Daisy melangkahkan kakinya asal menjauhi setiap kerumunan. Ketika jalan yang dilaluinya cukup lenggang, ia akan melaluinya. Tapi ketika jalan yang ia lalui lumayan ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi, ia akan membelokkan kakinya mencari jalan yang lebih lenggang. Hingga sampailah ia di sebuah taman. Taman kampus yang syukurnya tak begitu ramai.
Daisy memilih bangku taman yang kosong. Mendudukkan dirinya di sana, kemudian menatap kosong ke sembarang arah. Memikirkan bagaimana hal tak terduga ini bisa terjadi.
Jangan bilang kalau laki-laki yang baru saja ia temui tadi di parkiran adalah orang yang sama dengan orang yang menolongnya satu jam lalu?
Bagaimana bisa? Kok Daisy baru tahu ada manusia itu di kampusnya?
"Waaah kenapa dia harus mahasiswa sini sih? Gue kira dia bukan mahasiswa. Mas-mas kantoran misalnya," gumam Daisy pelan, masih tak percaya. "Kalau tau dia mahasiswa sini, udah gue usir dia dari tadi, di detik pertama dia nampakkin diri!"
Nampakkin diri banget nggak tuh bahasanya? Macam hantu. Sepertinya Daisy saat ini sedang sangat-sangat kesal sampai mengeluarkan kata-kata tanpa difilter terlebih dahulu.
Daisy menghela napasnya panjang. Menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian sedikit mengacak-acak sisi rambutnya yang semula begitu rapih itu. Sangat terlihat jelas sekali kalau dia sedang frustasi.
"Haduhhh! Mana di hari ini juga lagi gue taunya. Kalau tadi kita sampe ketauan, waaahh bener-bener bahaya. Bisa-bisa dia ngebocorin masalah tadi. Udah mana tadi banyak orang lagi. Kalau sampai ke telinga Daisha.. terus dia ngasih tau Mama sama Ayah.. waahh lebih-lebih bahaya lagi. Percuma gue tadi ngajak damai si Bapak itu kalau ujung-ujungnya ketahuan juga sama bokap nyokap. Uang jajan gue terkuras, belum lagi kalau ketahuan gue bisa nggak ditransfer uang jajan sama sekali. Kunci mobil juga bisa jadi ditahan sama Ayah. Dan.. setiap pergi pulang dari kampus gue harus bareng-bareng Daisha terus? Wah nggak bisa nih kalau gini," ucap Daisy yang diakhiri dengan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. "Mimpi buruk ini!"
Suara langkah kaki yang terdengar saling beradu dari arah belakang, membuat Daisy menengok takut untuk mengetahui siapa mereka. Jangan sampai salah satunya adalah laki-laki itu. "Duh kenapa gue jadi parnoan gini sih sekarang!" ucapnya dalam hati.
"Lo tuh kenapa sih, Sy? Kita bertiga capek tau ngikutin lo jalan cepet kayak tadi. Cepetnya cepet banget lagi macam buronan yang takut keciduk polisi. Kenapa sih?" tanya Tika heran sesampainya mereka bertiga di hadapan Daisy.
"Bener banget! Mana perut gue belum ada isinya lagi. Jadi capeknya berasa double!" ucap setuju Tari yang langsung mendudukkan dirinya di sebelah kanan Daisy.
"Lo abis liat hantu ya?" tanya Diana serius yang langsung direspon dengan suara helaan napas dari kedua temannya, Tari dan Tika.
"Atuh lah, Na. Masa abis ngeliat hantu sih. Masih pagi juga. Nggak ada yang berani nampakkin! Ada-ada aja kamu mah hehe," komentar Tari yang diakhiri dengan kekehan garingnya.
"Ya bisa jadi. Siapa tau hantunya hantu pemberani. Nggak malem, nggak siang, nggak pagi. Kalau dia pengen diliat orang ya langsung nampakkin diri," ucap Diana yang tak terima disebut mengada-ada. Menurutnya apa yang baru saja ia ucapkan tadi ada kemungkinan bisa terjadinya. Ya, meskipun mungkin kemungkinannya sangat kecil. Tapi bisa jadi kan?!
"Hantunya mungkin kamu kali kalau gitu."
"Enak aja!"
"Udah-udah. Beli minuman gih kalian. Haus tau, kalian nggak capek apa abis jalan cepet kayak tadi terus sekarang malah berantem? Sana gih beli minum," lerai Tika kemudian meminta keduanya untuk membeli air mineral.
Karena bukan hanya sebatas capek saja mereka merasa haus. Matahari yang mulai meninggi juga turut serta membuat cuaca pagi menjelang siang ini terasa begitu panas. Ditambah lagi suasana gaduh yang Diana dan Tari buat. Semakin merasa panaslah mereka. Dan air, satu-satunya hal yang paling mereka butuhkan saat ini. Bahkan nasi padang yang berada di tangan Tari pun kalah dari air mineral.
"Nggak mau ah, capek! Entaran aja sih. Si Daisy aja masih belum jawab rasa penasaran kita," tolak tegas Diana yang kemudian menatap Daisy dengan tatapan penuh akan tuntutan. "Hey, ada apa sih? Tumben-tumbenan lo kayak gini. Mana sekarang diem aja lagi. Aneh tau ga gue liatnya."
Daisy menatap satu persatu ketiga temannya seraya memikirkan apakah ia harus memberitahu mereka bertiga tentang apa yang terjadi pagi tadi? Tentang apa yang membuatnya saat ini terlihat aneh? Kalau iya, tapi Daisy takut jika salah satu dari ketiganya ada yang keceplosan. Kalau nggak, mereka kan teman dekatnya. Yang biasanya jika masing-masing dari mereka memiliki masalah atau apa pun itu, pasti semuanya akan diberi tahu.
"Nggak papa. Lagi pengen cepet-cepet ke sini terus diem aja. Mm, kita piknik ala-ala di sini seru kali ya?" Pada akhirnya Daisy memilih untuk merahasiakan hal itu saja. Dengan berbagai macam pertimbangan, karena menurutnya apa yang ia rahasiakan ini begitu sangat beresiko. Banyak hal yang harus ia korbankan jika hal itu terbongkar dan sampai ke telinga kedua orang tuanya.
"Hmm, mencurigakan! Tapi not bad lah. Hayu aja kalau kita mau piknik ala-ala di sini," ucap Diana tak percaya tapi ia tak ingin bertanya lebih. Biarlah kalau Daisy saat ini tidak mau menceritakan apa yang sedang ia sembunyikan. Mungkin lain kali.
"Okey boleh juga. Tapi ayo dong siapa yang mau beli air mineral ke kantin," ucap setuju Tika. Ia yang sebetulnya juga tidak percaya akan jawaban yang Daisy berikan tadi, memilih untuk tidak bertanya lebih. Membiarkan Daisy menyimpan rahasianya sampai batas waktu yang telah ditentukan. Karena jika kedepannya Daisy akan sering bertingkah laku aneh seperti saat ini, jika ia dan kedua temannya yang lain merasa sudah habis kesabarannya. Mohon maaf, mereka tidak akan tinggal diam. Bagaimana pun keadaannya ia dan kedua temannya akan mengupayakan berbagai macam cara agar Daisy mau bercerita. Siapa tahu saja kan ia, Diana, dan juga Tari dapat membantu Daisy agar bisa keluar dari masalah yang Daisy berusaha untuk sembunyikan itu.
"Yang jelas bukan gue. Gue kan tadi udah mampir ke rumah makan padang buat beli empat porsi nasi padang komplit ini. Pakai uang jajan gue juga lho," tolak Daisy dengan alasan yang menurutnya pasti akan mereka setujui.
"Okey, Daisy lolos. Ayo siapa dari kita yang mau beli air mineral?" ucap Tika seraya menatap satu persatu wajah memelas Diana dan juga Tari.
"Gue juga nggak mau," cicit Tari pelan seraya berusaha menampilkan wajah termelas yang ia bisa.
"Alasannya?"
"Gue capek hehe."
"Yehh. Itu mah kita juga sama-sama capek kali!" ucap kesal Diana seraya melemparkan satu helai daun tua yang telah gugur ke arah Tari.
"Udah. Biar adil kalian bertiga mending main batu gunting kertas aja deh. Nanti yang kalah yang beli empat botol air mineral ke kantin buat kita-kita. Adil kan?" usul Daisy yang langsung diangguki oleh ketiga temannya. Sebuah anggukan tanda persetujuan.
"Siap?!" ucap Daisy memberi aba-aba, yang lagi-lagi diangguki oleh ketiga temannya. Kali ini mereka tampak bersemangat untuk menang. "Satu, dua, tiga, mulai!"
"Batu, gunting, keertas!" ucap ketiganya kompak kemudian memerlihatkan pilihan mereka. Memerlihatkan kepalan tangan berarti pilihannya adalah batu, memerlihatkan telapak tangan yang terbuka berarti pilihannya adalah kertas, dan memerlihatkan dua jari, yakni jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan, berarti pilihannya adalah gunting.
"Yaah seri." "Ayo lagi. Batu, gunting, kertas."
"Ishh! Kenapa seri mulu sih?, Perasaan gue mulai nggak enak nih," keluh Tika dengan perasaan dag dig dug nya.
"Ayo mulai lagi! Batu, gunt--"
"Bentar-bentar!" teriak Tari tiba-tiba menghentikan aksi bersiap mereka. "Gue dari tadi lupa doa. Gue doa dulu bentar. Ya Allah tolong hamba. Semoga bukan hamba yang kalah. Menangkan hamba dalam permainan ini ya Allah.. Aamiin," ucap Tari merapalkan doanya. Kemudian ia kembali bersiap. "Ayok lah gas. Gue yakin gue bakal lolos. Bismillahirrahmanirrahim.. batu gunting kertas!"
Kali ini hasilnya tidak seri. Satu orang di antara ketiganya adalah satu orang pertama yang berhasil lolos. Dia yang saat ini sedang melompat-lompat kegirangan di atas kedua orang temannya yang lain yang kini masih tak percaya akan hasilnya.
"Lho kok bisa? Mustajab banget doa lo tadi," ucap Diana takjub, heran, sekaligus iri.
"Hehe. Alhamdulillah dengan izin Allah," jawab Tari, si pemenang yang kini tengah melebarkan senyum kebahagiaannya. "Yok dilanjut yok. Gue udah haus banget soalnya wkwk."
"Mentang-mentang menang ya! Yok, Tik. Mari kita akhiri pertarungan ini," seru Diana dengan penuh semangat. Meski begitu menegangkan, dia merasa lebih bersemangat di saat-saat seperti ini. Karena pertarungan akan segera berakhir entah ia akan menang atau pun kalah.
"Ayok! Tapi aduh.." Tika pun ikut bersemangat. Namun tak sampai satu detik ia langsung membekap mulutnya. "Asli! Perasaan gue nggak enak. Kayaknya gue deh yang kalah. Yok dah! Kalah ya kalah deh!"
"Batu gunting kertas!"
"Yes! Yes yes yes!"
"Aish! Tuh kan. Apa gue bilang! Gue yang kalah kan. Peka banget ya perasaan gue. Dah ah gue cabut ke kantin. Air mineral dingin kan?" Tika yang tidak ingin terlalu lama meratapi nasibnya yang kalah main batu gunting kertas itu langsung bersiap untuk pergi ke kantin.
"Yuhuu.. yang dingin biar suasana pun kembali dingin," ucap Diana seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Daisy.
"Eh lo mending ikut gue deh! Repot tau bawa empat botol air mineral sendirian. Biar gue ada temen ngobrol juga," ucap Tika yang langsung menarik paksa lengan tangan Tari. Ikut bersamanya pergi menuju kantin kampus yang letaknya cukup jauh itu.
"Ih kok lo gitu sih?! Gue kan menang! Menang pertama lagi!"
"Nggak papa. Biar adil yang kalah terakhir sama yang menang pertama yang turun tangan."
"Tapi kan tetep aj--"
"Apa? Ya udah sih, Tar. Temenin gue. Masa gue sendiri. Nanti gue traktir lo es krim deh."
"Iya, iya. Ini juga kita udah mau keluar taman."
Suara nyaring Tika juga Tari yang masih terdengar sampai bangku taman tempat Diana juga Daisy duduk, membuat kedua temannya itu saling melempar tawa. Menyenangkan sekali rasanya mendengar T2 (Tika, Tari) saling adu mulut seperti itu. Ada-ada saja gitu tingkah mereka. Lucu. Tapi meski mereka terdengar saling kesal, Daisy dan Diana yakin kalau mereka sebenarnya saling sayang. Buktinya Tari masih mau menemani Tika meski sebenarnya kalau ia ingin kabur ya tinggal kabur saja. Toh es krim pun ia bisa membelinya sendiri.
"Tadi siapa Na di parkiran?" Daisy membuka obrolan, dengan mengungkit kejadian beberapa saat lalu. Siapa tahu saja kan tadi ia salah lihat. Sebetulnya bukan si laki-laki yang menolongnya tadi.
"Oh itu. Tadi sih pas gue tanya, katanya dia itu Kak Arsel. Seangkatan sama kita sih kayaknya. Beda fakultas doang. Dia anak BEM. Cukup terkenal. Banyak fans nya. Kenapa tadi banyak orang, rupanya dia lagi ulang tahun hari ini. Jadi ya, you know lah kelanjutannya seperti apa." Diana mengucapkan apa yang ia tahu dan ingat dari obrolan singkatnya bersama salah seorang mahasiswi yang ikut bergerombol tadi.
Deg!
Arsel? Sepertinya dia memang orang yang sama dengan laki-laki tidak dikenal yang membantunya pagi tadi. Karena seingat Daisy laki-laki itu pun memperkenalkan namanya sebagai Arsel. Dan, pantas saja apa yang dikenakan laki-laki itu terasa begitu familiar. Rupanya itu jaket yang sering dipakai anak-anak BEM kampus ini. "Duh kenapa gue baru ngeh sekarang sih?" ucap kesal Daisy dalam hati.
Beberapa menit kemudian terdengar suara kedua temannya yang lain. Sepertinya mereka sudah kembali dari membeli air mineral di kantin kampus.
"Kalian mau tau nggak? Masa tadi gue denger, ada sekolompok mahasiswi gitu.. mereka katanya mau bikin kejutan buat si yang namanya Arsel itu di taman kampus. Niat banget nggak sih mereka? Kayak si Arsel Arsel itu aktor terkenal aja," ucap Tika bergosip seraya mulai mendudukkan dirinya di rerumputan dekat bangku taman. "Btw kita makannya sambil ngemper gini aja kali ya biar nikmat?"
"Eeuuu, gue kayaknya berubah pikiran deh, Girls. Kita makannya lebih enak di kantin aja. Kalau mau nambah sesuatu, misal air minumnya habis kan deket. Atau misalnya mau pakai kerupuk, tinggal langsung beli kan deket. Yuk pindah yuk," ucap Daisy tiba-tiba yang langsung bergegas bangkit dari tempat duduknya. Seraya menjinjing kantong plastik hitam berisikan nasi padang, ia menggandeng lengan tangan Diana yang pada awalnya hendak duduk di bawah bergabung bersama Tika dan Tari, agar turut mengikuti langkahnya menuju kantin.
Tentu saja keputusan sepihak yang Daisy ambil berhasil membuat ketiga temannya itu melongo. Kenapa tiba-tiba? Padahal sebelumnya Daisy sendiri yang mengajaknya "piknik ala-ala" di taman ini.
"Lho lho lho.. Kok lo gitu sih, Sy? Lo lagi ngerjain kita ya? Tau gitu kita berdua tadi diem aja di kantin sampe kalian berdua nyusulin!"
Kasihan sekali Tika dan Tari. Perkara nama Arsel disebut, dan apa pun itu yang berhubungan dengannya. Efeknya bisa menjadi seperti ini. Memakan korban atas keanehan serta kelabilan Daisy.