Apartemen mewah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Tempat yang selama ini dikenal publik sebagai hunian Alex dan Rana kini dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Rana berdiri di ruang tengah, kedua tangannya terlipat di d**a, matanya menyala oleh amarah yang sudah lama dia tahan. “Aku dengar kamu pergi dengannya,” katanya tanpa basa-basi. “Beberapa hari lalu. Sampai menginap.” Alex berdiri tak jauh darinya, jasnya masih tergantung rapi di bahu kursi. Wajahnya datar, hampir tanpa ekspresi, dan dia tidak menyangkal tapi juga tidak juga membenarkan. Diamnya justru membuat Rana semakin tersulut. “Jawab aku, Alex!” suaranya meninggi. “Apa benar kamu menginap dengan Victoria?” Alex mengembuskan napas panjang, mencoba tetap tenang. “Rana—” “Apa yang sebenarnya terjadi?” potong

