Bab 1. Pesta Yang Menjadi Kacau
Lampu-lampu kristal berkilau di langit-langit ballroom hotel milik keluarga Broklyn, memantulkan cahaya hangat yang seharusnya membawa kebahagiaan di malam ulang tahun Sera Broklyn.
Di sudut ruangan, Sera berdiri tenang dengan gaun merah darah yang membalut tubuh indahnya.
Ini adalah malam spesialnya.
Malam di mana ia akan mengumumkan pertunangannya dengan Leon.
Laki-laki yang diadopsi oleh keluarganya, dibesarkan oleh ayah dan ibunya sebagai putra dari keluarga Broklyn.
Dulu dia menganggap Leon sebagai kakak, tapi lambat laun cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua.
Sera mengembuskan napas pelan saat memandangi Leon dari kejauhan. Pria itu tersenyum padanya, senyum lembut yang selama ini dia lihat penuh dengan cinta.
Leon menghampiri, berdiri di hadapannya dan memegangi kedua tangannya.
"Sudah siap, menyambut pesta ulang tahunmu?” bisiknya, penuh antusias.
“Mommy dan Daddy belum datang, Leon. Apa kau sudah menghubungi mereka?”
“Sudah. Daddy bilang mereka terjebak macet, sepertinya mereka tidak bisa datang tepat waktu.”
“Lalu bagaimana? Apa kita harus mengundur acaranya?” Sera terlihat cemas. Para tamu telah menunggu, dia tidak ingin mereka kecewa.
“Tidak perlu, Sayang. Daddy dan Mommy sudah berpesan untuk memulai acaranya tanpa mereka. Dan kita bisa melakukannya sekarang.”
“Baiklah kalau begitu,” senyumannya terbit, “Aku sudah tidak sabar mengumumkan pertunangan kita, Leon. Aku ingin semua orang tahu akan hubungan kita.”
“Aku pun begitu,” Leon mengecup punggung tangannya, “Sekarang, kita lakukan. Biarkan semua orang tahu, Sera Broklyn adalah milikku.”
Leon menarik tangannya, membawanya ke tengah ruangan. Tepuk tangan meriah menyambut kedatangan mereka. Bisik-bisik para tamu undangan terdengar.
“Betapa beruntungnya Sera, dia dicintai oleh Leon yang tidak memiliki cela itu.”
“Bodoh. Yang beruntung justru Leon. Dia diadopsi oleh keluarga Broklyn, dijadikan sebagai Putra pertama dan sekarang ia akan mendapatkan Sera Broklyn yang begitu cantik. Dia akan mewarisi seluruh kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Broklyn setelah mereka menikah. Bukankah dia anak pungut yang paling beruntung?”
“Sst, pelankan suaramu. Jangan sampai ada yang mendengar.”
Siapa yang tidak iri? Leon anak yang ditemukan saat hujan badai, anak gelandangan yang memiliki nasib baik setelah diadopsi oleh kedua orang tua Sera. Dia digadang-gadang akan memiliki seluruh kekayaan keluarga Broklyn setelah menikah dengan Sera.
Sera dan Leon sudah berdiri di atas panggung, dengan sebuah mikrofon di tangan. Sera tampak gugup, tapi tak hentinya senyum bahagia terukir di wajahnya.
“Se-selamat malam,” kata sambutan itu diucapkan dengan terbata, “Aku sangat berterima kasih karena kalian hadir di acara ulang tahunku. Dan kalian tahu malam ini tidak saja merayakan ulang tahunku, tapi menjadi malam bahagia yang aku nantikan selama ini.”
Sera memandangi Leon, dan tersenyum manis. Semua orang bisa melihat betapa bahagianya dirinya.
“Malam ini aku dan Leon, akan mengumumkan pertunangan kami.”
“Wah... Selamat,” tepuk tangan terdengar.
Sera menggenggam tangan Leon, bahagia berdiri di tengah-tengah ruangan itu. Banyak ucapan selamat atas kabar baik yang baru dia sampaikan.
Acara itu berjalan meriah. Lagu ulang tahun pun dinyanyikan, namun, musik tiba-tiba saja berhenti, saat lagu potong kue dinyanyikan.
Lampu meredup. Sera memandangi Leon dan tampak panik.
“Apa yang terjadi?” Sera berbisik, tak mengerti.
Leon hanya tersenyum, dan tiba-tiba saja, televisi LED yang ada di belakang mereka menyala.
Sera menoleh dan detik berikutnya, dunia Sera runtuh.
Sebuah video muncul, sebuah video m***m.
Dia dalam kondisi mabuk, pakaian berantakan, wajah memerah, suaranya terengah. Video yang jelas-jelas dipalsukan, namun tampil seolah nyata.
“T–Tidak…” suara Sera tercekat.
Kerumunan mulai ricuh.
“Gila! Itu Sera?”
“Putri yang terkenal sopan dan lemah lembut itu?”
“Haha! Lihat gayanya!”
“Lihat, siapa pria itu?”
Tawa meledak dari segala arah, membungkam napas Sera.
Para tamu, orang-orang terpandang, teman-teman bisnis keluarganya… semuanya menertawakannya.
Sera merasa dunia berputar. Napasnya terengah.
“Tidak, ini tidak benar! Matikan itu!” Teriaknya.
Tangannya gemetar ketika ia berusaha mematikan layar, tetapi Leon lebih cepat.
“Jangan lihat, semua itu palsu!” Teriak Leon marah.
“Tidak mungkin palsu, apa kalian lihat tadi?”
“Itu jelas-jelas Nona Broklyn dan pria yang bersama dengannya itu? Bukankah dia penjahat yang paling disegani di kota?”
“Tidak menyangka Nona Broklyn bisa melakukan perbuatan kotor seperti itu.”
“Jangan-jangan itu pesta lajang?” ucap salah satu tamu.
“Gila, pesta lajang sebelum pernikahan!”
Ha... Ha... Ha... Ha...
Tawa terdengar dari segala penjuru, membuat Sera semakin panik.
“Tidak.. Tidak, aku tidak melakukannya. Itu bukan aku!” Teriak Sera frustasi.
“Nona Sera benar-benar liar, mengadakan pesta lajang tanpa Leon tahu!”
“Kasihan Leon, dia akan mendapatkan bekas orang lain.”
“Tidak, itu tidak benar. Leon, kau harus percaya. Itu bukan aku?” Sera memegangi tangannya. Namun, Leon menepisnya. Dia tampak kecewa, marah sekaligus malu.
Sera menggeleng, air mata berderai. Cemooh, tawa penuh penghinaan, dan kekecewaan Leon membuatnya tak tahan berada terlalu lama di ruang pesta yang menjadi kacau.
Dia berlari keluar dari ballroom, meninggalkan orang-orang yang menertawakan dirinya.
“Sera, tunggu!” Leon mengejar, tapi langkahnya terhenti sebelum keluar dari ruangan. Dia hanya bisa memandangi kepergjan Sera, lalu kembali ke dalam ruangan untuk membubarkan para tamu.
Di luar, hujan deras mengguyur.
Sera tersandung dan jatuh, dia berlutut di jalanan yang basah. Gaun mahalnya kotor, rambutnya berantakan.
“Kenapa?” teriaknya keras, “Kenapa ini terjadi padaku?”
Ia terisak, menangis keras di bawah guyuran air hujan yang semakin deras. Siapa yang melakukan itu?
Kenapa harus di acara ulang tahunnya?
Ia bangkit dengan napas memburu, dan berlari menuju mobil. Tatapan matanya buram. Beberapa kali dia hampir menabrak.
Malam ini seharusnya menjadi malam yang penuh kesan, tapi justru menjadi malam yang begitu memalukan baginya.
Sera memutuskan untuk pulang. Pintu rumah keluarganya sudah terbuka. Dan tanpa pikir panjang, Sera menerobos masuk.
Rumahnya gelap, tapi mobil ayahnya masih terparkir.
Dia melangkah cepat, “Mom… Dad…”
Dia harap ayah dan ibunya ada di rumah. Tapi entah kenapa, sesuatu terasa salah begitu ia melangkah mendekat.
Tidak ada suara, rumahnya tampak gelap.
Sera masuk. Dia terkejut saat menemukan kedua orang tuanya sedang disekap, mulut mereka disumpal, dan wajah mereka berlumuran darah.
“MOM! DAD!” Sera menjerit dan berlari, namun seseorang muncul dari bayang-bayang dan menghantam belakang kepalanya.
Dunia menggelap, Sera jatuh tak sadarkan diri.
Dan dari balik bayang-bayang, seorang wanita muncul. Memegang sebuah senjata api dengan seringai jahat, dan tak lama kemudian, seorang laki-laki muncul dari balik ambang pintu.