Victoria terdiam. Jari-jarinya menggenggam ujung gaun yang masih dia kenakan, sedikit bergetar tanpa bisa dia kendalikan. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan semua yang berdesakan di dadanya, takut, lega, bingung, dan sesuatu yang lebih dalam. Di depannya, Alex berdiri diam, terlalu diam yang mencekam. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dari wajah Victoria. Rahangnya mengeras, napasnya berat tapi tertahan. Aura yang dia pancarkan membuat udara di sekitar terasa menekan, dingin, tajam, dan sulit ditebak. Victoria menelan ludah. Dia ingin bicara, ingin mengatakan sesuatu, apa saja untuk memecah keheningan yang membuatnya semakin gugup. Namun tidak ada kata yang keluar. Tanpa banyak bicara, Alex akhirnya berbalik. “Ikut aku.” Hanya itu. Nada suaranya rendah, datar, tapi tidak bi

