Setelah pamit kepada sang Mama dan sang Ayah, Daisy dan Daisha bergegas berjalan menuju halaman depan rumahnya. Memasuki mobil Daisy yang sudah siap untuk langsung digunakan. Karena sebelumnya sudah Pak Amin keluarkan dari garasi.
Daisy yang duduk di kursi kemudi, hanya melirik singkat ke arah Daisha saat kembarannya itu mendudukkan dirinya di sampingnya. Lebih memilih untuk duduk di kursi penumpang depan. Ya mau bagaimana lagi. Daisy memangnya berharap apa? Sudah pastilah Daisha akan lebih memilih untuk duduk di depan. Supaya bisa lebih dekat dengannya.
Saat mesin mobil baru saja dinyalakan sampai mobil yang mereka kendarai keluar dari halaman depan rumah mereka, Daisha terus-terusan menatap ke arahnya, Daisy juga masih bisa menahan dirinya. Ia tidak melakukan apa pun. Hanya memfokuskan perhatiannya ke arah depan, ke arah jalanan. Tapi tentu saja, ujung matanya dapat melihat bahwa tatapan sang adik tidak beralih sedetik pun dari menatap ke arahnya.
Tahan Daisy, tahan. Padahal jujur saja kedua daun bibir Daisy sudah tak tahan sejak awal. Sudah gatal minta untuk segera digerakkan. Ada apa gitu maksudnya? Apakah ada yang salah dengan penampilannya sampai harus ditatap lama seperti itu? Atau sedang menilai riasan wajahnya yang super natural itu? Ohh, atau mungkin juga sedang membandingkan antara keduanya siapa yang lebih segalanya jika dibandingkan dengan dia-- eh, aduh. Jangan gitu dong. Membuat Daisy jadi negatif thinking saja. Membuatnya menjadi overthinking, padahal tentu saja hal itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya.
"Ada apa sih?" Daisy mengeluarkan suaranya pada akhirnya. Suara yang sejak awal tadi sudah ia tahan-tahan dengan sepenuh jiwa dan raga. Namun apa yang terus dilakukan Daisha. Terus menerus menatapnya bahkan sampai sekitar lima belas menit. Sungguh berhasil membuat Daisy jengah. Emosinya mulai terpancing.
"Hm? Nggak ada apa-apa kok," jawab Daisha yang diakhiri dengan aksi melebarkan senyumnya ke arah Daisy. Bukan hanya sekedar satu, dua detik. Tapi cukup lama bahkan diselingi dengan derai tawa yang terdengar begitu renyah. Apa yang sejak tadi Daisha lakukan aneh bukan? Daisy saja saat ini mulai merasa tak karuan. Tiba-tiba merasa merinding. Apa jangan-jangan saudari kembarnya tadi kesambet ya?
"Nggak apa-apa gimana? Orang kelakuan lo dari tadi aneh banget. Ada yang salah dari gue? Cara berpakaiannya mungkin, atau riasan wajah?"
Daisha menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, disertai dengan senyuman manisnya. "Nggak ada yang salah kok dari, Kak. Nothing. Semuanya oke!" Daisha bahkan memerlihatkan dua buah jempol tangannya ke arah Daisy.
"Ooo oke. Terus lo dari tadi ngeliatin gue sambil senyum-senyum nggak jelas itu karena apa dong? Mana nggak berhenti-berhenti lagi. Abis kesambet ya lo?" tanya Daisy heran, dengan pandangan tetap fokus ke arah depan. Sepertinya kejadian waktu itu membuatnya lebih berhati-hati dalam hal mengemudi.
"Kesambet? Wkwk. Kelakuan aku tadi aneh banget emangnya ya, Kak?"
"Banget, banget, banget!"
"Aduh jadi malu," ucap Daisha yang langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mmm, Kakak masih pengen tau alasan kenapa aku dari tadi keliatan aneh?" Saat perasaan malunya sudah berhasil Daisha taklukkan. Daisha kembali mengubah posisi duduknya. Sedikit memiring agar ia bisa melihat dengan jelas sang Kakak, bagaimana raut wajahnya dan lain sebagainya.
"Oke," ucap Daisha yang lagi-lagi disertai dengan sebuah senyuman. Seakan tak merasa pegal terus tersenyum lebar seperti itu selama hampir dua puluh menitan, bahkan tetap berlanjut. "Tapi Kakak jangan kaget ya? Hehe," lanjutnya melempar tanya, namun sepertinya lebih ke arah pernyataan. Karena tanpa menunggu lagi jawaban dari sang Kakak, Daisha langsung melanjutkan kembali ucapannya. "Sebenernya aku dari tadi ngerasa seneng banget tau, Kak, bisa berada satu mobil sama Kakak."
"Masa? Lo jangan bohong deh kalo urusannya sama gue."
"Aku nggak bohong lho, Kak. Seribu rius! Aku seseneng itu bisa satu mobil sama Kakak. Terakhir kali kapan coba kita kayak gini," ucap Daisha yang diakhiri dengan nada sendunya.
Mendengar jawaban itu, tentu saja Daisy merasa terkejut. Ia bahkan langsung menolehkan wajahnya ke arah Daisha. Menatapnya beberapa detik sebelum kembali memfokuskan tatapan matanya ke arah depan. Mencari tahu apakah ucapan Daisha sepenuhnya adalah sebuah kejujuran atau kebohongan.
"Ohh," komentar Daisy singkat saat ia tak melihat kebohongan yang ia cari di wajah Daisha tadi.
"He'em. Aku sekarang semakin merasa bertambah seneng malah bisa ngobrol banyak sama Kakak," ucap jujur Daisha, yang kali ini tidak mendapat respon lebih dari Daisy. Sang Kakak hanya menolehkan wajahnya singkat sesaat setelah Daisha berbicara. Hanya menoleh, tanpa ada kata sama sekali.
"Kenapa Kakak berubah?"
Hening.. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut sang Kakak.
"Kenapa Kakak selalu menghindari aku beberapa tahun ini?" lanjut Daisha dengan nada suara yang mulai bergetar. Seperti hendak menangis.
Sontak saja mendengar pertanyaan itu, juga bagaimana nada suara Daisha saat mengatakannya berhasil menarik perhatian Daisy. Sang Kakak sampai menoleh dengan raut wajah yang cukup sulit untuk diartikan.
"Itu cuma perasaan kamu aja kali."
Daisha terkekeh sebentar saat mendengar jawaban yang sang Kakak berikan. "Kakak yakin itu cuma perasaan aku aja? Aku ngerasanya nggak gitu lho. Mungkin kalau aku coba sebutin apa yang berubah dari Kakak, bagaimana tingkah laku Kakak kalau ada aku, dan yang lainnya. Satu hari penuh pun nggak akan cukup."
"Eeeuu, Kakak lagi fokus nyetir nih. Nggak terlalu nyimak apa yang baru aja lo bilang. Lebih baik lo nyiapin materi kuliah hari ini deh. Belajar. Siapa tau ntar ada kuis dadakan. Kan mayan tuh," ucap Daisy yang tentu saja hanya sebuah alasan. Bohong jika ia tidak menyimak apa yang baru saja disampaikan saudari kembarnya. Tapi karena Daisy tak tahu harus memberikan jawaban apa, maka ia hanya bisa berkata demikian. Meminta Daisha agar tidak menggangu kegiatan menyetirnya.
Setelah ucapan Daisy tadi, keadaan di dalam mobil seketika berubah menjadi hening, sampai mobil yang mereka kendarai tiba di parkiran kampus. Daisha meski ingin menolak, namun pada akhirnya ia mengiakan permintaan sang Kakak untuk tidak mengganggunya, tidak lagi mengajaknya berbicara. Selebihnya yang terjadi di dalam mobil adalah suara helaan napas panjang dari keduanya yang sesekali saling bersahutan. Masing-masing dari mereka sepertinya sedang asyik dengan hati dan pikiran mereka sendiri.
***
Daisy tidak menemukan keberadaan ketiga temannya setibanya ia di ruang perkuliahan. Bertanya ke beberapa orang, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan ketiga temannya. Salah satu dari ketiganya pun tak ada yang menjawab pesan w******p yang ia kirimkan di grup khusus squad mereka.
Langkah kaki Daisy membawanya pergi meninggalkan ruang kelas mereka. Biasanya kalau ketiganya tidak ada di kelas, mereka sedang berkumpul di suatu tempat. Terkadang di kantin kampus, perpustakaan, atau di taman kampus yang akhir-akhir ini sering mereka jadikan sebagai tempat mereka berkumpul. Lebih tepatnya sih karena request-an Daisy. Alasannya karena tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di kampus ini. Jadi mereka bisa bebas membicarakan apa saja, atau melakukan berbagai hal lainnya. Namun alasan utama Daisy tentu saja karena ia tidak ingin bertemu atau sekedar hanya berpapasan dengan laki-laki yang bernama Arsel itu. Alasan yang sampai saat ini belum bisa ia bagi kepada ketiga temannya. Masih ia rahasiakan rapat-rapat dari siapa pun.
Berhubung hari ini tidak ada tugas kuliah, menurutnya kemungkinannya sangat kecil jika ketiga temannya saat ini berada di perpustakaan. Jadi Daisy pikir ketiga temannya itu saat ini sedang berada di kantin kampus. Baik untuk sarapan pagi, atau hanya sekedar nongkrong saja dengan ditemani teh manis hangat.
Namun untuk memastikan bahwa tebakannya tadi benar, selama perjalanan menuju kantin Daisy mencoba untuk menghubungi salah satu dari ketiganya, yaitu Diana. Temannya yang lebih fast respon dibandingkan dengan dua temannya yang lain. Daisy terus berusaha menghubungi Diana selama perjalanan menuju kantin.
"Ni anak-anak pada ke mana sih? Tumben banget nggak ada kabar," dumel Daisy di sela-sela kakinya melangkah menuju kantin.
Bugh!
Daisy yang tidak terlalu fokus menatap jalanan di depannya, tanpa sengaja menabrak seseorang hingga membuat dirinya mengaduh kesakitan karena keningnya yang beradu dengan sesuatu yang keras.
"Aduh! Kenapa gue hobi banget ya nabrak orang?! Ets astaghfirullah nggak boleh ngomong gitu," gumam Daisy seraya terus mengusap-usap keningnya yang masih terasa sedikit sakit itu.
"Eh, sorry sorry. Gue nggak sengaja, tadi nggak terlalu merhatiin jalan soalnya."
"Nggak papa, nggak papa. Gue juga salah kok. Tadi terlalu fokus sama hp soal--" Daisy langsung membeku di tempatnya saat ia baru saja mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa lawan bicaranya, yang ternyata adalah seseorang yang akhir-akhir ini ia hindari.
Ia bertemu Arsel. Tanpa bisa ia cegah karena kecerobohannya. Astaga, Daisy kecolongan!
"Soalnya hehe," lanjutnya seraya menundukkan kepalanya. Tak lupa ia juga mengatur posisi topinya agar dapat menutupi area wajahnya. "Duh semoga aja dia nggak inget gue," harapnya dalam hati.
"Sekali lagi maaf ya," ucap Daisy lagi disertai dengan anggukan kepalanya, yang kemudian langsung bersiap pergi meninggalkan laki-laki itu.
Namun,
"Tunggu," ucap laki-laki itu seraya mencekal salah satu lengan tangan Daisy.
"Aduh, jangan bilang dia ngeh lagi kalo gue itu si mbak-mbak yang waktu itu," ucap Daisy dalam hati dengan perasannya yang was-was.
"Ke.. kenapa?" tanya Daisy dengan masih mempertahankan posisi tubuhnya. Enggan membalikkan tubuhnya ke belakang meski sebenarnya ia tahu bahwa apa yang dilakukannya itu sangatlah tidak sopan.
"Itu tali sepatu lo lepas. Benerin dulu gih. Nanti jatoh lho."
"Ohh, nggak papa, nggak papa. Makasih ya," ucap Daisy cepat, seraya berusaha melepaskan cekalan tangan laki-laki itu dari tangannya. Dan berhasil! Karena laki-laki itu pun memang tak begitu erat memegangi tangannya. Daisy melebarkan senyumnya akan hal itu. '"Yey! Aku bisa kabur."
"Eh tapi bentar deh."
"Duh maaf banget gue lagi buru-buru. Sorry ya," ucap Daisy yang kali ini langsung berjalan cepat meninggalkan laki-laki itu. Stok rasa tenangnya sudah mulai menipis. Bisa bahaya kalau dia berlama-lama meladeni laki-laki itu.
"Ternyata beneran elo! Pantesan tadi tuh gue kayak familiar gitu pas liat wajah lo," ucap laki-laki itu yang entah bagaimana kini bisa berada di hadapan Daisy. Menghadang jalannya.
"Hehehe, hai." Daisy saat ini hanya bisa menampakkan senyuman kakunya. Tentu saja sangat berbeda jauh dengan isi hatinya yang kini sedang mengeluarkan berbagai macam u*****n.
"Gue baru tau kalau ternyata kita berdua itu satu kampus."
"Gue juga, hehe. Ternyata kita satu kampus. Nggak nyangka banget kan ya," ucap Daisy berbohong. Bahkan ia sudah tahu akan fakta yang satu itu dari hari pertama mereka bertemu.
"Eh ternyata si Daisy udah nelponin gue dari tadi. Berkali-kali lagi. Dia bakal ngambek nggak ya pas ketemu gue nanti? Hp gue mode silent soalnya jadi nggak kedengeran."
"Nggak lah. Dia mah orangnya santuy. Palingan lo disemprot sebentar abis itu udah haha hihi lagi."
Suara-suara yang terdengar begitu familiar di telinganya, membuat Daisy langsung menolehkan wajahnya ke arah belakang. Dan betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa tebakannya tadi itu benar. Mereka adalah orang yang dikenalnya. Ketiga teman dekatnya.
Wah, gawat! Mereka bertiga tidak boleh melihatnya bersama laki-laki bernama Arsel ini. Urusannya bisa panjang kali lebar kali tinggi kalau salah satunya tidak Daisy briefing terlebih dahulu.
"Lo!" Daisy menunjukkan jari telunjuknya ke arah laki-laki itu. "Ikut gue sekarang!" Lalu menarik paksa lengan tangan laki-laki itu agar mengikuti gerak langkah kakinya menjauh dari tempat itu.