Tidur malam, mengistirahatkan tubuh adalah sebuah kebutuhan hidup manusia. Tapi bagi Daisy, tidur tidak hanya kebutuhannya, namun juga salah satu hobi favoritnya. Daisy sangat menyukai kegiatan yang satu itu.
Saat tidur, Daisy merasakan ketenangan. Apalagi jika ia bermimpi indah. Rasanya Daisy ingin berlama-lama di sana, di alam mimpi. Bahkan kalau bisa, Daisy tak merasa keberatan sama sekali jika ia selamanya hidup di alam mimpi. Karena dunia baginya terlalu kejam. Terlalu jahat dan sering membuatnya menangis dan terluka.
"Sayang.. Anak-anak cantiknya Mama. Ayo sini. Mainnya nanti lagi," ucap Mama Sela, memanggil kedua putri cantiknya, Daisy dan Daisha agar segera menghampirinya dan Ayah Danu di sebuah camp berukuran sedang. Saat ini mereka sedang melakukan piknik di pantai. Menghabiskan liburan semester genap yang akan segera berakhir.
"Daisy seneng banget kita bisa piknik di sini. Lautnya dingin. Airnya bening banget. Bersih. Udaranya juga sejuk banget hehe," ucap Daisy riang menggambarkan tempat berliburnya. Mama Sela dan Ayah Danu menatap Daisy dengan senyum mengembang. Merasa senang dan bahagia jika sang putri merasa senang.
"Kalau kamu gimana, Sha? Senang kita berlibur di sini?" tanya Mama Sela seraya mengelus pelan puncak kepala Daisha.
"Seneng dong. Pantainya indah banget. Kita setiap hari main di sini juga Daisha nggak akan bosen. Iya kan, Kak? Bisa main pasir. Kejar-kejaran.. Main air.. Pasti seru banget!" Tak hanya Daisy yang menyukai pantai. Daisha pun menyukainya. Keduanya bahkan tak akan bosan jika setiap hari bermain di sini. Sampai-sampai saat ini saja mereka tak ingat makan saking asyiknya bermain.
"Iya. Mmm, Yah? Ma?" Daisy menyebutkan nama kedua orang tuanya satu per satu. Agar mereka memfokuskan perhatiannya kepada Daisy.
"Iya, Sayang? Ada apa nih?" Ayah Danu menatap gemas Daisy yang saat ini sedang menampilkan raut wajah lucunya. Saking gemasnya Ayah Danu mencubit pelan pipi kanan Daisy yang bulat itu.
Daisy diperlakukan seperti itu justru tertawa riang.
"Gimana kalau kita pindah ke sini aja?" ucap Daisy mengutarakan keinginannya. Keinginan yang tiba-tiba muncul beberapa hari ini semenjak ia berlibur di tempat indah ini.
"Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Mama Sela bingung. Ia yang pada awalnya sedang menyiapkan makan siang mereka sampai menghentikan kegiatannya.
"Kita pindah ke sini. Rumah.. Rumahnya dipindah ke sini aja. Jadi aku sama Daisha bisa main di pantai sepuasnya."
Mama Sela dan Ayah Danu saling beradu tatap dan melebarkan senyuman. Kedua putrinya ini memang pandai bicara. Apa yang terlintas dalam benak mereka langsung mereka ucapkan dengan segera.
"Hehehe. Sayang? Mana bisa rumahnya dipindah ke sini. Gimana coba mindahinnya?"
"Bisa kok. Daisy tadi udah ngebayangin. Jadi nanti kita bagi-bagi tugas. Ayah yang bawa atapnya. Mama bawa ruang dapur sama ruag makan. Daisy dan Daisha bawa kamar tidur dan ruang bermain. Sisanya tinggal Pak Amin dan si Mbak yang bawa. Udah deh beres!" Daisy terlihat sangat bangga sekali dengan idenya. Ia menjelaskannya tadi dengan penuh semangat.
Mendengar ocehan Daisy, tentu saja Ayah Danu dan Mama Sela sama-sama menggelengkan kepala mereka. Setelahnya mereka berdua tertawa bersama sampai membuat Daisy dan Daisha terlihat kebingungan. Terdengar lucu namun takjub juga akan pemikiran Daisy yang ada-ada saja itu.
"Hehe. Maaf, Sayang. Mama nggak bermaksud ngetawain kamu ya tadi. Kamu ini gemes banget sih. Pinter banget anak-anak Mama ini. Terus kalian berdua nanti sekolahnya gimana? Ayah sama Mama gimana kerjanya? Nyari uang buat kalian jajan dan beli mainan."
"Aku sama Kak Daisy nggak sekolah juga nggak papa. Ya kalau pun harus sekolah, sekolahnya dipindahin ke sini juga aja. Semuanya dipindah ke sini. Kantor Ayah sekalian!" ucap Daisha ikut berpendapat. Namun jawaban yang keluar tidak jauh berbeda dengan sang Kakak.
"Maasya Allah.. Kalian berdua ini putri cantiknya siapa sih? Pinter banget! Gemes deh Ayah sama kalian!"
"Putri cantiknya Ayah Danu dan Mama Sela dong!" ucap Daisy dan Daisha kompak yang langsung menghambur ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Daisy memeluk sang Ayah, dan Daisha memeluk sang Mama.
"Ayah jelasin ya. Ayah paham kalau kalian pengen pindah ke sini. Main-main di sini emang seru banget. Tapi kita nggak bisa pindah kayak gitu, Sayang. Mindahinnya nggak kayak Ayah mindahin kalian kalau lagi ketiduran di ruang tv. Tinggal diangkat, digendong, terus dibawa ke kamar. Beda, Sayang. Ayah nggak bisa gendong rumah kita terus dipindah ke sini. Tapi kita harus jual rumah dulu, terus cari rumah di sini. Sekolah dan kantor Ayah juga nggak bisa asal dipindah juga. Pokoknya ribet deh, Sayang."
Mendengar penjelasan yang sang Ayah berikan, Daisy dan Daisha dengan kompak mencemberutkan wajah mereka. Keduanya merajuk karena tak bisa pindah ke pantai.
"Lho lho lho. Kok putri-putri cantik Mama pada cemberut? Ngambek nih ceritanya? Hehe. Sini dengerin Mama. Nggak papa ya kalau kita nggak bisa pindah rumah ke sini. Tapi Mama sama Ayah janji, buat selalu siap nganterin dan nemenin kalian kalau lagi pengen main di sini. Tapi nggak setiap hari ya? Kan kalian harus sekolah. Setiap liburan semester Mama janji kita liburan ke sini."
"Yeyy!" Daisy dan Daisha yang pada awalnya merajuk, kini berseru senang saat mendengar ide sang Mama. Mereka bahkan saling melompat-lompat lalu berpelukkan saking senangnya. Lucu sekali. Setidaknya setiap liburan mereka bisa berlibur ke tempat ini.
"Satu lagi, satu lagi!" Kini sang Ayah yang bersiap untuk memberikan idenya. Daisy dan Daisha pun langsung beralih ke mode siaga. Siap mendengar kejutan yang akan diberikan sang Ayah.
"Kalian doain ya semoga bisnis Ayah berjalan lancar. Ayah baaaanyaaak uangnya. Nanti Ayah beli rumah di sekitar sini. Kita bisa sering-sering pergi ke sini kapan pun kita mau."
"Yeeeyyy! Aamiin ya Allah. Pasti! Pasti Daisy doain. Setiap sholat Daisy nggak akan lupa buat doain Ayah. Supaya kita bisa sering-sering main ke sini."
"Iya Daisha juga!"
"Hehe. Sekarang Ayah nya peluk lagi dong!" ucap Ayah Danu yang kemudian melebarkan kedua tangannya. Meminta kedua putri cantiknya agar berhambur memeluknya."Makasih, Ayaaah!" ucap Daisy dan Daisha kompak dalam pelukan sang Ayah.
"Udah, udah. Acara peluk-pelukkannya nanti lagi. Sekarang kita makan siang sama-sama dulu. Ayo, ini ayam kecap spesial kesukaan siapa?" ucap Mama Sela menginterupsi kegiatan berpelukkan Ayah Danu dan kedua putrinya itu. Ia mengucapkannya seraya memamerkan sepiring ayam kecap hasil buatannya. "Mmmm, dari baunya aja udah enak banget ini."
"Mauuu!" Daisy yang memang begitu menyukai ayam kecap, apalagi buatan sang Mama yang terasa sangat spesial langsung keluar dari pelukan sang Ayah. Bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan tentu saja ayam kecap favoritnya.
Mama Sela yang melihat betapa antusiasnya Daisy dalam melahap makan siangnya melebarkan senyumannya. Memberikan usapan lembut di puncak kepala Daisy dengan penuh kasih sayang. "Maasyaa Allah. Pinternya anak cantik Mama. Makannya harus habis ya. Kalau mau nambah juga nggak papa."
"Kalau yang ini.. kesukaan siapa hayo?" Lanjut sang Mama seraya memerlihatkan sepiring ikan gurame bakar ke arah Daisha yang kini terlihat menatapnya dengan tatapan penuh binar.
"Yeeyy, it's my favorite! Thank you, Mom," ucap Daisha riang yang dengan segera mengisi tempat duduk disebelah kanan Daisy. Bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan satu centong nasi dan beberapa bagian ikan gurame bakar tersebut. "Mmm, yummy! Yummy, yummy, yummy!"
"Hehe. Enak ya?! Diabisin ya, sayangnya Mama."
"Ekhem, kalo Ayah? Makan sama apa?"
Brukkk
"Aduh! Eeeuu sakiiit," keluh Daisy seraya mengusap-usap pinggangnya penuh kelembutan. Ia terjatuh dari kasur empuk kesayangannya.
Namun keluhan akan rasa sakitnya akibat terjatuh itu tak berlangsung lama. Karena saat ini Daisy tengah menatap kosong ke sembarang arah. Rasa sakitnya tadi tergantikan dengan rasa sesak yang begitu menyesakkan.
