92

1264 Kata

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Victoria duduk di meja makan dengan semangkuk sereal yang hampir tidak tersentuh. Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur, menerangi wajahnya yang tampak lelah tapi tetap terlihat tenang. Dia baru saja menyesap kopi ketika suara kursi ditarik cukup keras terdengar di hadapannya. Bena duduk dengan tatapan menyelidik. “Vic,” ucapnya tanpa basa-basi, “pulang jam berapa semalam?” Victoria menghela napas pelan. Dia sudah menduga ini akan datang. Bena bukan tipe yang mudah dilewati begitu saja, apalagi jika menyangkut orang yang dia pedulikan. “Lumayan malam,” jawab Victoria ringan. “Jam berapa?” Victoria mengangkat alis. “Interogasi, ya?” “Iya.” Bena menyilangkan tangan. “Karena kemarin kau bilang cuma sebentar, tapi kau mematikan ponsel,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN