Victoria duduk diam di depan cermin besar itu. Lampu-lampu di sekeliling bingkai menyala terang, memantulkan bayangan dirinya yang nyaris tidak dia kenali. Gaun yang dikenakannya terlalu indah untuk situasi seperti ini, putih bersih, jatuh sempurna di tubuhnya, dengan detail halus yang seharusnya hanya dikenakan oleh seseorang yang benar-benar ingin menikah, bukan seseorang yang dipaksa. Di belakangnya, dua orang perias sibuk merapikan rambutnya, menyematkan aksesori satu per satu. Tangan mereka cekatan, seolah ini hanyalah pekerjaan biasa. Bagi mereka, mungkin memang begitu. Tapi bagi Victoria, setiap sentuhan terasa seperti mengikatnya lebih kuat. Dia tidak bisa melawan. Bukan karena tidak mampu, tapi karena dia tahu, di rumah ini, kekuasaan bukan ada di tangannya. Ibu tirinya sudah m

