Victoria berdiri di luar restoran, tepat di area yang agak sepi, tempat lampu kota memantul di kaca-kaca gedung. Dia menyandarkan punggung ke dinding, menghela napas pelan sebelum mengeluarkan ponselnya. “Aku mau telepon sebentar,” katanya tadi singkat. Bena hanya mengangguk. “Jangan lama-lama. Makanannya masih banyak.” Kalla bahkan tidak menoleh, sibuk mengaduk minumannya. Tidak ada yang curiga. Namun begitu layar ponselnya menyala dan nama Alex muncul di kolom pencarian, d**a Victoria kembali terasa ditekan sesuatu yang tak kasatmata. Rasa tidak nyaman itu tidak keras, justru pelan, merayap, dan membuatnya gelisah. “Ini konyol,” gumamnya lirih, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar sekali, dua kali. “Vic,” suara Alex akhirnya masuk. Rendah, dan terlalu tenang. Vict

