62

1217 Kata

Alex hendak menunduk, jaraknya sudah terlalu dekat. Victoria bisa merasakan niat itu bahkan sebelum bibir pria itu bergerak. Refleks, dia memalingkan wajah. Ciuman yang seharusnya jatuh di bibirnya berhenti di udara, tidak menyentuh kulit, tidak meninggalkan jejak apa pun selain keheningan yang canggung. Pada detik yang sama, bel pintu berbunyi. Suara itu memecah suasana dengan tajam. Alex menoleh lebih dulu ke arah pintu, rahangnya mengeras seolah kembali menarik dirinya ke dunia nyata. Victoria ikut menoleh, jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena hampir dicium, atau karena rasa lega yang datang bersamaan dengan interupsi itu. Alex melepaskannya sepenuhnya, lalu berjalan meninggalkan dapur. Dia melewati sofa yang berada di ruang tengah, ruang luas yang menyatu dengan dapur dan m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN