84

1195 Kata

Di dalam ruangannya, Alex masih menatap layar laptop ketika pintu terbuka tanpa banyak basa-basi. Dia mendongak untuk memastikan siapa yang datang dengan tidak sopannya. Rana berdiri di ambang pintu dengan senyum yang terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Rambutnya tersisir rapi, pakaiannya lembut dipandang, seolah dia memang sengaja menyiapkan diri untuk muncul di sana. “Aku harap aku nggak ganggu,” kata Rana ringan, melangkah masuk. “Aku cuma mau ngajak kamu makan.” Alex menutup laptopnya perlahan. Bukan karena setuju, tapi karena dia tahu menolak sekarang hanya akan membuat percakapan ini lebih panjang. “Kamu nggak buat janji,” jawab Alex datar. Rana tertawa kecil, lalu mendekat ke meja. “Sejak kapan aku harus janji buat makan sama suamiku sendiri?” Kata suami itu membuat rahang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN