Menjadi seseorang yang mudah sekali overthinking adalah apa yang sering Daisy lakukan beberapa tahun belakangan ini. Menganggap dirinya seperti anak yang tak diharapkan, merasa bukan bagian dari keluarga ini, merasa tidak ada artinya, dan lain sebagainya. Sungguh terasa menyakitkan, menyiksa, dan membuatnya terasa begitu menyedihkan.
Sebetulnya Daisy tahu bahwa overthinking Itu jauh dari kata baik. Perbandingannya jelas berbeda jauh sekali dengan positif thinking. Memiliki efek samping yang tidak baik, salah satunya overthinking itu dapat berimbas ke kesehatan mentalnya.
Namun apa mau dikata. Meski sebenarnya Daisy tahu akan semua hal itu, dan selalu memiliki keinginan untuk tak lagi berpikir yang tidak-tidak, juga selalu berusaha untuk bersikap cuek dan masa bodoh. Tapi tetap saja perasaan dan pikirannya terkadang susah untuk diajak bekerjasama. Lingkungan dan apa yang dialaminya pun menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorongnya menjadi mudah overthinking.
Namun satu yang ia paham. Berusaha dan selalu berusaha adalah sebuah kunci. Daisy pun pernah mendengar bahwa sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jadi setiap harinya, Daisy selalu mengusahakan diri untuk bersikap cuek, dan masa bodoh dari apa yang dapat membuatnya menjadi demikian. Tidak terlalu memikirkan apa yang ia dengar, dan apa yang ia lihat. Agar pikirannya tak lagi mudah overthinking. Di samping itu pun ia akan berdoa juga berusaha untuk bersikap baik. Terutama kepada sang Mama. Siapa tahu saja kan suatu hari nanti sang Mama akan kembali melihat keberadaannya.
Seperti saat ini. Daisy memilih untuk tetap diam saat sang Mama terus mengomelinya. Dia pun diam dan pura-pura tidak melihat saat sang Mama terlalu memerlihatkan rasa sayangnya kepada Daisha. Ia akan berbicara saat dirasa perlu, sambil mencoba menenangkan hati dan pikirannya agar tidak terlalu berlebihan dalam hal cemburu.
Saat piring makannya sudah kosong tak bersisa. Daisy sudah menghabiskan makanannya. Ia menyunggingkan senyuman samarnya. Sebentar lagi ia akan bergegas kembali menuju kamar tidurnya.
Daisy dengan segera menegak habis air minumnya, hingga tandas tak bersisa. Kemudian bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi meninggalkan meja makan. Namun suara sang Mama yang kembali terdengar, berhasil membuat Daisy menghentikan aksinya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Mama Sela seraya menatap Daisy dengan tatapan datarnya.
"Mau ke kamar, Ma. Daisy udah selesai makan," ucap Daisy yang masih dalam posisi berdiri itu.
"Duduk dulu. Ada yang mau Mama bicarakan, dan kamu juga harus dengar," ucap Mama Sela menjelaskan maksud dan tujuannya. Daisy pun dengan patuh kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.
Daisy menunggu semua orang yang berada dalam ruang makan itu menghabiskan menu makan malam mereka dengan perasaan penasaran. Merasa menyesal juga ia tadi terlalu cepat dalam menghabiskan makanannya. Ya, meskipun niat awalnya agar ia bisa segera pergi meninggalkan ruang makan.
"Ada apa, Ma?" tanya Ayah Danu saat dilihatnya semua orang telah menghabiskan makan malamnya. Ia pun turut penasaran atas apa yang akan sang istri bicarakan, karena sebelumnya sang istri belum membahasnya dengannya.
"Bukan apa-apa kok, Yah. Sebenernya ini hanya untuk anak-anak aja. Jadi kalau misalnya sekarang Ayah ada kerjaan yang harus diselesaikan nggak papa langsung ke ruang kerja aja."
Jawaban Mama Sela tadi tentu saja berhasil membuat Daisy semakin penasaran. Pembicaraan khusus untuknya dan Daisha, kira-kira apa ya?
"Nggak papa. Ayah lagi pengen nyantai-nyantai dulu kok. Nanti agak maleman baru ke ruang kerja. Nggak banyak juga kerjaannya," jawab Ayah Danu yang segera mendapatkan anggukan dari Mama Sela.
"Besok sore kalian berdua nggak ada jadwal apa-apa kan?" tanya Mama Sela dengan tatapan mata yang langsung tertuju ke arah Daisy. Agar putri pertamanya itu langsung memberinya jawaban tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Takut jika Daisy akan berbohong dan berusaha memberinya alasan termasuk akal mungkin agar ia bisa memakluminya.
"Eeeuu.. Enggak..?" jawab Daisy dengan nada suara yang terdengar ragu. Dia bingung juga harus menjawab apa. Meskipun memang sebenarnya besok sore yang dimaksud Daisy tidak memiliki agenda apa-apa. Jadwal kuliahnya besok kebetulan selesai pukul dua siang. Namun ia jadi takut tentang pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Apakah jawaban yang baru saja ia berikan adalah jawaban terbaik? Jawaban yang benar?
"Oke. Mama pegang ya ucapannya. Kalau kamu, Sayang? Besok sore nggak ada agenda apa-apa kan?" Kini pertanyaan juga tatapan mata Mama Sela tertuju ke arah Daisha.
"Nggak ada juga, Ma," ucap Daisha memberikan jawaban yang sama dengan sang Kakak, diikuti dengan anggukan kecilnya.
"Bagus, bagus." Mama Sela terdengar senang sekali saat mengucapkan dua kata ini. Membuat ketiga orang di sekitarnya semakin merasa penasaran.
"Ada apa memangnya, Ma? Besok sore, Ayah nggak diajak kah? Kok Ayah nggak ditanya besok sore free atau nggak."
Mama Sela terkekeh singkat mendengar celotehan Ayah Danu. Kemudian ia mengalihkan tatap ke arah kedua putrinya. "Besok Mama ngundang temen-temen arisan Mama buat ngumpul di sini. Jadi kalian berdua bantuin Mama menjamu mereka dengan baik ya."
Daisy menelan ludah. Ia, Daisha, dan Ayah Danu saling beradu tatap, dengan Daisy yang selalu memutus pertama kali aksi saling tatap itu. Tuh, kan. Seharusnya tadi ia memberikan jawaban yang sebaliknya.
"Kenapa harus di sini, Ma?" tanya Daisha penasaran, mewakili rasa keinginan tahuan Daisy juga Ayah Danu.
"Sayang kok kamu nanyanya gitu? Ya nggak papa. Mama kan udah lama banget nggak ngundang mereka buat kumpul arisannya di rumah ini. Terakhir kapan coba? Kayaknya tahun lalu deh. Hampir semua anggota udah ngelakuin ini. Ngundang grup arisan kita buat kumpulnya di rumah mereka. Masa Mama nggak sih? Mama nggak mau jadi pengundang yang terakhir ya. Pasti malu.. dikira nggak punya duit.. Kalian berdua juga nggak ada agenda apa-apa kan."
"Ekhem, sebenernya Mama sebelumnya udah cek-cek jadwal kalian sih kapan free nya supaya bisa ada di rumah pas mereka ke sini. Masa cuma Mama sendiri yang menjamu mereka? Nanti mereka mikir yang macem-macem lagi. Kan Mama punya kalian," lanjut Mama Sela, seraya membeberkan rahasianya. Ia yang sebenarnya telah mencari tahu kapan kedua putrinya memiliki waktu luang di sore hari. Ia pun sebenarnya sengaja baru memberi tahu mereka berdua malam ini. Yang tidak sampai dua puluh empat jam acara arisan itu digelar di rumahnya. Sengaja agar kedua putrinya tidak ada yang tiba-tiba beralasan memiliki agenda mendadak agar bisa mangkir dari janji mereka kepadanya.
Sungguh sudah direncanakan dengan matang.
Daisy memilih untuk segera pergi menuju kamarnya. Karena ia pikir sang Mama telah menyelesaikan ucapannya, terlihat dari sang Mama yang kini tengah asyik dengan ponselnya.. Perihal besok ia akan memikirkannya nanti di kamar. Semoga ia mendapatkan ide cemerlang, harapnya dalam hati.
"Kamu mau ke mana?" Mama Sela mengalihkan tatapannya ke arah Daisy yang suds berdiri dari tempat duduknya dan bersiap pergi menuju kamar tidurnya.
"Ke kamar, Ma. Pembicaraan Mama udah selesai kan?"
"Udah kok. Sampe kamar belajar ya! Jangan langsung tidur, apalagi drakor-an."
"Iii.. iya, Ma."
Sesampainya di kamar, Daisy memang tidak langsung tidur apalagi drakor-an, nonton drama Korea kesukaannya. Namun ia tidak belajar seperti apa yang diiakannya tadi kepada sang Mama.
Daisy melangkahkan kakinya ke kanan dan ke kiri di depan kasur empuknya. Terus seperti itu dengan jari telunjuk yang ia ketuk-ketukan ka dagunya. Ia kini sedang mencoba mencari ide. Bagaimana caranya ya agar besok sore ia tak ikut serta dalam menjamu teman-teman sang Mama?
Pasalnya dari pengalamannya tahun lalu, agenda arisan yang sang Mama maksud banyak diisi dengan acara gibah-- membicarakan orang lain, menggosipi segala hal yang mereka ingin bicarakan. Dan yang membuatnya enggan hadir saat acara besok adalah, ia salah satu korban orang yang mereka bicarakan. Daisha juga sih sebenarnya. Namun apa yang mereka gosipkan tentangnya dan Daisha sangatlah berbeda.
Jika Daisha, pada awalnya mereka akan berkata. Wah, ini pasti Daisha ya? Yang kuliah di fakultas kedokteran? Maasya Allah sekali ya.. Selain pinter, anggun dan cantik. Kamu udah punya pacar belum, Sayang? Tante tebak pasti banyak ya cowok-cowok yang ngantri supaya bisa jadi pacar kamu? Denger-denger kamu selalu menang kan kalau ikut lomba atau olimpiade. Pasti jeng Sela ini bangga banget ya punya anak kayak Daisha. Kurang lebih seperti itu. Isinya kebanyakan-- sorry lebih tepatnya semuanya berupa sebuah pujian. Tidak ada kritikan atau ucapan yang terdengar menyakitkan dan membuat si pemilik nama merasa kecil hati.
Jika Daisy, tentu saja lain cerita. Apa yang didapatnya tidak sebagus apa yang didapat Daisha. Mereka akan berkata, yang ini pasti yang namanya Daisy ya? Kakaknya Daisha.. Tante tuh selalu penasaran kenapa kamu memilih kuliah di fakultas seni. Kenapa nggak ikut Adeknya aja? Emangnya nanti mau jadi apa sih kalau kuliah di fakultas seni? Tapi saya ikut seneng sih sama jeng Sela. Seimbang gitu anak-anaknya. Yang satu mengangkatnya terbang tinggi mengudara di angkasa. Menerbangkan namanya agar dikenal di mana-mana memiliki seorang putri yang luar biasa sempurna. Tapi disisi lain ia seperti dijatuhkan saat anaknya yang lain bahkan tidak memiliki prestasi sama sekali. Saya bahkan pernah mendengar kalau Daisy ini pernah di skors waktu SMA dulu. Pasti sedih banget kan rasanya. Kesempurnaannya nggak begitu sempurna. Masih ada celah yang membuatnya merasa malu. Tapi kan memang nggak ada yang semuanya sempurna di dunia ini.
Semua yang Daisy denger tentang dirinya tidak ada yang membuatnya merasa senang. Sama sekali tidak ada, walau hanya satu kata. Dan yang Daisy sayangkan, sang Mama justru membiarkannya. Beliau malah membawa pembicaraannya santai, bahkan sesekali ikut tertawa.
Ada beberapa kalimat yang ia dengar dari sang Mama. Yang sampai saat ini tak mudah untuk ia lupakan. "Ya itulah hidup. Betul tadi. Tidak ada yang sempurna. Namun saya bersyukur, karena itu artinya saya selalu diingatkan setiap harinya untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Saya memiliki mereka yang saling melengkapi baik dan buruknya."
Yang dimaksud buruk pasti dirinya kan?
Menyedihkan sekali..