Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Kalla berdiri santai, satu tangan memegang ponsel, sementara Victoria bersandar ringan pada dinding lift, pandangannya lurus ke depan. Suara dengung mesin lift menjadi satu-satunya pengisi ruang sempit itu. “Kamu beneran niat nggak makan?” tanya Kalla memecah hening. “Niat,” jawab Victoria singkat. “Kalau nggak, aku nggak bakal ikut turun.” Kalla meliriknya sekilas, lalu mengangguk. “Bagus. Bena udah kelaparan.” Lift berhenti di lobi. Pintu terbuka perlahan, dan di situlah Victoria melihatnya. Rana berdiri tak jauh dari pintu lift, mengenakan pakaian rapi berwarna lembut, rambutnya tertata sederhana. Di tangannya ada tas kecil, dan di wajahnya terlukis senyum ramah yang langsung menyapa siapa pun yang melintas. Beberapa karyawan menyapanya lebih

