Alfin terlihat kurang bersemangat belakangan ini. Wajah tampannya tampak kusut dan lelah seolah tengah memikul beban yang berat. Sesekali ia tampak melamun dengan tatapan kosong. Tak jarang juga ia menangis tak jelas. Sebenarnya bukan masalah pekerjaan yang mengganggu pikiran dan jiwanya, karena urusan yang satu ini Alfin semakin jago. Berbagai kesepakatan kerja dan peningkatan produktifitas perusahaan telah dicapainya dengan gemilang. Cukup membanggakan untuk seseorang yang baru menjadi direktur. Masalah Rara lah yang sebenarnya menjadi penyebab utama kegundah gulanaannya. Sejak pertemuan kembali dengan Rara jiwanya seolah melayang. Ia masih belum puas dengan sikap mantannya itu yang seolah enggan mengenali dirinya. Padahal Alfin masih berharap banyak pada gadis itu. Ia ingin menebus ke

