Arsel menurut saja saat tangannya ditarik paksa oleh Daisy. Tak hanya ditarik, Daisy pun bahkan membawanya pergi yang entah akan pergi ke mana itu. Selama perjalanan itu pun laki-laki itu tampak diam dan manut saja.
Namun tentu saja itu terjadi bukan tanpa alasan. Karena sebetulnya jika ingin, Arsel bisa saja membebaskan dirinya dengan mudah dari Daisy. Toh tenaga yang dimilikinya lebih besar jika dibandingkan dengan tenaga yang dimiliki gadis itu. Bahkan satu kali hempasan pun tarikan tangan itu akan lepas, dan Arsel dengan mudah bisa bebas.
Namun laki-laki itu memilih untuk mengikuti apa yang gadis itu mau. Gadis cantik namun terlihat sedikit tomboy dengan penampilannya yang seperti itu. Gadis yang bahkan, namanya pun tak ia ketahui. Arsel hanya pernah bertemu sekali dengannya. Saat waktu itu, dia tidak sengaja melihat kejadian sebuah tabrakan. Hatinya entah mengapa tiba-tiba terdorong untuk menghentikan laju mobilnya, turun dan menghampiri mereka. Karena ia melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Masing-masing dari mereka yang saling memiliki kesalahan. Namun ia tidak menyangka jika si mbak-mbak pembuat kesal serta tak sabaran itu ternyata adalah teman satu kampusnya. Dia yang saat ini sedang menarik paksa tangannya.
Daisy mengedarkan pandangan matanya ke segala arah sesampainya ia di taman kampus. Ia teringat akan cerita Diana yang mengatakan bahwa orang yang bersamanya kali ini bukan sembarang mahasiswa. Dia memiliki cukup banyak penggemar. Jadi Daisy tidak bisa membawa asal laki-laki ini ke suatu tempat. Ia bisa berada dalam masalah jika salah satu penggemar laki-laki yang bernama Arsel ini mengetahuinya menarik paksa tangan sang idola. Ia bisa jadi seorang buronan kampus untuk diadili oleh para penggemarnya.
"Okey. Kayaknya di sini aman. Tempat yang paling jauh dari kata ramai dari tempat-tempat lainnya yang ada di kampus ini," ucap Daisy yang dengan segera melepaskan tangan Arsel dari genggamannya. Ia bahkan kini mengatur jarak, dan mulai berani menatap wajah laki-laki itu secara langsung. Tak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu menghindar dan menutupi wajahnya.
"Mm, setelah dilihat-lihat tampang dia oke juga. Pantesan dia punya penggemar," ucap Daisy dalam hati sesaat setelah ia mendongakkan kepalanya. "Eits, lo barusan mikir apa sih, Sy? Masih sempet-sempetnya ya lo mikirin hal kayak gitu," lanjutnya dalam hati.
"Halooo?" Suara laki-laki itu yang terdengar sedang heran, disertai dengan lambaian tangannya di depan wajah Daisy, berhasil menarik Daisy dari pikirannya yang begitu absurd itu.
"Eh, hai! Sorry tadi gue masih kaget kok bisa-bisanya ketemu lo di sini. Maaf agak loading tadi," jawab Daisy disertai dengan alibinya yang terdengar sangat masuk akal itu.
"Ohh, gue kira ada apa tadi. Gue juga sejujurnya nggak nyangka sama sekali sih bisa ketemu lo di sini. Lo, si mbak-mbak pembuat kesel dan nggak sabaran itu ternyata satu kampus sama gue. Dan yang bikin gue lucu," ucap Arsel yang diakhiri dengan kekehan renyahnya. "Yang bikin gue pengen ketawa sekarang adalah lo lagi-lagi nabrak orang. Dan sekarang orang itu adalah gue wkwk. Itu hobi lo ya? Serem juga ternyata."
Meski Daisy merasa kesal saat mendengar celotehan laki-laki itu. Ia turut mengikuti juga apa yang dilakukan laki-laki itu saat ini yang sedang riang tertawa itu. Lebih terdengar tertawa yang dipaksakan sih kalau jenis tertawa yang diperlihatkan Daisy. Tidak ada renyah-renyahnya sama sekali. "Hehe. Sorry? Gue," ucap Daisy seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arahnya sendiri. "Gue menurut lo mbak-mbak pembuat kesel? Nggak sabaran? Atas dasar apa lo bisa bilang gue kayak gitu? Kita baru pertama kali ketemu kan?! Lo nggak tau gue aslinya kayak gimana. Dan tadi apa Lo bilang soal hobi gue? Hobi gue suka nabrak orang gitu maksud lo? Mulut lo kayaknya harus disekolahin deh!", ucap Daisy emosi.
Mendengar ucapan Daisy barusan, tentu saja berhasil membuat Arsel bungkam. Seketika ia menghentikan derai tawanya. Menatap gadis di depannya dengan tatapan tak habis pikir. Arsel bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Ini anak kayaknya nggak bisa diajak bercanda ya? Serius sekali jadi orang. Tapi setelah Arsel pikir-pikir lagi, sepertinya ucapannya tadi begitu akurat. Buktinya tingkah laku gadis itu sekarang. Membuatnya merasa kesal hanya karena mendengar celotehannya.
"Lo orangnya emang seserius ini ya? Gue tadi cuma bercanda tau. Sorry kalau itu ternyata nyakitin lo," ucap Arsel merasa bersalah. Tidak menyangka juga pikirnya, dapat membuat orang yang tidak dikenalnya kesal karena candaannya. Karena biasanya, gadis-gadis yang ia ajak bercanda justru menyukai candaannya. Ikut tertawa bersamanya.
"Oh sorry juga. Kita nggak sedeket itu sampai lo bisa ngajak gue bercanda."
"Oke, fine. Intinya kalau gue mau ngebercandain lo kita harus deket dulu ya? Oke, gue paham. Gue ngerti sekarang lo kayak gimana orangnya. Jadi, ada apa? Ngapain lo narik tangan gue ke sini?"
"Mmm." Saat Daisy kembali ingat akan apa tujuannya, entah mengapa nyalinya kembali ciut menghadapi laki-laki di depannya ini. Dia ingin meminta bantuan kepada laki-laki yang bernama Arsel itu, tapi baru beberapa detik yang lalu ia baru saja membuat laki-laki itu kesal karena celotehannya. Daisy ini memang benar-benar ya. Dirinya sendiri pun terkadang kesal terhadap kelakuannya yang sering kali bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Dampak buruknya seperti sekarang kan, ia jadi bingung sendiri. Merasa takut juga jika si Arsel ini menolak mentah-mentah permintaannya.
"Mmm, jadi gini." Daisy kembali membuka suaranya seraya meremas pelan jari-jari tangannya, saking gugupnya. Di dalam hatinya Daisy berucap terima kasih kepada laki-laki itu yang dengan sabarnya mau menunggunya bicara. "Kita kan ternyata satu kampus. Gue minta apa yang lo tau soal gue. Soal kejadian waktu itu. Lo nggak sebarin itu ke siapa-siapa. Ya, anggep aja lo udah nolong orang. That's it. Jangan pernah diungkit-ungkit kapan pun, sama siapa pun, dan di mana pun itu. Kalau bisa lo lupain aja deh kejadian waktu itu. Nggak usah diinget-inget."
Daisy merasa lega sekarang. Seolah ia baru saja menyelesaikan misi yang besar. Namun perasaan itu tak berlangsung lama. Karena Daisy sadar, bahwa jawaban yang akan diberikan oleh laki-laki itu lah penentunya. Ucapannya barusan yang cukup melegakan itu hanya sebuah jalan pembuka.
"Why?"
Satu kata yang laki-laki bernama Arsel itu ucapkan sangatlah singkat, padat, dan jelas. Tapi bagi Daisy yang merupakan orang yang mendapatkan pertanyaan itu. Pertanyaan dengan satu kata itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab. Karena ia harus memfilter berbagai alasan untuk diberikan sebagai jawaban. Jangan sampai ia mengatakan apa yang nantinya akan ia sesali. Apalagi kepada laki-laki di depannya ini yang tidak ia kenal.
"Karena.. mmm, kalau lo inget gue pernah bilang waktu itu kalau yang paling gue takutin saat itu adalah kalau orang tua gue tau. Ya, kurang lebih itu lah jawabannya. Bisa berabe kalau mereka tau. "
"Okey, kalau gitu. Gue nggak masalah sama sekali kalau gue harus tutup mulut soal itu," ucap Arsel setuju. Karena ia paham betul kalau setiap keluarga itu berbeda. Ia bisa mengerti kalau memang gadis di depannya ini tak bisa banyak memberikannya alasan.
Betapa bahagianya Daisy saat dilihatnya laki-laki itu menganggukkan kepalanya setuju. Apalagi saat mendengar jawabannya bahwa ia merasa tidak masalah untuk tutup mulut. Tahu ujungnya akan seperti ini, Daisy pikir ia tak seharusnya menghindari laki-laki itu selama sebulanan ini. Laki-laki itu ternyata orang yang baik.
"Makasih banyak lho. Nama lo Arsel kan? Gue ngerti sekarang kenapa lo bisa punya banyak penggemar di kampus ini. Selain... Ya, lo lumayan ganteng lah. Lo keren juga. Tapi yang paling penting lo baik sih orangnya. Jadi wajar aja mereka suka sama lo."
"Wah, lo tau banyak tentang gue ya ternyata. Nama lo aja gue nggak tau lho," ucap Arsel seraya menatap takjub ke arah Daisy.
"Eits, jangan salah paham dulu. Gue nggak sekurang kerjaan itu ya buat cari tau tentang lo. Hanya kebetulan aja dulu gue sempet liat gerombolan mahasiswi nungguin lo di parkiran buat ngucapin selamat ulang tahun. Terus lo sendiri kan yang waktu itu ngasih tau nama lo sama orang yang gue tabrak itu. Gue nggak bisa tutup telinga sih waktu itu. Jadi gue denger."
"Jangan panik gitu dong, hehe! Asli sih lo orangnya lucu juga ya. Serius banget wkwk. Tapi berarti lo udah tau gue dong sejak saat itu. Kalau ternyata kita sekampus juga. Hari ulang tahun gue kan bertepatan dengan hari sial lo? Hehe. Gue nggak mungkin lupa sama fakta yang satu itu."
Daisy langsung menutup mulutnya tak percaya. Mengapa ia dengan begitu mudahnya membongkar kebohongannya? Ya ampun, Daisy! Ia sendiri jadi merasa gemas terhadap kelakuannya sendiri.
"Duh barusan gue keceplosan ya? Wkwk. Oke, gue ngaku. Di awal tadi gue emang bohong sih sama lo. Jujur aja sebenernya gue udah tau sejak awal. Cuma karena gue takut lo bakal bongkar kejadian itu ke orang-orang, dan bokap nyokap gue bisa aja tau kalau fakta itu tersebar. .Sorry, ya. Mmm, kayaknya.. gue harus balik ke kelas deh. Bentar lagi jam kuliah gue dimulai soalnya. Maaf ya gue udah ganggu waktu lo."
"Wkwk. Oke santai aja. Jadi nama lo?"
"Gue Daisy."
"Daisy?"
"Yaa. Kenapa?"
"Nggak papa. Cantik namanya. Secantik bunga daisy."
"Kalau orangnya?"
"Hmmm." Arsel terlihat berpikir keras saat ini. Membuat Daisy langsung mencemberutkan wajahnya di hadapan laki-laki itu. Tinggal bilang iya atau tidak saja kok lama sekali. Seolah tak enak hati saja jika ia berkata jujur. Itu artinya Daisy tidak secantik namanya? Jahat kali! Daisy rasa ia cantik kok. Ya, walaupun penampilannya seperti ini.
"Wkwk. Kalau orangnya.. ya lo bisa nilai sendiri kalau lo lagi liat kaca. Cantik!"
Daisy yang pada awalnya merasa kesal itu langsung merona seketika. Entah benar memujinya cantik karena Daisy memang cantik, atau hanya sekedar ingin menyenangkan hati Daisy. Tetap saja gadis itu merasa senang.
"Berarti mata lo masih sehat. Dari dulu gue emang udah cantik sih. Cantik dari lahir, maa syaa Allah tabaarakallah. Hehe."
Arsel ikut tertawa mendengarnya. "Iya, iya. Gue seratus persen percaya!"
"Hehe. Ya udah gue pergi. Bye! Semoga setelah ini kita nggak ketemu lagi ya," ucap Daisy sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Arsel. Dan untuk ucapannya yang terakhir, itu bukanlah candaannya. Itu harapnya, karena jujur saja Daisy tidak bisa seratus persen percaya kepada ucapan laki-laki itu tadi bahwa ia akan tutup mulut. Karena laki-laki itu, meski Daisy sudah mengetahui namanya tetap saja ia masih orang asing baginya. Yang setiap perkataannya tidak boleh Daisy percayai seratus persen.
"Lho kok?!"