Part 10. Khawatir

1763 Kata
Daisy, Diana, Tika, dan juga Tari merupakan empat sekawan sejak awal masa perkuliahan mereka. Keempatnya berada dalam kelompok yang sama saat pekan orientasi dulu. Kelompok mereka terkenal lebih kompak jika dibandingkan dengan kelompok yang lain. Padahal keempatnya tidak saling mengenal sebelumnya. Mereka terlihat menikmati setiap agendanya dalam kebersamaan. Dan ketika kelompok mereka mendapatkan hukuman, keempat gadis itu justru menikmatinya dengan disertai derai tawa bahagia mereka. Mungkin bisa dibilang mereka ini satu frekuensi saking klik dan cocoknya. Dan tali pertemanan itu terus berlanjut hingga saat ini. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Baik itu di dalam kampus mau pun di luar kampus. Membuat masing-masing dari mereka saling tahu tentang kepribadian masing-masing. Dan seperti saat ini, Diana dan juga kedua temannya yang lain, yaitu Tika dan Tari. Sadar betul akan perubahan sikap Daisy akhir-akhir ini. Daisy memang tetap terlihat seperti Daisy yang mereka kenal. Namun dalam beberapa kesempatan, mereka menilai Daisy sering bertingkah aneh. Daisy seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka. "Kalian berdua ngerasa nggak sih kalau akhir-akhir ini sikap Daisy tuh kadang kayak aneh gitu?" tanya Diana disela-sela kesibukannya menikmati sepiring nasi goreng spesial dengan toping yang begitu beragam. Btw, ketiga teman dekat Daisy sedang berada di kantin kampus saat ini. Sedang melakukan sarapan pagi bersama. Tika yang pada saat itu telah menghabiskan menu sarapan paginya, menganggukkan kepalanya setuju. "Kirain cuma perasaan gue doang." "Ternyata kita bertiga sama-sama ngerasain hal yang sama ya wkwk. Tapi dia itu kayak mencoba buat terlihat baik-baik aja di hadapan kita bertiga. Itulah yang membuat gue ngerasa segan buat nanya ini itu sama dia. Takutnya emang dia lagi ada something, tapi dia nggak mau kita tau dan ikut campur," komentar Tari yang juga disetujui kebenarannya oleh Diana dan Tika. Diana mengembangkan senyumnya saat pikirannya mencoba membuatnya untuk berpikir positif tentang Daisy. "Kalau yang dia sembunyiin itu sesuatu yang baik, jujur gue nggak keberatan sama sekali sih. Karena kita tau kan suka dukanya dia selama kita temenan itu kayak apa. Yang penting dia seneng. Dia bahagia, gue juga ikut bahagia. Tapi kalau ternyata sesuatu yang dia sembunyiin dari kita itu sesuatu yang buruk, kayak dia lagi ada masalah gitu. Jujur gue gatelan sih orangnya. Pengen bantuin gitu, apalagi dia kan ya bisa dibilang sahabat kita." Helaan nafas yang terdengar kasar dan cukup panjang dari Tika, berhasil menarik perhatian Diana dan Tari untuk mengalihkan tatap ke arahnya. "Untuk sekarang kita doain dia yang baik-baik aja lah. Sambil kita pantau ke depannya dia kayak gimana." "Tapi gue takutnya dia lagi stress, sumpah! Tapi kali ini dia nggak mau cerita sama kita-kita. Takut ngerepotin kita lah, takut jadi beban pikiran kita lah, dan lain-lain. Makanya akhir-akhir ini dia kayak aneh gitu kan?! Dia kan kayak ngerasa nggak ada yang peduli sama dia. Merasa terabaikan. Suka dibanding-bandingin sama Adeknya. Terus dia juga lagi bertekad buat ngebuktiin diri bahwa dia bisa sukses dengan pilihannya sendiri. Pokoknya cukup banyak deh kayaknya beban pikiran dia sekarang. Yang bikin gue takut, dia mikir yang enggak-enggak dan terlalu jauh. Overthinking sama semua hal. Dan semua itu ngedorong dia buat ngelakuin hal-hal yang gak terduga sama dirinya sendiri. Gue takut dia ngebahayain dirinya sendiri." Apa yang baru saja Tari ucapkan, sungguh kemungkinan yang sangat buruk. Membuat Diana dan juga Tika seakan membeku di tempat duduknya. Ya, kemungkinan buruk itu mungkin saja terjadi kepada temannya. Tapi sungguh, mereka bertiga berharap kemungkinan itu bukanlah apa yang sedang terjadi kepada Daisy saat ini. "Ihh jangan ngomong gitu lah. Gue takut tau dengernya." Komentar Diana dengan raut wajah sendunya. Pikirannya saat ini mulai melanglang buana ke mana-mana. "Iya ih kita jangan mikir yang macem-macem dulu. Seperti apa yang aku bilang tadi. Kita bantu dia lewat doa-doa tulus kita. Kita juga harus berpikir positif tentang dia. Daisy nggak selemah itu. Daisy yang kita kenal anak yang kuat kan?" ucap Tika yang diakhiri dengan pertanyaan yang sebetulnya ia merasa sedikit ragu akan jawabannya. Mengingat Daisy hanyalah manusia biasa sama sepertinya. Bahkan kalau posisi mereka ditukar, mungkin Tika akan berbuat nekat sejak awal saking tak tahannya. "Iya. Semoga aja. Pokoknya sebagai teman dan sahabat yang baik, gue harap apa pun itu yang Daisy sembunyiin dari kita, dia mampu buat ngelewatinnya. Kalau itu sebuah masalah, ya semoga aja masalahnya bisa cepet selesai. Tapi kalau sesuatu yang baik-baik, ya semoga selamanya baik supaya dia nggak kecewa nantinya. Jujur gue suka ngerasa sedih, kasian, tiap kali denger dia curhat sama kita. Gue selalu berusaha buat nahan air mata gue supaya nggak keluar, tapi anehnya dianya sendiri kayak yang biasa aja gitu. Malahan suka sambil ketawa-ketawa gitu kan kayak lagi bercanda. Gue sampe mikir, di dalem hatinya pasti dia lagi nangis nih. Dia cuma nggak mau terlihat menyedihkan aja di depan kita." "True. Gue juga ngerasain hal yang sama tiap kali denger dia curhat. Gue harap secepatnya dia bisa bener-bener ceria, bahagia, seperti apa yang selalu dia perlihatkan di depan kita. Semua hal buruk yang menimpanya, semoga segera usai. Semuanya kembali seperti seharusnya. Rasa sakitnya dapat tergantikan dengan berkali-kali lipat kebahagiaan," ucap Tika yang diakhiri dengan untaian doa tulusnya untuk Daisy. Untaian doa yang terdengar begitu dalam. Penuh harap. Membuat Diana dan juga Tari yang mendengarnya, turut serta mengaminkan doanya. *** Hari ini sebetulnya Daisha tidak perlu berangkat kuliah sepagi tadi. Karena sebenarnya jadwal kuliah pertamanya baru akan dimulai pukul sepuluh nanti. Namun ia yang tidak suka menunggu itu tidak merasa menyesal sama sekali harus menunggu beberapa jam sebelum jam kuliahnya dimulai. Alasannya tentu saja karena Daisy, saudari kembarnya. Lamanya ia menunggu, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan rasa senangnya saat ini. Karena ia bisa berangkat ke kampus bersama Daisy, sang Kakak, dalam satu mobil yang sama. Sekilas cerita tentang bagaimana Daisha bisa mewujudkan salah satu harapannya. Sang Ayah mengiriminya pesan w******p selepas shalat subuh pagi tadi. Mengatakan bahwa ia memiliki kejutan untuk Daisha. Sang Ayah sudah berhasil memikirkan cara, menyusun rencana, bagaimana ia dapat menunaikan janjinya kepada salah satu putri kesayangannya itu. Setelah membaca pesan tersebut, tentu saja Daisha merasa senang luar biasa. Saking senangnya ia bahkan sampai melompat-lompat di atas kasur empuknya. Dan setelah euforia nya berakhir, Daisha bergegas mandi dan bersiap seperti biasanya ia ketika hendak berangkat kuliah. Bedanya ia hari ini begitu bersemangat. Dan secepatnya ia ingin segera membicarakan bagaimana teknis dan seperti apa rencana sang Ayah akan dilakukan. Kebanyakan orang mungkin akan menilai tingkah Daisha ini lebay. Terlalu berlebihan. Karena mereka menganggap harapan indah Daisha sebagai sesuatu yang kecil. Karena mereka dapat mendapatkannya dengan mudah. Berbeda dengan Daisha yang harus bekerja sama terlebih dahulu dengan sang Ayah, memikirkan sebuah rencana, barulah hasilnya akan ketahuan. Apakah sesuai dengan harapannya, atau lagi-lagi mendapatkan penolakan dari sang Kakak. Serumit itu lho agar ia dapat berduaan bersama sang Kakak. Berbeda dengan dulu. Masa-masa indah yang saat ini hanya bisa menjadi sebuah kenangan yang entah kapan akan kembali terulang. Saat ia bersama sang Kakak, hubungan dan interaksi mereka, benar-benar layaknya interaksi antar saudari kembar biasanya. Pergi ke mana pun selalu bersama. Melakukan banyak hal secara bersama-sama. Bahkan pakaian yang mereka kenakan pun selalu sama. Saling berbagi apa yang dirasa, cerita, dan selalu ada, serta siap siaga jika salah satunya mengalami kesulitan. Mereka seakan tak dapat dipisahkan. Hingga semua itu menjadi sebuah kenangan, yang Daisha pun tak tahu apa penyebabnya. Beberapa pertanyaan selalu muncul dalam benak Daisha tiap kali ia mengingat masa-masa indah itu. Mengapa saat ini terasa berbeda? Sangat jauh letak perbedaannya hingga seratus delapan puluh derajat. Mengapa kini ia dan sang Kakak layaknya orang asing? Mengapa sang Kakak terkesan selalu menghindarinya? Sebenarnya apa salahnya hingga ia mendapatkan hukuman seberat ini? Jujur, rasanya lebih sakit, sulit, dan menyesakkan jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dialaminya saat ia baru saja putus dengan sang mantan. Jadi, rasanya sangat wajar bukan jika Daisha bisa sesenang itu karena harapannya kali ini dapat terwujudkan? Daisha memilih untuk pergi ke kantin kampus dan berdiam diri di sana sampai waktu menunjukkan jadwal kuliah pertamanya akan segera dimulai. Berhubung ia sebelumnya sudah sarapan, niatnya Daisha akan memesan jus saja. Sambil menunggu kabar dari teman-temannya yang entah kapan akan datang. Mungkin beberapa menit sebelum jam kuliah pertama dimulai. Saat menunggu jus pesanannya selesai disiapkan, Daisha menatap terkejut ke arah beberapa mahasiswi yang sedang mengusir seekor kucing dengan cara yang tidak sepatutnya dilakukan. Mengguyur kucing yang malang itu dengan setengah botol air mineral. Tak hanya itu, mereka juga dengan begitu kejamnya memberikan beberapa tendangan kepada kucing yang malang itu. Tentu saja Daisha tak bisa jika hanya diam saja. Ia tak ingin seperti mereka yang saat ini justru menjadikan aksi tak terpuji itu sebagai sebuah tontonan yang menghibur. Mereka bahkan dengan begitu bangganya memperdengarkan derai tawa mereka. "Bener-bener nggak pada punya akhlak!" gumam Daisha kesal yang langsung bergegas menghampiri mereka. "Cukup!" Teriak Daisha marah yang berhasil menarik perhatian mereka. "Kucing itu sama halnya dengan kita. Dia makluk hidup yang harus kita perlakuan dengan baik juga. Kenapa kalian begitu tega sampai menyiksa dia seperti itu? Jadi bahan bercandaan lagi. Kalian pada punya hati kan? Atau jangan-jangan hati kalian udah kalian buang ke tempat sampah?" Entah apa yang merasuki Daisha saat ini. Sampai ia begitu berani memarahi mereka dengan kata-kata pedasnya. "Lo siapa berani-beraninya marahin kita-kita? Salah dia sendiri ngapain gangguin gue lagi sarapan. Dia memang pantas kita perlakuan kayak tadi," ucap marah salah seorang dari mereka. Mahasiswi-mahasiswi yang terlihat begitu cantik dengan pakaian indah mereka, juga riasan wajah mereka. Namun sayangnya berbanding terbalik dengan akhlak mereka. Daisha menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir saat mendengar jawaban mereka. "Udahlah. Kayaknya nggak bakal ada ujungnya kalau aku tanggepin terus omongan kamu. Cuma ya aku kasian aja sih sama kamu. Kamu udah belajar selama bertahun-tahun lamanya. Kamu dan penampilan kamu juga ya bisa dibilang lumayan cantik. Tapi kelakuan kamu itu lho. Ya ampun.. Minus banget! Kayaknya percuma gitu kamu setiap hari pergi ke sekolah, sampai sekarang ke kampus buat belajar. Semua nilai plus kamu yang tadi aku sebutin, menurut aku nggak ada artinya sama sekali. Bye!" Setelah puas mengeluarkan semua kata-kata pedasnya, Daisha dengan segera melepas jaket kesayangannya. Menyelimuti tubuh kucing yang basah kuyup itu kemudian menggendongnya dan membawanya pergi dari sana. "Hey, lo! Cewek kurang ajar! Berani-beraninya ya lo ngehina gue! Puter balik nggak lo sekarang?! Minta maaf sama gue!" ucap marah gadis yang sama, yang sepertinya merupakan ketua gerombolan mahasiswi itu. Namun Daisha tak pedulikan. Ia justru semakin mempercepat langkah kakinya pergi meninggalkan area kantin. "Berani-beraninya lo ngehina gue. Mempermalukan gue di hadapan banyak orang. Awas ya, lo! Nggak akan gue kasih ampun! Lo tunggu pembalasan gue!" gumam gadis itu dengan amarah yang masih membara dalam tubuhnya. Ia pun turut memilih pergi meninggalkan kantin karena kini menjadi bahan tontonan. "Ngapain lo pada masih pada di sini? Mau cari masalah juga sama gue? Bubar sana!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN