Victoria sedang menatap layar laptopnya ketika ponsel di samping keyboard bergetar. Dia sempat mengabaikannya. Fokusnya baru saja kembali rapi setelah beberapa hari terakhir terasa lebih tenang dari biasanya. Masalah ayahnya sudah dia urus. Uang sudah ditransfer. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan, begitu pikirnya. Namun layar ponsel terus menyala. Nama Ibu muncul. Victoria menghela napas, lalu mengangkatnya. “Ada apa?” tanyanya singkat tanpa basa basi. “Kamu ke mana saja?” suara ibu tirinya terdengar tajam. “Kenapa tidak pulang ke rumah?” Victoria menahan diri. “Aku sibuk kerja. Ayah juga sudah aku urus. Uangnya sudah masuk.” “Uang bukan masalahnya!” bentak wanita itu. “Kamu tidak datang, jadi kami yang mengambil keputusan.” Victoria menegakkan punggung. “Keputusan apa?” Dahi

