Selepas makan malam keluarga, Daisy langsung pamit menuju kamar tidurnya. Alasannya ia ingin mengerjakan tugas. Padahal sebenarnya apa yang dia katakan tadi tidak sepenuhnya benar. Daisy memang memiliki tugas kuliah, tapi deadline pengumpulnya masih sekitar satu mingguan lagi. Jadi ya, malam ini ia akan menyicilnya sedikit dari banyaknya tugas itu. Sisa waktu malam yang cukup panjang ini akan ia habiskan sesuka hatinya.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mencari bahan materi tugasnya, Daisy langsung mematikan laptop nya. Tak hanya itu, ia pun turut merapihkan apa yang baru saja ia pakai seperti alat tulis, dan menaruhnya di tempat semula. Mood mengerjakan tugasnya sudah sirna saat sebuah ingatan kembali hadir menyapanya.
Daisy mengambil kalender kecil yang berada di pojok meja. Memerhatikan sebuah angka yang sebelumnya telah ia beri tanda. Tertulis di sana, awal mula masalah baru terjadi. Yaps, soal ia yang menabrak seorang pengendara sepeda motor, yang ternyata ada seorang mahasiswa satu kampusnya yang tahu akan itu.
Daisy mulai menghitung total jaraknya. Dari hari H kejadian hingga hari ini. "Hmm. Udah hampir tiga mingguan ternyata. Dan selama itu pula gue selalu waspada supaya nggak bertemu atau sekedar berpapasan dengan mahasiswa yang namanya Arsel itu. Kira-kira kalau mulai besok gue turunin tingkat kewaspadaan gue aman nggak ya?" tanya Daisy yang lebih kepada dirinya sendiri. Karena di dalam kamar tidur itu hanya ada dirinya seorang.
Sebetulnya jawabannya lebih kepada, tergantung Arsel mengingat wajahnya atau pun tidak. Karena kalau dia tidak mengingatnya, lewat dua atau tiga hari pun saat mereka bertemu laki-laki itu tidak akan mengenalinya. Lain cerita kalau memang si laki-laki itu berhasil mengingat wajahnya dalam memori otaknya. Sampai satu bulan bahkan lebih pun, saat mereka bertemu nanti setidaknya dia akan sadar kalau mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Ah. Liat nanti deh. Tapi gue harap dia nggak akan inget sih muka gue yang cantik ini. Aamiin," ucap Daisy mengaminkan doanya. Kemudian dia lantas berdiri dan membenarkan kembali posisi kursi belajarnya. "Sekarang dari pada gue pusing mikirin hal yang belum pasti. Mending bobo cantik deh,," lanjutnya yang kini mulai melangkah menuju tempat tidurnya. Salah satu tempat favoritnya. Kemudian merebahkan dirinya dan mencari posisi paling nyaman agar bisa segera meluncur ke alam mimpi.
***
Pagi hari telah tiba. Daisy merasa senang saat dilihatnya langit berawan. Semilir angin yang berhembus lembut pun turut membuatnya tersenyum kala ia membuka kaca jendela kamarnya. Membiarkan udara segar keluar masuk ke dalam kamar tidurnya.
"Hari ini, semoga cuacanya bagus. Minimal kalau pun nanti turun hujan, hujannya nggak lama dan nggak terlalu deres," ucap Daisy menggumamkan harapnya. Karena hari ini jadwal kuliahnya full dari pagi hingga petang.
Setelah melakukan ritual mandi paginya, Daisy langsung bergegas berpakaian rapih untuk langsung dipakai ke kampus. Kali ini ia memakai celana jeans berwarna hitam, yang dipadukan dengan sebuah sweater lucu berwarna nude. Daisy menyebutnya lucu karena ada beberapa gambar teddy bear kecil yang begitu menggemaskan di beberapa spot sweater nya. Dan diakhir, setelah ia mengambil tas kuliahnya untuk langsung dibawa turun. Daisy mengambil topi yang berwarna senada dengan warna dasar sweater nya. Ia memutuskan untuk mengenakan topi ke kampusnya. Siapa tahu saja kan cuaca hari ini akan panas. Dan memakai topi bisa membuatnya sedikit terlindungi. Setidaknya wajahnya aman, tidak kepanasan.
Daisy mengernyitkan keningnya heran saat melihat Daisha dengan sang Ayah saling berbisik. Tapi ia mencoba untuk tidak terlalu ingin tahu agar mood nya pagi ini tetap aman.
"Seriusan nih, Yah?" Kembali terdengar suara bisikan dari arah sampingnya. Suara Daisha yang berada tepat di sebelah kirinya. Meski terdengar pelan, namun Daisy sedikit dapat mendengarnya. Karena ia memang berusaha untuk menajamkan Indra pendengarannya.
"Iyah. Kamu tenang aja. Waktu itu kan Ayah udah janji sama kamu. Dan sekarang Ayah udah punya rencananya. Kamu bantu doa aja supaya rencananya berhasil." Kini suara bisik sang Ayah yang terdengar. Menbuat Daisy yang ikut menyimaknya diam-diam mulai bertanya-tanya. Sebenarnya sang Ayah dengan Daisha sedang membahas apa sih? Dan, rencana apa yang sang Ayah maksud tadi?
"Kalian berdua suka usil deh. Kenapa sih akhir-akhir ini Mama perhatikan kalian berdua sering banget bisik-bisik tetangga kayak gitu? Memangnya lagi ngomongin siapa sih? Lagi ngomongin apa? Bikin orang kepo aja deh," tanya Mama Sela seraya menampilkan wajah kesalnya. Rupanya tak hanya Daisy yang memerhatikan tingkah laku Ayah dan anak itu yang pagi ini terlihat mencurigakan. Ternyata sama Mama pun juga menyadarinya.
"Hehe, bukan apa-apa kok, Ma," jawab Daisha yang diawali dengan kekehannya yang terdengar begitu renyah itu. Dan jangan lupakan tatapan singkatnya ke arah Daisy di sela-sela ucapannya tadi. Hm, kalau menurut Daisy sih tatapannya Daisha barusan sedikit mencurigakan. Membuat Daisy semakin bertanya-tanya, kiranya ada apa ya?
"Bukan apa-apa atau ada apa-apa nih maksudnya?" Mama Sela kembali melempar pertanyaan. Sepertinya ia masih belum merasa puas.
"Beneran bukan apa-apa kok, Ma. Waktu itu Daisha minta tolong Ayah buat bantu dia bikin rencana buat kejutan untuk temannya. Terus Ayah merasa sanggup untuk itu, ya Ayah iyain. Dan tadi kita lagi bahas soal itu. Soal rencananya," ucap Ayah Danu saat dilihatnya Daisha mulai kewalahan. Ia tahu betul sang istri kalau sudah ingin tahu akan sesuatu, tak akan berhenti membahasnya hinggi dirinya merasa puas.
"Teman yang mana memangnya, Sha? Tumben juga pake acara mau ngasih kejutan segala. Dalam rangka apa memangnya?" Tuh, kan. Mama Sela masih belum ingin menyerah dari rasa ingin tahunya.
"Wah, Ayah baru ngeh kalau menu sarapan pagi kali ini masakan kesukaan Ayah. Mama paling bisa deh nyenengin hati Ayah," sela Ayah Danu cepat. Ia harap semoga saja ucapannya ini dapat mengalihkan rasa ingin tahu sang istri. Bisa panjang urusannya kalau sang istri tahu rencananya dengan Daisha.
"Hehe. Iya dong, Yah. Kan biasanya Mama selalu masak menu makanan kesukaan Daisha. Jadi pagi ini, gantian deh Mama masakin menu kesukaan Ayah. Ayam kecap spesial. Takut Ayah cemburu ceritanya," jawab Mama Sela panjang lebar. Sepertinya rencana Ayah Danu untuk mengalihkan rasa ingin tahu Mama Sela berhasil. Karena saat ini setelah selesai menjawab pertanyaan Ayah Danu, Mama Sela langsung memulai kegiatan sarapan paginya. "Duh Mama jadi ngiler pengen buru-buru makan ayam kecapnya. Selamat makan!" ucapnya penuh semangat dan begitu riang.
Mama Sela terlihat begitu lahap memakan hasil masakannya. Tak sadar bahwa apa yang baru saja diucapkannya berhasil membuat suasana ruang makan berubah menjadi hening seketika. Tak sadar bahwa mungkin saja, apa yang baru saja diucapkannya telah berhasil melukai hati seseorang. Yaitu, Daisy.
Bagaimana bisa Mama Sela berucap seperti itu? Takut Ayah Danu merasa cemburu karena selalunya menu makanan yang dihidangkan adalah menu makanan kesukaan Daisha. Bukan kah Daisy pun dapat merasakan perasaan yang sama juga? Cemburu..?. Bukan kah Daisy yang sudah pasti merasa sangat cemburu ketimbang Ayah Danu? Mengingat kedudukannya sama-sama seorang anak dengan Daisha.
Namun Daisy hanya diam. Saat ini dan biasanya ia selalu diam. Apa yang dihidangkan di atas meja oleh sang Mama, baik itu menu makan pagi mau pun malam, tak peduli itu menu makanan kesukaan siapa yang dihidangkan. Meski tentu saja jika ditanya apakah dia tahu semua itu menu makanan kesukaan siapa ia akan menjawab iya. Daisy akan memakannya hingga habis tak bersisa tanpa banyak tanya. Takut efeknya akan berimbas ke mana-mana. Mengungkit segala hal yang bisa diungkit, atau membahas berbagai hal yang bisa membuat hati Daisy lebih terluka lagi.
"Permisi Pak, Bu," sebuah suara kembali terdengar di ruang makan, setelah sekitar sepuluh menit sebelumnya hanya diisi oleh keheningan. Dan si pemilik suara itu, seseorang yang berhasil memecah keheningan ini adalah Pak Amin. Supir pribadi Ayah Danu.
"Iya, Pak Amin? Ada apa?" Ayah Danu lah yang pertama kali merespon ucapan Pak Amin. Sedang yang lainnya hanya diam menyimak seraya tetap melanjutkan kegiatan sarapan pagi mereka.
"Mohon maaf, Pak. Izin melapor. Sepertinya mobil non Daisha perlu dibawa ke bengkel. Tadi saya coba panaskan mesin mobilnya ada sedikit kendala ternyata," ucap Pak Amin menjelaskan.
"Yah kok tiba-tiba sih.. Kayaknya gara-gara jarang aku bawa ke bengkel deh buat dicek secara berkala kondisi mesin dan lain-lainnya. Terus aku gimana dong Yah, berangkat kuliahnya?" tanya Daisha dengan sesekali melihat bagaimana respon Daisy saat mendengarnya. Rupanya sang Kakak tadi menghela napasnya panjang. Mungkin sang Kakak tahu kalau ia berkemunginan akan diminta sang Ayah agar memberi tumpangan untuk Daisha.
"Ya nggak gimana-gimana, kan ada Kakak kamu. Untuk sementara selama mobil kamu di bengkel kamu pulang pergi bareng Daisy aja ya?" ucap Ayah Danu kepada Daisha disertai dengan kedipan sebelah matanya. Tentu saja untuk yang satu ini hanya Daisha yang dapat melihatnya.
"Eee, tapi Yah aku kayaknya--"
"Nggak ada tapi nya, Sayang. Masa kamu tega sih ngebiarin Adik kamu berangkat ke kampus naik taxi online. Pulangnya juga," potong Ayah Danu cepat saat kata tapi keluar dari mulut Daisy. Ia tidak akan membiarkan rencananya gagal karena kata tapi dari Daisy.
"Kenapa nggak bareng Ayah aja kalau gitu?" Ini komentar yang diberikan Mama Sela. Entah kenapa terdengar mendukung Daisy agar Daisha tidak berangkat ke kampus bersamanya.
Ayah Danu juga Daisha menghela napasnya kasar. Mereka berdua saling beradu tatap sampai pada akhirnya Ayah Danu menganggukkan kepalanya singkat. Mencoba meyakinkan Daisha bahwa rencana mereka akan berhasil.
"Ayah nggak bisa. Akhir-akhir ini suka ada rapat pagi di kantor. Takutnya nanti telat kalau harus nganterin Daisha dulu, terus kejebak macet lah. Udah ya sama Daisy aja berangkat sama pulangnya?! Satu kampus ini kan. Biar lebih aman. Lebih hemat uang jajan juga. Nggak lama kok kayaknya. Paling lama juga seminggu. Ya, Sy?"
"Ya udah deh. Tapi kalau pulang aku nggak janji ya," ucap Daisy yang pada akhirnya memilih untuk mengalah. Merasa kasihan juga jika ia selalu menolak pergi satu mobil bersama Daisha. Padahal sebenarnya Daisha tidak memiliki salah terhadapnya. Alasan kenapa Daisy selalu menghindari Daisha dalam hal apa pun, itu karena ia tidak ingin dibanding-bandingkan dengannya. Daisha yang selalu terlihat lebih baik daripada dirinya. Oleh siapa pun itu, dan tentang apa pun itu.
Drttt.. Drttt.. Drttt..
Bunyi getar yang Daisy dengar dari arah ponselnya, membuat Daisy dengan segera langsung mengambil ponselnya. Melihat penyebab suara getar itu muncul. Yang ternyata ia baru saja mendapatkan sebuah pesan masuk.
08763452xxxx
Halo, Mbak. Ini saya yang waktu itu Mbak tabrak. Sepertinya kaki saya mengalami luka dalam akibat Mbak tabrak waktu itu. Dulu yang terlihat memang hanya lecet sedikit. Nggak terlalu sakit juga. Tapi nggak tau kenapa kok sekarang-sekarang ini kaki saya suka sakit ya? Boleh saya minta uang lima ratus ribu untuk biaya kontrol ke dokter?
Kalau Mbak nggak percaya, kebetulan saya punya nomornya Mas Arsel dari pihak bengkel. Nanti saya buat grup w******p untuk saya share hasil konsultasi nanti, bagaimana kondisi kaki saya, perkembangan sebelum dan setelah dibawa ke dokter, dan lain-lainnya. Mas Arsel kita jadikan sebagai saksi, pengamat, juga penengah di antara kita. Bagaimana?
Daisy seketika membulatkan kedua matanya. Apa-apaan ini?!