Keheningan di ruangan itu terasa menekan. Semua mata masih tertuju pada Alex dan Victoria yang berdiri di tengah, terlalu mencolok, terlalu berani. Alex melangkah satu langkah ke depan. Genggamannya pada tangan Victoria tidak terlepas, justru semakin mantap. “Perkenalkan,” ucapnya tenang, suaranya jelas menggema di seluruh ruangan. “Ini Victoria.” Beberapa orang saling pandang. Namun Alex belum selesai. “Dia … wanita saya.” Kalimat itu jatuh seperti ledakan kecil. Riuh langsung pecah. “Apa maksudmu?” salah satu anggota keluarga bersuara. “Di depan semua orang?” yang lain menyusul. “Alex, ini bukan tempat untuk—” “Cukup!” suara ibunya Tian memotong, berdiri dengan anggun tapi wajahnya jelas tidak senang. “Kau membawa wanita ini ke hadapan keluarga, setelah semua yang terjadi?” Tata

