Anggur itu mulai bekerja pelan. Bukan membuat Victoria kehilangan kesadaran, tidak. Kepalanya masih jernih. Dia tahu di mana dia berada, tahu siapa yang ada di depannya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia terima, kenyataan. “Kasi lagi,” katanya sambil menggeser gelas kosong ke arah Alex. Alex menggeleng tegas. “Cukup,” katanya tegas. Victoria tertawa kecil. “Aku belum apa-apa.” “Kau sudah cukup,” ulang Alex, nada suaranya tidak naik, tapi jelas final. Victoria menatapnya beberapa detik. Tatapannya dingin, terluka. Lalu tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur. “Vic,” panggil Alex, langsung berdiri. Terlambat. Botol anggur itu ada di atas meja dapur. Victoria meraihnya, membuka tutupnya, lalu menenggak langsung tanpa gelas, tegukan panjang yang putus as

