Setelah berpisah dengan Daisy, Arsel yang memang sebelumnya berniat pergi menuju kantin kampus melangkahkan kakinya kembali menuju tujuan awalnya. Dia tak sempat sarapan pagi tadi di rumah, dan kebetulan beberapa teman dekatnya saat ini sudah berada di sana. Menunggunya karena saat dalam perjalanan menuju kampus tadi mereka membuat janji sarapan pagi bersama di kantin kampus.
"Sorry, Guys. Pasti kalian udah nunggu gue dari tadi ya? Tadi gue mendadak ada urusan jadi nggak bisa langsung ke sini," ucap Arsel tak enak hati sesampainya ia di salah satu meja kantin tempat beberapa temannya berada.
"Santai, Bro. Gue udah kira sih pasti lo lagi ada hal urgent makanya dari tadi nggak dateng-dateng. Lo kan anak on time. Hampir nggak pernah yang namanya telat disengaja. Ya palingan kalau telat ya kayak tadi lo bilang, lo ada urusan mendadak," jawab salah satu temannya, Oman, yang merasa tak masalah sama sekali akan keterlambatan Arsel.
"Iya, Bro. Nggak masalah. Gue malah tadinya udah mikir yang enggak-enggak kalo batang hidung lo nggak muncul sekarang," ucap Kahfi salah satu temannya yang lain, yang turut serta setuju akan ucapan Oman barusan. Bahkan dua orang laki-laki lain di dekatnya pun menganggukkan kepalanya setuju akan ucapannya barusan. "Bahkan lo udah mau gue laporin ke polisi sebagai kasus orang hilang tadi, kalau Oman nggak coba untuk nenangin."
"Haha. Lebay banget ah, Lo! Kayak gue anak kecil aja sampai segitunya."
Mendengar hal itu, tentu saja Arsel merasa senang. Sudah ia duga, teman-temannya ini memang sebaik itu lho kepalanya. Jangankan memberinya sebuah hukuman. Marah kepadanya saja pun tidak sama sekali. Satu detik pun. Mereka justru menganggap perlakuan Arsel ini hanyalah angin lalu.
Mungkin apa yang Oman ucapkan tadi, adalah salah satu alasan temen-temennya bisa sekhawatir ini. Sebaik ini kepadanya. Betapa tepat waktunya Arsel dalam berbagai hal. Apalagi ketika memenuhi sebuah janji temu entah itu untuk kepentingan penting atau hanya sekedar untuk mengobrol biasa dengan teman-temannya seperti sekarang ini. Bisa dibilang kuantitas ke on time-an nya mencapai 90% saking tidak pernah telatnya itu. Berbanding terbalik dengan beberapa temannya yang ada di sini yang kerap kali memakai jam karet tiap kali hendak bertemu. Hari ini saja yang sepertinya tidak mereka gunakan.
Memakai jam karet adalah istilah yang mereka gunakan saat ada yang datang terlambat. Jam yang membuat mereka datang ngaret, alias terlambat karena lamanya setiap detik berpindah. Jadi ketika mereka membuat janji temu pukul satu siang, mereka bisa sampai setengah jam bahkan satu jam kemudian atau lebih karena hal itu.
Selain karena tingkat menghargai waktunya yang begitu tinggi yang membuat mereka merasa segan kepada Arsel. Teman-temannya juga sepakat bahwa Arsel ini orangnya juga begitu baik. Selalu ringan tangan dalam hal membantu orang, baik yang dikenalnya atau pun tidak sama sekali. Terlebih kepada mereka yang merupakan teman-temannya. Arsel jauh lebih baik. Tidak pernah perhitungan sama sekali apakah ia sebelumnya pernah mendapatkan kebaikan dari orang yang ia tolong atau tidak. Setulus itu, ya meskipun dibalik itu Arsel juga terkenal dengan sifat jahilnya.
Jadi rasanya memang masuk akal dan pantas jika ia memiliki banyak penggemar. Tak hanya oleh kebanyakan mahasiswi, namun mahasiswa juga. Ditambah fakta bahwa ia adalah mahasiswa manajemen bisnis, sudah memiliki bisnis sendiri dan mandiri, merupakan anggota BEM kampus, juga berasal dari keluarga kaya raya. Tentu saja semakin membuatnya digemari. Bahkan followers i********: nya saja sudah mencapai puluhan ribu pengikut.
Arsel mengangkat salah satu alisnya ke atas sesaat ia telah duduk nyaman di atas kursinya. Pandangan matanya menatap aneh ke arah meja yang begitu bersih dan kosong itu. "Ini kalian udah selesai sarapan sampai mejanya bersih gini, atau memang kalian belum sempet pesen makanan sama sekali?" tanya Arsel heran seraya menatap satu per satu temannya dengan tatapan penasaran.
"Hehe. Kita emang belum pesen sama sekali sih dari tadi. Niatnya mau nungguin lo biar setia kawan. Karena kan kita nggak tau kalau lo bakal dateng telat. Jadi biar makannya bareng-bareng juga gitu. Eh taunya lo nggak dateng-dateng dan nggak ada kabar. Kita malah sampe lupa soal makan karena itu," ucap Kahfi menjelaskan.
Arsel tersenyum samar mendengar jawaban itu. Meski sempat menggelengkan kepalanya beberapa detik lalu. "Ya ampun. Lo pada kenapa dah sampe sebegitu nya? Wkwk." Arsel terkekeh geli seraya menatap satu per satu wajah teman-temannya. "Gue sekarang berasa jadi anak kecil tau nggak. Oo bukan sekedar anak kecil," jedanya yang berhasil membuat keempat laki-laki itu secara kompak mengangkat salah satu alis mereka. "Gue berasa jadi anak perempuan yang masih kecil, yang di posesifin banget sama keempat Kakak laki-lakinya."
"Yeeuuu! Posesif banget nggak tuh bahasanya. Gue sama pacar gue aja nggak pernah tuh dibilang kayak gitu. Padahal lo pada tau sendiri gue kalau tau doi lagi nugas bareng temen laki-lakinya udah kayak apa."
"Eh tapi dia emang yang paling kecil kan di antara kita-kita?"
"Elah! Cuma beda seminggu dari lo lahir!"
"Ya tetep aja gue yang lahir duluan. Orang yang beda semenit aja yang lahir duluan dipanggil Kakak."
"Wkwk. Pengen banget ya lo punya adek. Apalagi adeknya kayak gue lagi. Ganteng, keren, mempesona, eh tapi lo bisa nggak dapet-dapet pacar lho kalau lo beneran jadi Kakak gue," ucap Arsel membuat Vian langsung menatap penasaran ke arahnya. Menunggunya melanjutkan ucapannya barusan.
"Kenapa gitu?"
"Karena pasti mereka mikir panjang dulu tiap kali lo nembak. Apakah gue harus milih Kakaknya dari pada Adiknya yang sangat pacar-able itu? Kakaknya aja suka gue, masa Adeknya nggak sih. Lebih baik gue kejar dan milih Adeknya aja. Gitu! Wkwk. Kita kan kalau Kakak Adek bukan sebelas dua belas, Bro. Gue sebelas, lo mah yang keberapa saking jauh bedanya kayak langit dan bumi."
Vian merupakan laki-laki yang tampan. Tapi kalau dibandingkan dengan Arsel, jelas Arsel yang paling tampan lagi menawan. Arsel, laki-laki itu semacam mempunyai daya tarik tersendiri.
Tawa Oman dan yang lainnya pecah setelah mendengar itu. Tentu saja terkecuali Vian yang kini sedang mengumpat kesal disertai dengan memberikan delikan tajamnya ke arah Arsel yang masih tertawa dengan begitu puasnya itu.
"Wkwk. Ya elah gue tadi bercanda kali. Serius amat lo jadi orang!" Dan inilah salah satu bentuk kejahilan Arsel. Membuat teman dekatnya, Vian, yang terlalu serius itu mengalami emosi berlebih.
"Bercandaan lo nggak asik. Bikin gue darah tinggi mulu."
"Ya kan emang itu tujuan gue ngebercandain lo sejak dahulu kala! Lo ke mana aja baru tau sekarang?!"
"Sejak dahulu kala banget nggak tuh, Bray! Tapi emang kalau gue inget-inget lo tuh yang paling sering Arsel kerjain."
"Dia ngefans sama gue!"
"Wkwk. Kalau pun ngefans, ngefans nya karena apa co-"
"Cukup!" Sebuah teriakan yang terdengar cukup nyaring itu berhasil membekukan suasana gaduh dari meja Arsel. Namun itu bukan berasal dari Arsel, Vian, atau ketiga teman mereka yang lain. Tapi berasal dari arah yang lain, di luar jangkauan mejanya.
Seorang perempuan. Si pemilik suara itu.
Keempat laki-laki itu sudah tak ingat akan kegaduhan di meja mereka. Bahkan topik random mereka, dan apa yang membuat mereka gaduh pun seakan menguap. Mereka kini memfokuskan tatap ke arah perempuan itu. Gadis cantik yang saat ini sedang memposisikan diri berada di depan seekor kucing yang.. ternyata saat Arsel dan teman-temannya coba perhatikan lebih seksama, kucing itu kini basah. Seperti telah disiram seseorang.
"Kucing itu sama halnya dengan kita, sebagai manusia. Dia makhluk hidup yang juga harus kita perlakuan dengan baik juga." Arsel dan yang lainnya, bahkan hampir seluruh penghuni kantin saat ini. Memfokuskan perhatian mereka ke arah gadis itu. Sarapan pagi mereka, juga apa yang mereka lakukan sebelumnya lakukan sudah tak lagi menarik.
"Kenapa kalian begitu tega sampai menyiksa dia seperti itu? Jadi bahan bercandaan lagi. Kalian masih pada punya hati kan? Atau jangan-jangan hati kalian sudah kalian buang ke tempat sampah?!" Arsel dan keempat temannya yang lain memelototkan kedua mata mereka. Menatap terkejut ke arah si kucing, dan beberapa mahasiswi yang sepertinya adalah yang dimaksud dengan kata kalian itu. Memangnya selain disiram, apalagi perlakuan yang si kucing malang itu dapat?
"Tadi gue sempet liat kucing itu ditendang-tendang sama mereka. Emang kelakuan mereka nggak banget sih. Kucing lho masalahnya. Dia mana ngerti kan kesalahannya? Kan makhluk nggak berakal." Ucapan seorang mahasiswi yang sedang berdiri bersama temannya hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan jelas. Seraya sedang bergosip itu seakan sedang menjawab pertanyaan Arsel dan keempat teman laki-lakinya. Berhasil mengobati rasa penasaran mereka.
Arsel dan teman-temannya pikir, apa yang dilakukan segerombolan mahasiswi itu memang sangatlah keterlaluan. Itu perbuatan yang cukup kejam dan tak sepantasnya dilakukan. Mereka terus menyimak dan memerhatikan apa yang sedang terjadi itu hingga usai. Hingga si gadis itu terlihat sudah lelah dan puas mengeluarkan amarahnya, kemudian membuka jaketnya untuk melindungi tubuh si kucing yang basah dan sepertinya kedinginan itu. Dan membawanya pergi dari sana.
Gadis yang menarik, pikir mereka. Dia pemberani dan mau bertindak demikian. Membela si kucing, yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan itu. Meski sepertinya beberapa orang tahu apa yang sedang terjadi terhadap si kucing itu. Kebanyakan orang justru memilih bungkam dan menjadikan pemandangan tak menyenangkan itu sebagai bahan tontonan gratis. Jujur, jika Arsel dan keempat temannya mengetahui hal itu sejak awal. Mereka tidak akan tinggal diam. Mereka pun akan bertindak seperti apa yang baru saja dilakukan gadis itu.
Saat gadis itu membalikkan tubuhnya. Hendak benar-benar pergi meninggalkan kantin. Kelima laki-laki itu terpaku di tempat duduknya. Mereka yang sebelumnya tak bisa mengenali siapa gadis pemberani itu, karena posisi si gadis yang membelakangi meja mereka. Kini dapat melihat siapa dia.
"Daisy?" Gumam Arsel dengan suara terkejutnya, yang masih dapat didengar oleh keempat temannya yang lain."
"Tapi tadi perasaan penampilannya nggak begitu. Apa dia baru aja ganti pakaian?" Lanjutnya heran.
"Daisy? Itu bukan Daisy. Dia Daisha," jawab Kahfi yang semakin membuat Arsel kebingungan.
"Daisha? Siapa dia? Kok mirip banget dengan Daisy yang baru aja gue kenal."
"Daisha itu kembarannya Daisy. Tepatnya dia Adiknya Daisy."
"Mereka kembar?" ucap Arsel tidak percaya.
"Iya. Tapi ya seperti apa yang baru aja kita lihat. Penampilan mereka sangat berbeda. Jadi siapa pun bisa dengan mudah tahu mana yang Daisy, dan mana yang Daisha. Yang satu mahasiswi kedokteran, yang cukup terkenal dengan banyaknya prestasi. Yang satunya, Daisy, dia mahasiswi seni. Dia ini memang nggak sekeren Adiknya."
"Ohh, gue baru tahu ada mereka di kampus ini," jawab Arsel yang masih tampak terkejut dengan fakta yang baru saja ia dapat. Bukan hanya soal keberadaan mereka. Namun siapa mereka, juga di mana letak perbedaan mereka. Setelah mendengar semua itu, Arsel cukup yakin kedepannya ia tak akan salah orang. Apalagi penampilan mereka sangat terlihat berbeda.
Hari ini, rasanya adalah hari yang membuat Arsel merasa dibuat terkejut berkali-kali. Sejak ia datang pagi tadi, hingga saat ini.