Part 12. Aku Ini Sebenarnya Siapa?

1532 Kata
Setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Daisy seakan tak lelah terus berhitung mundur. Menghitung sekiranya berapa lama lagi ia harus terus-terusan pulang pergi dari kampus bersama sang Adik, Daisha, dalam satu mobil. Satu minggu yang merupakan tujuh hari. Sama artinya dengan seratus enam puluh delapan jam, atau dalam hitungan menitnya adalah sepuluh ribu delapan puluh menit. Entah kenapa terasa begitu lama sekali berlalu. Dan saat hitungan itu telah berpindah menjadi enam. Artinya enam hari sudah berlalu, menyisakan hari esok sebagai hari terakhir tugasnya sebagai seorang supir pribadi. Daisy merasa sangat-sangat senang. Kebahagiaannya begitu membuncah. Sampai-sampai sepulang kuliah tadi ia sempat berpikir, apakah malam nanti ia harus mengadakan pesta secara pribadi sebagai perayaan bahwa tugas dadakannya itu sudah berakhir? Apakah ia harus berhenti dulu di supermarket untuk membeli semua kebutuhan berpesta nya? Namun tidak jadi saat ingat bahwa Daisha sedang bersama dengannya dalam satu mobil. Pulang kuliah kali ini mereka pergi bersama karena waktu pulangnya berbarengan, kata Daisha saat Daisy baru saja sampai di parkiran kampus sore tadi. Daisha berkata, "kita pulangnya bareng ya, Kak. Kebetulan aku juga baru aja selesai kuliahnya tadi." Ya mau tak mau Daisy menganggukkan kepalanya kemudian meminta Daisha agar segera memasuki mobil. Daisy memilih untuk menonton film secara online saja sebagai salah satu bagian dari pesta perayaannya. Kebetulan ia masih memiliki stok satu bungkus snack kentang favoritnya sejak kecil. Jadi nanti saat ia sudah selesai mengerjakan tugasnya dan merasa suntuk, Daisy akan memulai pesta kecil ala Daisy itu. Barulah nanti ketika rutinitas sehari-harinya telah kembali seperti semula. Ia sudah tak lagi harus pergi dan pulang kuliah bersama sang Adik, barulah ia akan benar-benar merealisasikan pestanya. Ia akan pergi menonton film di bioskop, kemudian melakukan wisata kuliner di street food suatu daerah yang sudah sejak dulu menjadi wishlist nya. Namun belum juga dapat ia lakukan karena kesibukan kuliah juga kesibukan lainnya. Tok.. tok.. tok.. Daisy yang saat ini sedang melamun, membayangkan sekaligus merencanakan pesta perayaan kecilnya di atas kasur super empuknya. Menolehkan wajahnya ke arah pintu kamar yang sebelumnya sudah ia kunci itu. Keningnya sedikit mengeryit mempertanyakan siapa gerangan yang baru saja mengetuk pintunya itu. "Kak? Ini aku Daisha." Terjawab sudah rasa penasaran Daisy. Ia pun mulai bangkit dari atas kasurnya dan bergegas menuju pintu kamar. Daisy tahu betul kalau seseorang yang berada di balik pintu saat ini tidak akan menyerah sampai ia membukakan pintu. Daisha akan terus-menerus mengetuk pintu kamarnya. Membuat Daisy merasa pening kepala akan perpaduan yang sangat luar biasa itu. Suara ketukan pintu yang terdengar begitu keras dan nyaring. Juga suara Daisha yang terdengar begitu lantang dan melengking. Daisy berani bertaruh bahwa orang yang berada di balik pintu kamar itu mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaganya. "Kak.. Kak Daisy.." "Ya ampun ini anak!" "Iya bentar. Gue denger kok," ucap Daisy di sela-sela langkah kakinya menuju pintu kamar. Daisy yang pada awalnya tidak akan menyaut, akan langsung membuka pintu saja, urung ia lakukan. "Kak.." "Gue udah denger! Astaga!" ucap kesal Daisy, dan dengan segera membuka pintu kamar tidurnya. Menampilkan raut wajah Daisha yang kini sedang menatapnya dengan senyuman manis yang begitu lebar. "Ada apa?" tanya Daisy to the point. Memang ia selalu begitu kepada Daisha. Tak ingin sekali mengobrol lama, apalagi hanya sekedar berbasa-basi saja dengan sang Adik. "Hehe. Ayo, sekarang jam berapa?" Daisy mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Kenapa menanyakan perihal jam padanya? Memangnya tidak ada jam di kamar Daisha? Di pergelangan tangannya tidak ada jam? Padahal kan di zaman yang super canggih ini tidak ada alasan untuk kita tidak tahu waktu. Handphone, laptop, dan tablet sudah disertai dengan fitur jam. Meskipun seandainya Daisha tidak memiliki jam dalam bentuk nyata seperti jam dinding dan jam tangan. Ia dapat mengetahui hal itu dari benda-benda elektronik yang selalu ada dalam jangkauannya. Mengingat kebanyakan orang tidak bisa berjauh-jauhan dengan yang namanya ponsel. Ya, meskipun benda canggih itu tidak selalu digunakan. Meski malas memberikan jawaban, Daisy tetap menjawab pertanyaan Daisha. "Jam setengah sembilan," jawab Daisy setelah ia melihat sebentar ke arah jam yang melingkar di lengan tangan kirinya. "Sudah ingat sekarang harusnya kita di mana? Ngapain?" Daisha kembali memberi pertanyaan untuk Daisy. Yang tentu saja berhasil membuat Daisy semakin kesal. Kenapa susah sekali langsung to the point saja? Oh lihatlah bagaimana Daisha saat ini, terlihat sangat menikmati wajah kesal yang Daisy tampilkan. Sampai-sampai senyuman manis lagi lebar itu masih setia bertengger di kedua daun bibirnya itu. Daisy langsung menatap terkejut ke arah sang Adik saat ia ingat apa yang dimaksud sang Adik. Makan bersama. Ya, salah satu kegiatan yang dijadikan sebagai salah satu rutinitas rutin di keluarga Ayah Danu. Salahkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk dan asyik dengan rencana pesta ala Daisy nya itu. Sampai-sampai ia lupa bahwa seharusnya beberapa menit lalu ia sudah berada di ruang makan. Alamat Daisy akan kena semprot sang Mama sesaat lagi. Duh, kenapa Daisy melupakan rutinitas rutin mereka itu? "Oh iya gue lupa. Makasih ya," ucap Daisy yang bergegas menutup pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju lantai satu rumahnya, tepatnya menuju area ruang makan. "Hhe. Kakak barusan bilang terima kasih ke aku?" tanya Daisha di sela-sela langkah kaki mereka menuju ruang makan. Selama perjalanan singkat ini, Daisha selalu berusaha untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan sang Kakak. Berjalan beriringan dengan sang Kakak, dan berusaha untuk membangun obrolan dengan sang Kakak. "Heemm. Gue rasa omongan gue cukup jelas tadi. Telinga lo masih berfungsi dengan sangat baik juga kan?!" jawab Daisy yang sebenarnya adalah sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Mengingat ia tidak membutuhkan jawaban apa pun dari sang Adik. "Jelas masih berfungsi lah hehe. Kalau boleh tau tadi Kakak lagi ngapain? Sampe lupa makan malem gitu." Hening. Daisy memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Daisha. "Kak..?" Daisy sampai menghentikan laju langkahnya saat mendengar Daisha kembali berbicara kepadanya, menanyainya. Terlalu ingin tahu sekali sih dia? Kepo! Pikirnya. "Bentar lagi kita nyampe ruang makan. Gue nggak mau tambah dimarahin Mama karena malah asyik ngobrol dari pada cepet-cepet ke ruang makan. Mereka dari tadi nungguin gue turun kan buat makan bareng?" ucap Daisy yang langsung direspon cepat oleh Daisha, berupa anggukan kepala. Daisy mulai kembali berjalan. Namun belum sampai tiga langkah, ia kembali menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya karena Daisha kini memilih untuk melangkah mengikutinya dari belakang. Daisy yang tiba-tiba menghentikan langkahnya itu berhasil membuat Daisha yang ada dibelakangnya hendak menabraknya, jika Daisy tidak segera menghentikan langkah sang Adik dengan cara menaruh telunjuknya di kening Daisha. Sepertinya Daisha sedang melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan. "Hm?" tanya Daisha dengan raut wajah kebingungan. "Lain kali kalo lo nanya gue, dan gue memilih untuk diem. Itu artinya gue lagi nggak mau jawab pertanyaan lo. Ngerti ya?" ucap Daisy yang kembali Daisha jawab dengan sebuah anggukan. Namun anggukan itu terasa lemah, dan sangat tidak bersemangat. Daisha bahkan tadi sempat menatap terkejut ke arah sang Kakak. Sebegitu susah dan malas kah sang Kakak menjawab pertanyaannya? Atau pertanyaan yang Daisha tanyakan terlalu sulit untuk dijawab? Daisha pikir pilihan pertama adalah jawabannya. Meski sebenarnya ia tak suka pilihan itu. "Nggak inget makan apa gimana? Nggak kasihan sama Mama, Ayah, dan Daisha yang harus menahan lapar sampai kamu turun? Sampe Daisha harus nyusulin kamu ke kamar. Atau jangan-jangan kamu sengaja lagi pingin kita kelaparan?" tanya Mama Sela panjang lebar, saat keberadaan Daisy mulai terlihat. "Ma.. Nggak mungkin lah Daisy kayak gitu. Sini sayang duduk. Kita makan malam sama-sama. Omongan Mama barusan nggak usah dipikirin. Kita nggak selapar itu kok," ucap Ayah Danu seraya meminta Daisy agar segera duduk saja. "Ya karena ini nih. Makanya anaknya jadi manja dan suka seenaknya begitu. Dimarahin malah dibela. Jangan terlalu memanjakan dia! Nanti kelakuannya semakin menjadi-jadi." Mama Sela yang sudah bersiap untuk makan, karena saat ini ia sedang menuangkan nasi beserta lauknya ke atas piring yang ada di hadapannya. Sepertinya sang Mama masih belum puas memarahi Daisy. "Maaf. Tadi Daisy lupa, karena lagi asyik nugas. Daisy janji ke depannya Daisy nggak akan lupa, sesibuk apa pun itu." "Jangan berbohong hanya untuk membela diri. Alesan. Beneran lagi nugas, apa pura-pura lagi nugas? Aslinya asyik drakor-an?" "Ini piring buat kamu ya, Mama nanti ambil lagi." Mama Sela memberikan sepiring nasi yang sudah diberi lauk pauk kepada Daisha, sang putri kesayangan. "Makasih, Ma." Sebetulnya Daisha merasa tak perlu sang Mama melakukan hal ini kepadanya. Selain karena saat ini ia sudah besar, Daisha pun merasa tak enak kepada sang Kakak yang sempat menoleh ke arahnya dalam beberapa detik itu. Daisy memilih untuk tak merespon ucapan sang Mama. Menurutnya jawaban apa pun yang akan ia berikan, sang Mama pasti tidak akan mempercayainya. Dan tentu saja kejadian setelahnya jika ia kembali menjawab, sang Mama tidak akan tinggal diam sampai Daisy diam. Beliau akan selalu membalas ucapannya. Entah mengucapkan ketidakpercayaannya, mencecarnya, atau membahas hal lain yang ujungnya adalah untuk memarahi Daisy. Perihal sang Mama yang menyiapkan sepiring nasi beserta lauk pauknya untuk sang Adik, alias saudari kembarnya yang tentu saja seumuran dengannya. Daisy tidak ingin terlalu larut dalam memikirkannya. Apa yang barusan sang Mama lakukan bukan lah hal baru. Sang Mama sering melakukan hal itu kepada Daisha meski tak setiap hari. Hanya saja Daisy sering bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah posisinya di sini adalah anak kandung sang Mama? Saudari kandung Daisha? Atau justru Daisy sebenarnya adalah anak tiri Mama Sela? Atau tebakanya yang paling buruk, Daisy adalah seorang anak angkat yang kebetulan wajahnya begitu mirip dengan Daisha?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN