar dari bibir sahabatnya itu. “Sadar diri?” tanyanya berusaha mendapatkan jawaban yang memuaskan dari rasa penasarannya itu, mereka kini sudah hampir sampai di pintu gerbang yang sudah lumayan sepi. Dinda tersenyum. “Benar, sadar diri karena aku tahu ada yang lebih pantas berada di sampingnya dari pada aku yang bukan siapa-siapa.” “Irina maksudmu?” tebak Melani yang tepat sasaran. Ia tak mengucapkan apa pun lagi saat sahabatnya itu hanya mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. ***** Alex tidak bisa menahan rasa penasarannya saat matanya menangkap sosok tak asing di matanya sedang berjalan sendirian menuju belakang sekolah. Wajah yang mirip dengan Irina teman dekatnya namun memiliki ciri-ciri dan penampilan yang jelas sangat berbeda hingga orang-orang yang tak begitu mengenali keduanya pun akan dapat dengan mudah membedakan keduanya. Irina dengan tampilan anggunnya sedangkan Iris dengan tampilan apa adanya yang lebih menyukai ornamen-ornamen tengkorak serba hitam yang semakin menambah kesuramannya. Kakinya segera membawanya mengikuti langkah Iris yang tampak belum sadar telah diikuti olehnya. Gadis cantik itu tampak santai dan Alex bisa merasakan auranya yang sedikit berbeda saat ini, tidak seperti dirinya biasanya yang selalu memancarkan aura permusuhan yang kuat pada siapa pun yang berusaha dekat dengannya. Ia segera menyembunyikan tubuh tingginya di balik tembok saat melihat langkah gadis itu yang berhenti di depan semak-semak, berjongkok di sana sambil mengambil sesuatu dari dalam ranselnya yang bisa dilihat dengan jelas oleh Alex. “Makanan kucing?” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana sosok dingin dan seolah tak berperasaan seperti Iris akan membawa beberapa bungkus makanan kucing ke sekolah yang entah untuk keperluan apa. Namun ia segera mendapatkan jawabannya saat melihat Iris memanggil dengan lembut beberapa ekor anak kucing yang akhirnya muncul dari balik semak-semak. Bibirnya melengkung ke atas melihat wajah ceria gadis cantik di depan sana yang menyambut kedatangan tiga ekor anak kucing di hadapannya. “Hai, sayang. Apa kalian merindukanku?” Iris memulai dialognya yang tentunya hanya bisa dimengerti olehnya, anak kucing di hadapannya jelas hanya memikirkan tentang perut mereka dan lahap memakan makanan basah berbahan dasar ikan tuna yang tentunya menyegarkan di tenggorokan mereka yang kelaparan. Iris tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengelus bulu anak kucing di depannya yang terasa halus meskipun mereka tidak memiliki rumah dan hanya bersembunyi di balik semak-semak belakang sekolah yang untungnya jarang dikunjungi oleh orang-orang. “Di mana ibu kalian?” Matanya berpencar mencari-cari keberadaan sang induk kucing yang hari-hari sebelumnya selalu ia dapatkan berada di sana dan menikmati makanan yang ia bawa bersama ketiga anaknya, namun kali ia tidak ada di sana dan cukup membuatnya khawatir. Alex harus menyembunyikan tubuhnya lebih baik saat Iris menoleh ke tempatnya, bukan karena menyadari kehadirannya di sana tentunya, namun hanya sedang mencari keberadaan induk kucing yang belum menampakkan dirinya di sana sejak kemunculannya. “Mungkin sedang mencari makan.” Iris berusaha untuk tetap berpikiran positif dan kembali memandangi ketiga anak kucing yang tampak sesekali berebutan makanan padahal mereka sudah diberikan porsi dan tempat masing-masing agar bisa menikmati makanan tanpa mengganggu satu sama lain. Ia tertawa berusaha melerai perkelahian antar saudara yang terlihat lucu di matanya. “Jangan bertengkar, kalian ‘kan sudah mendapatkan bagian masing-masing.” Suara kucing yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat tubuh Alex tersentak kaget, ia bahkan hampir saja melompat keluar dari persembunyiannya dan membuat Iris menyadari keberadaannya di sana. Ia mengusap dadanya dengan perasaan lega melihat induk kucing yang memiliki warna bulu yang sama dengan anak kucing di hadapan Iris. Ia meletakkan telunjuknya di depan bibirnya berusaha membuat kucing di depannya agar diam dan tidak terus mengeluarkan suaranya. Induk kucing itu sesekali mengeluskan tubuh gemuknya di kakinya yang membuatnya tidak tahan untuk mengelus bulunya yang terasa halus dan lembut. “Mimi, apa itu kamu?” Mendengar suara Iris yang mulai mendekat ke arahnya, Alex dengan gerakan refleks langsung mengangkat tubuh besar induk kucing dan membuatnya melompat ke hadapan Iris agar gadis cantik itu tidak berjalan semakin mendekat. Menyadari langkah Iris yang terhenti, Alex segera mengambil kesempatan untuk berlari dari sana. Ia tentu tidak akan bisa terus-terusan berada di sana yang hanya akan membuat Iris menyadari keberadaannya. Iris berjongkok di hadapan induk kucing yang ia beri nama Mimi itu dan mengelus kepalanya dengan lembut. “Di sini kau rupanya.” Ia tersenyum, merasa lega karena induk kucing itu baik-baik saja dan tidak terdapat luka sedikit pun. Kemudian matanya beralih pada tempat persembunyian Alex yang sudah tidak ada tanda-tanda kehadiran orang di sana, ia tidak tahu siapa yang habis bersembunyi di sana, namun ia sadar bahwa seseorang sejak tadi mengawasinya dalam diam. ***** “Sepertinya anak ibu sedang jatuh cinta.” Wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makan malam di atas meja makan memandangi anak laki-laki satu-satunya yang sedang memandangi layar ponselnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Bibirnya tersenyum melihat wajah bahagia anaknya yang lumayan sering ia lihat beberapa hari belakangan ini. Alex yang menyadari bahwa ibunya memperhatikannya sejak tadi segera mematikan ponsel pintarnya itu dan menaruhnya di samping piringnya yang baru saja diisi oleh nasi dan lauk oleh ibunya. “Terima kasih, Bu.” “Siapa yang sedang jatuh cinta?” Suara berat ayahnya yang baru saja memasuki area dapur yang luasnya minimalis itu membuat Alex dan ibunya segera memusatkan perhatian padanya. Tamara tersenyum menyambut kedatangan suaminya dan segera menyiapkan makanan untuk laki-laki yang sangat dicintainya itu. “Anak kita, yah. Dari tadi senyum-senyum memandangi ponselnya, sepertinya fofo perempuan." “Siapa yang melihat foto perempuan, Bu?” Alex berusaha mengelak, merasa malu tertangkap basah oleh ibunya sedang memandangi foto Iris yang diam-diam ia ambil di belakang sekolah tadi, meskipun hanya memperlihatkan foto wajah Iris dari samping dan dalam jarak yang lumayan jauh. “Itu tadi buktinya ibu lihat kamu lagi fokus melihat foto perempuan dari sekolahmu. Siapa namanya?” Reihan tertawa melihat wajah canggung putra semata wayangnya itu. Ia tidak sadar sejak kapan anaknya itu tumbuh dewasa dan sudah bisa merasakan cinta. Karena kesibukannya di kantor yang selalu menyita waktunya dan hanya bisa hadir di rumah pada malam hari membuatnya tak bisa leluasa berkumpul dengan keluarga yang sangat ia sayangi itu. “Sudahlah, jangan menggodanya lagi. Jangan sampai ada yang menangis malam-malam nantinya.” Alex memutar matanya mendengar ucapan ayahnya yang seolah mengejek dirinya dengan menganggapnya seperti anak kecil. “Aku bukan anak kecil lagi, yah,” protesnya yang tentunya hanya mendapatkan gelak tawa dari kedua orang tuanya, namun begitu hatinya merasa hangat melihat kebersamaan keluarga kecilnya yang terasa hangat dan nyaman. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN