Bab 9

1256 Kata
Victoria menatap pintu yang menjadi sekat antara dirinya dan sang bos baru di dalam ruangan itu. Dia menarik napas dalam untuk kesekian kalinya dan membuangnya perlahan. Tubuhnya tegang teringat dengan apa yang dilakukan oleh Alex tadi di pertemuan pertama sebagai bos. Pintu ruang direktur terbuka setelah tiga ketukan ringan. Suara derit engselnya terdengar lembut, tapi cukup membuat Victoria sedikit menelan ludah. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur samar dengan wangi maskulin yang memenuhi ruangan, aromanya khas, elegan dan mahal. Alex berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke kota Kinlope. Tangannya bersedekap di belakang punggung, dan setelan hitamnya sempurna di tubuhnya. Bayangan tubuh tinggi itu terpantul di kaca, dingin, angkuh, tak tersentuh. “Masuk,” suaranya dalam, tenang, tapi membuat nadi Victoria berdenyut sedikit lebih cepat. Victoria melangkah masuk dengan hati-hati, nampan di tangannya bergetar halus. Dia menatap sekilas punggung pria itu, lalu menaruh cangkir kopi titipan Bella di meja kerja besar dari kayu oak. “Ini kopinya, Direktur,” katanya pelan, mencoba terdengar biasa. Alex menoleh perlahan, matanya tajam menatap Victoria dari atas ke bawah. Pandangan itu seperti membedah lapisan wajahnya, mencari sesuatu yang tak diucapkan. “Bella sedang sibuk?” tanyanya tanpa nada hangat, hanya datar, tapi tetap mengandung tekanan. Victoria menelan ludah kecil. “Dia, sepertinya ada perlu ke belakang. Menitipkan ini pada saya,” katanya. “Ada perlu?” Alex mengulang kata itu sambil berjalan mendekat. Suara langkah sepatunya terdengar pelan namun berat di ruangan itu. Victoria sedikit menunduk, berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang. Tapi begitu Alex sudah berdiri di depannya, cukup dekat untuk mencium aroma lembut parfumnya, pikirannya sempat kosong sesaat. “Lalu kau tidak keberatan membawa kopi untukku?” tanya Alex lagi, kali ini dengan nada rendah, seperti sedang menguji sesuatu. Victoria menatap mata itu, tajam, gelap, namun ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuatnya sulit menolak. Dia mencoba tersenyum tipis, meski gugup. “Tidak, Tuan. Lagipula, hanya secangkir kopi. Sekalian aja saya mengantarkannya.” Victoria menjawab dengan sedikit tercekat. Alex menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Keheningan itu membuat Victoria ingin mundur satu langkah, tapi tubuhnya seakan terkunci di tempat. Lalu, dia menyentuh sisi cangkir yang baru saja diletakkan Victoria di meja. “Hm,” gumamnya datar. “Kupikir kau tipe yang terlalu sibuk untuk sekadar mengantarkan kopi, Victoria.” Nada suaranya mengandung sindiran yang lembut, tapi menusuk. Victoria tersentak kecil. “Saya hanya—” “Menurut?” potong Alex cepat, suaranya dingin namun tidak keras. Tatapan mereka beradu, dan Victoria tahu tidak ada jawaban aman untuk itu. Alex mengambil cangkirnya, menyesap perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari Victoria yang berdiri kaku di tempatnya. “Rasanya masih sama,” katanya akhirnya. “Pahit. Tapi tidak basi.” Victoria tidak tahu apakah itu komentar tentang kopinya, atau tentang dirinya. Yah, bukankah perubahannya kentara sekali saat Victoria tidak berhadapan dengan Alex, dan saat dia berhadapan dengan pria itu. Seolah, semua tentang dirinya terbatasi di dalam. “Baiklah,” ucap Alex pelan sambil menaruh cangkir kembali. “Sekarang, jelaskan padaku kenapa laporan keuangan proyek ‘Eden-4’ belum diserahkan ke meja direksi sampai pagi ini?” Dia mengalihkan topik, dan memilih mundur dari hadapan Victoria lantas kembali ke mejanya. Nada itu berubah. Tidak lagi menilai, tapi memerintah. Victoria tanpa sempat menarik napas panjang, tahu bahwa permainan kuasa itu baru saja dimulai. Victoria menarik napas perlahan sebelum menjawab, menatap berkas-berkas di tangan kirinya untuk mengalihkan rasa gugup yang sempat muncul. “Laporan keuangan sudah hampir selesai. Kami menunggu pencairan dana tahap kedua dari divisi finance, jadi—” “Menunggu?” potong Alex, nada suaranya dingin tapi terkendali. “Itu alasan klasik dari setiap proyek yang tersendat, Victoria.” Dia kembali berdiri dari duduknya, melangkah memutar meja besar itu dan berdiri di sisi berlawanan, berjarak hanya beberapa langkah dari Victoria. Cahaya matahari dari jendela besar jatuh di wajahnya, mempertegas garis rahang dan sorot matanya yang tegas. “Saya tidak menunggu,” Victoria mencoba mempertahankan ketenangannya. “Saya sudah ajukan permintaan follow-up dua kali, dan kalau sampai siang nanti belum ada kabar, saya berencana—” “Berencana?” Alex menatapnya lurus. “Kau tahu berapa banyak proyek lain yang juga ‘berencana’? Semua orang di sini punya rencana, Victoria. Tapi hanya sedikit yang mengeksekusi.” Nada suaranya tajam namun tetap tenang, seperti pisau yang diselipkan di balik senyum halus. Victoria menggenggam ujung berkasnya lebih erat. “Saya sudah mengeksekusi sebisa saya. Bahkan saya menalangi sementara biaya pengiriman material minggu lalu supaya pekerjaan di lapangan tidak berhenti.” Kali ini nada suaranya sedikit meninggi, bukan karena berani, tapi karena tertekan dan tidak terima dengan apa yang Alex katakan seolah dia banyak beralasan. Alex terdiam sesaat. Ada perubahan tipis di wajahnya, semacam ketertarikan samar di balik tatapan dingin itu. “Menalangi dengan uangmu sendiri?” tanyanya, sedikit miringkan kepala. Victoria mengangguk singkat. “Hanya untuk sementara. Saya tidak mau tim saya terhambat hanya karena sistem pembayaran lambat,” katanya lagi “Berani juga kau,” gumam Alex rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Dia menatap cangkir kopinya sekilas sebelum kembali menatap Victoria. “Tapi tindakan gegabah seperti itu bisa dianggap melanggar kebijakan perusahaan, kau tahu?” Kata-kata itu membuat Victoria menegang. Dia tidak sadar dirinya menahan napas. “Ma—maksud saya hanya ingin memastikan proyek tidak berhenti, Direktur.” Dia menjawab tergagap. Sial, kemana keberaniannya pergi? Padahal biasanya dia selalu bisa menjawab dengan tenang. Alex menatapnya lama, hingga suasana di ruangan terasa padat oleh keheningan. Lalu bibirnya bergerak perlahan, nada suaranya lebih pelan namun menusuk. “Jadi kau mengambil resiko besar malam itu, demi reputasimu?” Sebelah alisnya terangkat, mulai paham alasan Victoria ada di rumah gelap itu. Victoria terdiam. Dia ingin menjawab “demi tim,” tapi kata itu terasa tidak cukup jujur. Pada akhirnya, dia hanya diam, menunduk. Dia berkata pelan, “Demi tanggung jawab saya.” Alex berjalan pelan ke sisi meja, berhenti tepat di hadapannya. Dia menatap Victoria seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tegas itu. “Demi tanggung jawab?” ulangnya lirih, nada suaranya dalam, sedikit berat. “Atau demi seseorang yang tidak boleh tahu keadaanmu sebenarnya?” tambahnya, menebak. Tapi seulas senyum tipis tercetak di bibirnya seakan mengejek Victoria yang tampak kacau. Victoria tertegun. Dia tahu arah sindiran itu. Alex selalu tahu lebih banyak daripada yang terlihat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Dia menatap lurus ke pria itu, mencoba mempertahankan wibawanya. “Saya tidak punya alasan pribadi, Dir. Semua demi pekerjaan.” Dia meralatnya kemudian. Walau tahu itu hanya akan percuma saja. Alex menunduk sedikit, nyaris tersenyum lebar tanpa benar-benar melakukannya. “Kau pandai berbohong, Victoria.” Dia lalu melangkah menjauh, menatap pemandangan kota lagi di luar jendela. “Tapi aku lebih pandai membaca,” katanya masih bisa didengar oleh Victoria Suara detik jam di dinding terdengar jelas di antara keheningan. Victoria berdiri tegak, menahan gejolak di dadanya, mencoba tetap terlihat profesional meski tatapan pria itu membuatnya sulit berpikir jernih. Alex menatap ke arahnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tenang, tapi tetap mengandung kekuasaan. “Keluar. Kirimkan laporan final sebelum jam dua belas. Dan Victoria.” Dia berhenti sejenak. “Jangan pernah pakai uang pribadimu untuk menutup kekacauan perusahaan ini lagi. Kalau butuh sesuatu, temui aku dulu.” Kata “temui aku dulu” bukan sekadar instruksi. Itu terdengar seperti peringatan, sekaligus undangan. Victoria hanya mengangguk, menatap meja sejenak sebelum melangkah mundur dan keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup, napasnya baru terlepas pelan. Dia tidak tahu yang lebih menegangkan, tekanan dari pekerjaannya, atau tatapan dari pria yang kini memegang setiap sisi kehidupannya dengan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN