Bab 6. Sikap Yang Semakin Aneh

1074 Kata
Sikap aneh Sera meninggalkan tanda tanya besar di hati Leon. Dia tidak merasa telah membuat Sera marah. Dia selalu memberikan perhatian penuh, memanjakan Sera sampai membuatnya lelah dan muak. Meskipun dia disayang oleh kedua orang tua Sera, tapi dia tidak boleh melakukan kesalahan. Dia tidak boleh membuat Sera sedih, dan harus meminta maaf padanya secepat mungkin sebelum hati Sera semakin memburuk. Menjadi Leon Broklyn bukanlah perkara mudah. Semua harus dia jalani dengan sempurna supaya pantas berada dalam keluarga itu. Dia merasa diperlakukan seperti boneka, yang hanya boleh melakukan apapun yang dikatakan oleh Henry Broklyn. Dan dia terpaksa mencintai Sera, karena dia tidak ingin membuat Gadis itu marah, dan tidak ingin keluarga itu kecewa padanya. Semua yang tidak pernah dia sukai harus dia lakukan, dan yang paling berat adalah mencintai Sera Broklyn. Tapi semua itu akan segera berakhir. Sebentar lagi, kesabarannya selama ini akan berbuah manis. Tapi satu hal yang tidak pernah dia tahu, dan tak akan pernah dia tahu kalau Sera telah bangkit dari kematian. Sera pergi ke sebuah butik, memilih gaun di sana. Bukan untuk acara ulang tahunnya, melainkan untuk acara makan malam besok bersama Jarvis. Dadanya sedikit berdebar saat menyentuh sebuah gaun merah darah yang ada di etalase. Dia jadi tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu. Senyuman licik melengkung di bibir, “Lihat, bagaimana aku menghancurkan rencanamu, Leon.” Dia memanggil pelayan, meminta gaun itu untuk diambilkan. Dia akan berpenampilan sebaik mungkin saat menemui Jarvis Jackson. Meski pria itu bukanlah pilihan terbaik, karena keadaannya yang cacat. Tapi dia butuh kekuasaan dan dukungan dari pria itu untuk menyingkirkan Leon. “Berapa harganya?” tanya Sera pada pelayan setelah dia selesai memilih. “Anda tidak perlu membayarnya, Nona,” pelayan itu memberikan gaun yang telah dibungkus rapi pada Sera, “Gaun ini gratis untuk anda.” “Kenapa?” Sera tampak bingung. Dia melihat sekitar, tidak ada siapapun selain seorang pria berjas hitam berdiri di luar toko itu. “Ini perintah, dan gaunnya sudah dibayar.” “Oh, apa Leon?” Pelayan itu hanya tersenyum dan menggeleng. Sera menggaruk kepala, kalau bukan Leon, lalu siapa? Dia angkat bahu, masa bodo. Selagi gratis, dia tidak perlu memikirkan siapa yang memberikan gaun itu. Lagi pula, dia tidak rugi apapun dan tidak meminta. Sera keluar dari tempat itu dengan wajah berseri. Waktunya membeli sedikit perhiasan agar penampilannya terlihat sempurna. Tapi lagi-lagi, dia tidak perlu membayar apapun. Sedikit membuat bingung, tapi dia ingin menikmati hidup keduanya itu karena dia telah membuang banyak waktu untuk mencintai seorang Leon, lelaki yang tidak pantas dia cintai selama ini. Siapa yang menduga, ternyata reinkarnasi itu ada. Padahal dia hanya mendengar hal seperti itu selama ini, melihatnya di sebuah drama, dan menganggap itu seperti lelucon. Tapi dia tak menduga, dia mengalaminya walaupun sampai sekarang dia belum bisa mempercayainya sama sekali. Sera kembali dengan barang-barang belanjaan yang begitu banyak. Leon sudah berada di rumah, dia menunggu di ruang tamu. Dia terlihat begitu berwibawa seperti biasanya. Begitu melihat Sera, dia berdiri dan tersenyum. “Sera, kenapa pergi begitu lama?” “Aku pergi bersenang-senang dan menikmati hidupku. Memangnya kenapa?” “Kenapa masih bersikap seperti itu?” Leon melangkah mendekat, “Apa kau masih marah padaku?” Sera meliriknya, terlihat muak dengan pria itu. Entah apa yang dia pikirkan sampai begitu mencintainya. “Jangan marah lagi, aku membelikan hadiah untukmu,” Leon mengeluarkan sebuah kotak, lalu memberikannya pada Sera. “Aku yakin kau pasti suka,” kotak itu dibuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung emas bertahta berlian kecil berbentuk hati. “Bagus, kan?” Leon tersenyum, “Aku pakaikan, ya?” dia mengambil kalung itu. “Jelek!” satu kata itu membuat Leon terkejut. “Apa?” Dia menatap Sera, matanya menajam. “Apa kau tidak mendengarnya?” Sera mengibaskan rambutnya, “Aku bilang kalung itu jelek!” Leon diam, menggenggam kotak kalung itu dengan erat. Kenapa Sera jadi seperti itu? Biasanya Sera tidak pernah menolak hadiah apapun yang dia berikan. Sekalipun Sera tidak suka, sekalipun hadiah itu barang murah, Sera selalu menerimanya dengan mata bersinar. Tapi hari ini? “Jangan tersinggung, Leon. Aku sudah membelinya, jauh lebih bagus daripada itu.” “Oh, jadi kau mau yang lebih besar?” Sera tersenyum, menyilangkan tangannya di depan d**a. “Untuk Sera Broklyn, apakah kalung sekecil itu pantas?” dia melihat kalung yang ada di tangan Leon, “Kalung itu bahkan tidak cocok untuk anjingku!” Penghinaan itu membuat hati Leon dibakar api amarah. Kotak cincin itu remuk di tangannya, tapi dia tak bisa menunjukkan kekesalan hati. Leon menghela nafas, meredakan amarah di hati. Sejak tadi kelakuan Sera begitu aneh, dia tidak boleh terpancing karena bisa saja, Sera sengaja ingin menguji kesabarannya. “Baiklah, kalung ini memang tidak cocok untukmu. Bagaimana kalau kita pergi makan malam besok? Aku akan membawamu ke tempat yang paling romantis. Kau mau, kan?” “Maaf, aku tidak bisa!” Lagi dan lagi, penolakan Sera membuatnya bingung. Karena Sera tak pernah menolak ajakannya. “Kenapa? Biasanya kau tidak menolak seperti ini. Tolong, kalau memang ada kesalahan yang aku lakukan, katakan saja,” dia harus membuang egonya jauh-jauh hanya untuk mengambil hati si Tuan Putri itu. “Aku sudah bilang, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku hanya ada janji dengan orang lain, tak bisa makan malam denganmu.” “Siapa?” Leon menatapnya curiga. “Ini bukan urusanmu. Aku tidak perlu laporan, mengatakan padamu dengan siapa aku harus pergi!” “Sera!” Kesabarannya mulai habis, suaranya mulai meninggi. Sera hanya diam, menatapnya tanpa berkedip. Leon menghela nafasnya lagi. Sabar, dia harus sabar. “Sera, kau benar-benar membuat aku bingung,” suaranya rendah, “Apa sebenarnya yang terjadi denganmu?” “Tidak terjadi apa-apa, aku mau istirahat sekarang!” Sera melangkah pergi, menuju kamarnya. Pada saat itu para pelayan membawa barang belanjaannya masuk. Begitu banyak sampai membuat Leon heran. Apa karena dia terlambat memberikan hadiah sampai membuat Sera marah? Apa Sera merajuk karena hal itu? Leon menarik nafasnya lagi dan lagi. Dia benar-benar lelah menghadapi emosi si tuan Putri itu. “Sabar, Leon,” gumamnya, pelan tanpa ada yang mendengar, “Sebentar lagi kau tidak akan menghadapi gadis manja dan keras kepala itu. Dan semuanya akan terbayar dengan harga mahal, yang akan disesali oleh Sera!” Dia melangkah pergi, masuk ke dalam kamarnya. Leon sempat berdiri di depan kamar Sera, tapi dia tidak mau berdebat dan merendahkan diri di hadapan gadis itu lagi. Untuk hari ini, sudah cukup. Dan Sera, diam-diam menangis. Hatinya sakit, bukan karena sikap Leon, tapi karena cintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN