72

1309 Kata

Victoria baru menyadari waktu ketika baterai laptopnya berkurang satu bar. Angin siang berembus pelan, cukup dingin untuk membuat pikirannya jernih. Atap gedung itu sepi, hanya suara kota yang samar dari kejauhan. Dia duduk di dekat area berteduh, laptop di pangkuan, headphone menggantung di leher. “Pantas tidak ada di meja.” Suara itu membuat jemarinya berhenti. Victoria mendongak perlahan. Alex berdiri beberapa langkah darinya, jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku. “Ini area terbatas,” kata Victoria datar. Alex melirik sekeliling. “Aku tahu.” “Terus?” “Aku mencarimu.” Victoria kembali menatap layar. “Aku tidak hilang.” Alex mendekat, berhenti tepat di depannya. “Kau bolos.” “Aku tetap kerja,” sahut Victoria tanpa melihatnya. “Yang bedanya cuma lokasinya.” A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN