Setelah kembali memasuki mobilnya, Daisy langsung tancap gas menuju kampus tercintanya. Kali ini ia akan usahakan untuk tetap dalam kondisi siaga. Tetap fokus dalam hal mengemudi, dan tidak akan membiarkan pikirannya melanglang buana memikirkan hal yang tidak-tidak. Apalagi memikirkan hal-hal yang membuat dirinya merasa menyedihkan seperti apa yang dilakukannya sebelum kejadian tadi.
Merasa sepi, Daisy menghidupkan radio mobilnya. Setidaknya ada kebisingan yang dapat ia dengar dalam mobilnya. Juga, sebagai pengalih perhatiannya agar mood baiknya kembali hadir. Awal pagi masa udah full bad mood kan? Kan no banget.
Sesekali Daisy tertawa saat didengarnya si penyiar radio melemparkan kata-kata lucu kepada lawan bicaranya. Ia juga terkadang turut menebak-nebak saat si penyiar radio melemparkan pertanyaan random kepada si lawan bicara. Seperti,
"Sebelum gue puter satu lagu request-an dari temen-temen netizen yang budiman. Gue mau lo jawab pertanyaan dari gue dulu. Kalian yang sekarang lagi berada di mana pun juga boleh ikutan jawab. Meski gue nggak denger hehe. Kalau lo berhasil jawab pertanyaan gue, gue kasih izin lagunya buat diputer."
"Oke, deal! Para netizen yang budiman, tolong bantu gue ya kalau gue nggak bisa jawab. Sobat online pasti tau kan i********: pribadi gue. Share di DM boleh lah kalau gue nggak bisa jawab. Gue di sini buat bantu kalian supaya kalian bisa denger lagu-lagu hits juga obrolan seru dari kita-kita. Okey, gas ngeng Bang! Apa pertanyaannya?" Terdengar sahutan dari lawan bicara si penyiar. Membuat Daisy entah kenapa turut bersiap-siap juga akan pertanyaan yang akan didengarnya.
"Oke. Pertanyaannya adalah.. sebutkan nama-nama negara yang dalam penulisannya nggak ada huruf A! Cuma lima deh!"
Sebuah pertanyaan baru saja dilempar. Baik si lawan bicara si penyiar, atau pun Daisy dan para pendengar lainnya langsung berpikir akan jawabannya. Nama-nama negara yang dalam penulisannya nggak ada huruf A-nya?
"Eh, emang ada ya, Bro? Netizen.. Ini pertanyaan ada jawabannya nggak sih?" Terdengar gumaman heran dari lawan bicara si penyiar, yang baru saja Daisy tahu namanya. Bang Bokir.. Saat si penyiar meminta lawan bicaranya untuk tidak gampang menyerah.
"Ayo dong bang Bokir! Mudah ini soalnya hehe. Netizen yang pada pinter pasti pada tau nih apa jawabannya."
"Nama-nama negara? Indonesia ada huruf A-nya. Malaysia juga ada. Singapura juga ada. Thailand.. juga ada. Korea..? Juga ada.Taiwan? Juga ada. Apa sih bro jawabannya? Lo nggak lagi asal bikin soal kan?" Bang Bokir terdengar sedang berpikir keras. Namun sampai kata terakhir, sepertinya ia belum berhasil menemukan jawabannya.
"Wkwk. Mikirnya kurang jauh, Bang!" Sahut Daisy ikut menimpali meski ia yakin suaranya tidak akan terdengar sampai sana.
"Inggris, Turki, Mesir, Meksiko, Peru! Yey lima! Banyak lho sebenarnya hehe," ucap Daisy bangga saat berhasil memikirkan jawabannya secepat kilat.
Kemudian ia tenggelam menikmati obrolan para penyiar radio, juga lagu-lagu yang mereka putar.
Daisy mengumpat pelan saat ia harus terjebak macet. Memang tidak ada jaminan perjalanannya menuju kampus akan mulus lancar kalau jam segini ia masih di jalan raya. Sudah pasti lah ia harus menghadapi kemacetan lalu lintas. Dan tak hanya ia yang merasa kesal. Daisy pun dapat mendengar celotehan bernada kesal dari pengendara motor yang berada di samping mobilnya. Daisy tebak, sepertinya orang itu juga bernasib sama dengannya. Sedang terburu-buru dan terancam sampai tujuan dalam kondisi terlambat.
Drttt... Drtttt... Drttt...
Suara getar itu membuat Daisy langsung merogoh isi tas kuliahnya. Mengambil hp nya, dan menemukan panggilan telepon dari salah satu teman dekatnya. Feeling-nya sudah melanglang buana ke mana-mana. Sepertinya dia memang sudah terlambat.
Dan benar saja. Saat ia melihat jam yang tertera di layar ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia sudah telat!
"Halo.. Assalamu'alaikum? Ada apa, Tar?" Sapa Daisy setelah ia mengangkat sambungan teleponnya. Keadaan dirinya yang masih terjebak macet, membuat Daisy lebih leluasa saat menerima panggilan telepon. Dia dapat menurunkan tingkat kewaspadaannya. Apalagi Daisy tebak macetnya masih akan berlangsung selama beberapa menit ke depan.
"Wa'alaikumussalam. Daisy lo masih di mana?"
"Gue masih di jalan. Gue kejebak macet nih. Pak dosen udah dateng ya?"
Hari ini. Oh ya ampun. Kenapa pagi-pagi sudah sesulit ini sih hari gue? Nggak di rumah, nggak di jalan tadi kena masalah. Sekarang kejebak macet dan udah pasti terlambat masuk kelas. Terancam pula kena omel pak dosen. Nasib, nasib! Keluh Daisy dalam hati sambil menunggu jawaban dari seberang telepon.
"Hah. Sudah gue duga. Tapi syukur deh!"
Jawaban yang Daisy dengar dari seberang telepon berhasil membuat Daisy tertawa kecil. Syukur katanya? Ish! Temam macam apa dia ini? Temannya akan kena masalah malah disyukuri.
"Lo bilang syukur?! Lo seneng banget kayaknya ya kalau gue bakal kena omel pak dosen. Lo temen gue apa musuh gue sih? Heran gue!"
"Wkwk. Sabar sista.. sabar! Hari lo hari ini masih panjang lho. Baru juga jam segini, lo udah marah-marah."
"Gue tutup deh ya teleponnya? Bentar lagi mobil gue harus jalan nih."
"Eeee jangan dulu! Gue mau ngasih good news buat lo!"
Daisy mengernyitkan keningnya. Kiranya good news apa yang akan ia dengar dari sang sahabat jika kasusnya adalah ia sedang terlambat masuk kelas. Apakah ia bisa tahu tugas tambahannya di awal waktu karena terlambat masuk kelas? Menurutnya itu bukan kabar baik.
"Good news apaan?"
"Pak dosen nggak bisa hadir hari ini. Izin nggak masuk. Ada acara keluarga katanya."
"Ya Allah alhamdulilah.. gue selamet dari tugas tambahan!" ucap Daisy senang disertai dengan senyuman lebarnya. Kemacetan kali ini, Daisy tidak akan menjadikannya kambing hitam. Bahkan mungkin akan Daisy jadikan teman perjalanannya. Karena di balik kemacetan lalu lintas yang sering ia alami, terkadang Daisy menemukan banyak hikmah yang dapat ia ambil pelajarannya. Kapan-kapan akan Daisy spill deh.
"Wkwk. Selamet ya, Bestie. Btw gue mau mintol (singkatan dari minta tolong) dong sama lo. Pliss pliss."
"Yeuh lo mah ternyata ada udang dibalik batu. Mau minta tolong apaan nih? Buruan.. mumpung gue lagi baik sekarang."
Sudah Daisy duga. Jika salah satu temannya ada yang berlaku baik padanya, seperti saat ini, pasti ujung-ujungnya ada sesuatu. Walau pun tidak selalu. Tapi dibalik itu, Daisy amat sangat tahu betapa baik dan sayangnya mereka terhadapnya. Begitu pun ia dengan mereka. Bisa dibilang, Daisy sudah menganggap mereka lebih spesial dari pada teman. Yakni sahabat, bahkan mungkin sudah seperti saudara saking dekatnya mereka dengan dirinya. Mereka selalu ada ketika Daisy membutuhkan. Selalu siap mendengarkan ketika Daisy ingin didengar. Selalu siap siaga ketika Daisy sedang dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan. Sayang banget pokoknya Daisy sama mereka.
"Hehe. Lo emang selalu baik buat gue. Tolong beliin nasi padang dong di jalanan deket kampus. Lagi BM banget gue. Bosen hampir tiap hari makan makanan kantin kampus mulu. Ya? Nasi padang paket lengkap. Okey. Daaah. See you. Ouh iya kelupaan. Makasih, Bestie. Ntar uangnya gue ganti."
Dan sambungan telepon pun terputus. Daisy hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Ada-ada saja memang tingkah temannya yang satu itu. Tapi Daisy sayang.
***
Sesampainya Daisy di parkiran kampus, mobilnya sudah langsung diserbu oleh teman-teman dekatnya. Rupanya mereka sedang menunggu kedatangannya. Oh, atau mungkin lebih tepatnya menunggu kedatangan pesanan mereka?
Setelah melepas sabuk pengaman, Daisy mengambil tas kuliahnya. Tak lupa ia juga turut mengeluarkan satu kantong plastik berwarna hitam berisikan nasi padang pesanan temannya sebelum ia keluar dari mobilnya.
"Nih pesanan nasi padangnya. Jangan lupa kasih bintang lima ya Mbak nya!" ucap Daisy seraya memberikan satu kantong plastik berisikan nasi padang kepada temannya yang bernama Tari. Gadis manis dengan lesung pipi, berpenampilan tidak jauh berbeda dengan Daisy karena memiliki style berpakaian yang sama. Tari lah orang yang meneleponnya dan meminta tolong untuk dibelikan nasi padang tadi.
"Wkwk. Tenang. Nanti saya kasih bintang sepuluh kalau bisa! Tapi kok.." Tari mengernyit heran saat dilihatnya isi dibalik kantong plastik hitam itu. Memang benar kalau dari bentuk juga bungkusan luarnya. Isinya adalah nasi padang. Tapi perasaan dia hanya memesan satu tadi. "Kok banyak banget sih. Gue salah bilang jumlahnya ya pesen berapa? Atau lo mau bikin gue gendut?"
"Ish! Gue nggak seperhatian itu ya mau bikin lo gemukan. Itu--"
"Gue juga nggak mau gemuk kali!" Potong Tari cepat yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala oleh ketiga temannya. Tari ini memang dari dulu paling anti sama yang namanya gemuk. Berat badannya baru naik sedikit, dia pasti langsung bilang "besok gue harus diet nih kayaknya." Baru makan banyak sekali, dia pasti langsung bilang "fix sih. Nanti malem gue nggak boleh makan malem. Apalagi makan makanan yang banyak mengandung karbohidratnya. Sekali pun gue lapar gue harus makan makanan yang rendah kalori." Daaann lain sebagainya. Gemes bukan?
"Iya iya gue tau. Itu sisanya buat gue, Diana, sama Tika. Yakali Lo makan kita cuma ngeliatin doang. Gue traktir!"
"Wihhh gue demen banget nih sama yang kayak gini. Makasih lho," ucap gadis cantik berpenampilan feminim yang kini sedang berdiri di sisi kanan Tari. Diana namanya.
"Makasih lho, Sy. Gue jadi seneng udah bikin repot lo. Nasi padang pengkolan deket kampus lagi. Seratus persen gue nggak bisa nolak hehe." Kalau yang ini, ucapan si gadis cantik yang saat ini sedang memakai floral dress selutut. Salah satu teman dekat Daisy yang lain. Tika, namanya.
"Kita berdua juga seribu persen nggak bisa nolak wkwk."
"Iya-iya sama-sama. Gue juga sebenernya di rumah habis sarapan pagi. Tapi kalau menunya nasi padang gue nggak bisa nolak buat ikut makan lagi. Yakali gue cuma ngeliatin sambil ngiler doang!" Setuju Daisy yang kemudian langsung mengajak ketiga teman dekatnya itu untuk mencari tempat kosong untuk makan.
Namun belum juga keempatnya berhasil meninggalkan area parkiran, langkah keempatnya harus terhenti karena kerumunan orang beberapa langkah di depan sana.
Di sana.. sekitar lima langkah dari tempat keempatnya berhenti, Daisy dan ketiga teman dekatnya melihat segerombolan mahasiswi yang berjumlah sekitar lebih dari sepuluh orang sedang berkumpul di sisi kanan sebuah mobil. Tak hanya mereka, bahkan Daisy pun dapat melihat beberapa mahasiswa di sana. Walau tak sebanyak segerombolan mahasiswi tadi.
Tentu saja hal itu membuat Daisy dan ketiga temannya penasaran. Hingga membuat mereka saling melempar tatap dengan tatapan saling melempar tanya. Ada apa? Memangnya siapa yang ada di dalam mobil?
"Coba gue yang tanya deh," usul Diana yang langsung berjalan menghampiri salah seorang mahasiswi yang sedang bergerombol itu.
"Hai.. ada apa sih? Kenapa pada ngumpul di sini?" tanya Diana setelah sebelumnya menyapa salah satu dari mereka.
"Kak Arsel datang. Dia hari ini lagi ulang tahun," jawab gadis itu riang, seraya memerlihatkan apa yang ia bawa. Ternyata adalah sebuah hadiah ulang tahun. Satu hal yang Diana, Daisy, dan kedua temannya tak begitu memerhatikan keberadaannya. Ternyata mereka tak hanya sedang bergerombol. Tapi ada barang bawaan yang juga mereka bawa dengan beragam ukuran.
"Ohhh." Diana menganggukkan kepalanya mengerti. "Emangnya dia siapa?" Tanyanya penasaran. Menurutnya orang yang berada di dalam mobil, yang katanya bernama Arsel itu, pasti bukan orang biasa sepertinya. Sampai punya banyak fans lho. "Mahasiswa sini juga?"
"Iya, Kak. Mahasiswa sini juga. Dia anak BEM. Ganteng, keren, dan banyak penggemarnya termasuk aku hehe. Ah itu Kakaknya keluar mobil!"
Belum juga Diana mengucapkan kata terima kasih, gadis yang tidak diketahui namanya tadi sudah berjalan cepat menjauhinya. Mm lebih tepatnya berjalan cepat menuju orang yang bernama Arsel tadi.
Di samping itu, Daisy langsung membulatkan kedua matanya tak percaya saat seseorang keluar dari pintu kemudi. Laki-laki itu, kenapa bisa ada di sini?
Mengetahui keberadaan laki-laki itu ada di depannya. Tak begitu jauh. Sontak saja Daisy langsung menutupi area wajahnya dengan tas kuliah yang ia bawa. Tak hanya sampai di situ. Ia bergegas pergi meninggalkan area parkiran secepat yang ia bisa.
Satu kalimat yang saat ini terus ia rapalkan. "Semoga dia nggak liat gue!"
"Lho lho lho. Lo mau ke mana, Sy?" tanya heran ketiga temannya saat sadar bahwa Daisy sudah tidak berada bersama mereka. Tanpa banyak bertanya lagi, mereka pun turut bergegas pergi menyusul Daisy yang entah akan pergi ke mana itu.