“Turun,” suara ibu tirinya mengulangi, terdengar dingin. Tali di pergelangan tangannya ditarik sedikit. Victoria membuka mata, dan seketika dia mengernyit. Ini bukan gereja. Gedung besar itu jelas sebuah ballroom pernikahan mewah. Dekorasi putih dan emas memenuhi ruangan, bunga-bunga segar tersusun rapi, kursi-kursi tertata seperti siap menyambut tamu. Tapi tidak ada musik. Tidak ada tamu. Tidak ada suasana sakral. Yang ada keheningan yang aneh dan orang-orang berpakaian hitam berdiri di beberapa sudut ruangan. Victoria melangkah turun dari mobil, matanya menyapu sekitar. Ada sesuatu yang tidak beres, sangat tidak beres. Langkahnya terhenti ketika dia melihat dua sosok berdiri di tengah ruangan. Alex, dan seorang wanita elegan di sampingnya. Wanita itu berdiri dengan anggun, mengenak

