Sentuhan kulit yang bertemu tanpa penghalang seolah menyulut api di ruangan yang tadinya dingin itu. Alex, yang kini telah kehilangan seluruh sikap formalnya, merengkuh pinggang Victoria dengan posesif, menarik tubuh gadis itu agar tidak ada celah sedikit pun di antara mereka. Ciuman mereka tidak lagi lembut, itu adalah perpaduan antara rasa lapar dan pengakuan. Lidah mereka saling membelit, menciptakan irama yang menuntut. Victoria memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan seluruh inderanya terfokus pada aroma maskulin Alex dan sensasi kasar namun protektif dari tangan pria itu. Tangan Alex bergerak perlahan ke punggung Victoria, mencari pengait baju kerjanya. Dengan ketangkasan yang membuat jantung Victoria berdegup lebih kencang, dia berhasil membuka kaitan tersebut. Perlahan, Alex m