"Hehe, ternyata cuma mimpi," celotehnya singkat yang diawali dengan suara kekehannya. Bukan jenis kekehan lucu atau bahagia. Namun lebih ke kekehan miris akan apa yang baru saja dialaminya.
Kenapa hanya sebuah mimpi? Mimpi yang begitu indah, berisikan kenangan nyata yang dulu pernah ia dan keluarganya lalui. Kenangan yang begitu indah sampai-sampai Daisy sering memimpikannya. Namun di satu sisi, Daisy kerap kali merasa sedih. Memikirkan kiranya kapan kejadian itu akan terulang kembali? Atau setidaknya dapat tergantikan dengan moment terbaru mereka yang lebih menyenangkan dan mengasyikkan.
"Wkwk. Daisy, Daisy. Di kasih mimpi indah kayak gitu harusnya seneng. Masih aja ngeluh. Nggak bersyukur!" ucap Daisy mengomeli dirinya sendiri. Bahwa ia seharusnya bersyukur, setidaknya ia masih bisa merasakan manisnya sebuah kehangatan keluarga meski hanya lewat mimpi. Daripada tidak sama sekali kan.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan yang cukup nyaring, yang terdengar dari arah pintu kamarnya berhasil membuat Daisy terkejut. Ia dengan segera langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu. Kira-kira siapa ya? Sang Mama? Sang Adik? Atau si Mbak?
Daisy kemudian menolehkan wajahnya ke arah jam dinding. Pukul berapa sekarang? Apakah ia telat lagi dalam melakukan sesuatu? Seperti kemarin?
Jam di dinding kamarnya menunjukkan waktu pukul empat pagi. Daisy semakin merasa bingung. Memangnya jam segini ia dan keluarganya ada jadwal apa? Apakah ia melupakan sesuatu, seperti kemarin malam sang Ayah mengabarinya akan mengadakan shalat malam berjamaah? Shalat tahajud?
"Ini kenapa nggak ada suaranya sih?" gumam Daisy seraya berusaha bangkit dari posisi ia yang terjatuh dari kasur tadi. Masalahnya jika ia berteriak siapa? Dan ternyata sang Mama kan bisa bahaya urusannya. Masih mending kalau ternyata orang di balik pintu itu sang Adik atau si Mbak. Kalau ia tidak berteriak, Daisy tak yakin suaranya dapat didengar dengan jelas.
Dan sampailah ia di depan pintu, meski dalam perjalanan tadi sebelah tangannya tak henti-hentinya mengusap-usap pinggangnya.
"Hai, Kak! Hhe." Ternyata Daisha, sang Adik. Ingin rasanya Daisy memarahinya panjang lebar. Namun apa daya, ia masih belum bertenaga di pagi hari yang cukup dingin ini.
"Kirain siapa. Ada apa?" tanya Daisy langsung kepada intinya. Ia tidak ingin membuang-buang waktu. Niatnya jika tidak ada hal penting yang sebelumnya ia lewatkan, Daisy ingin kembali tidur meski hanya setengah jam seraya menunggu adzan subuh tiba.
"Kakak udah bangun?" tanya Daisha dengan senyuman manis lagi lebar menghiasi wajah cantiknya.
Yang benar saja!
Daisy sampai dibuat melongo sesaat setelah ia mendengar ucapan sang Adik. Atau apakah ia salah mengira apa yang baru saja didengarnya?
"Apa?"
"Hehe. Kakak udah bangun?"
Daisy menghela napas panjang. Rupanya tadi ia memang tidak salah dengar. Kedua telinganya masih dapat berfungsi dengan begitu baik. Namun apa tadi maksudnya? Sang Adik tadi apakah sedang melindur?
"Gue sekarang bisa ada di depan wajah lo, lo pikir gue masih tidur? Kalau kayak gitu gue yang ada di hadapan lo ini siapa? Tukang kebon?" ucap Daisy kesal.
"Hehe. Bercanda, Kak."
Masih sempat-sempatnya mengajak Daisy bercanda. Tidak tahu apa kalau Daisy baru saja jatuh dari tempat tidur yang cukup tinggi itu?
"Gue orangnya nggak bisa diajak bercanda. Apalagi di pagi buta kayak gini. Ada apa?" ucap Daisy datar, namun apa yang diucapkannya memang nyata. Ia orangnya cukup serius. Jadi bisa dibayangkan bukan bagaimana kesalnya Daisy saat ini mendapatkan perpaduan kejutan yang begitu luar biasa dari sang Adik? Dibercandai, pagi-pagi pula. Mood-nya langsung terjun bebas, tentu saja.
"Aku boleh masuk dulu, Kak?" tanya Daisha penuh harap.
Daisy, meski sebenarnya ia merasa keberatan. Namun pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya lemah. Memberi izin kepada sang Adik untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Jadi, ada apa?" tanya Daisy tak sabaran. Ayolah, nasib baik bertemanlah dengannya.
"Aku duduk dulu kali, Kak. Capek tau dari tadi berdiri terus."
Baiklah, baiklah. Mohon kesabarannya wahai diri, ucap Daisy dalam hati, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Karena masih merasa kesal, Daisy memilih untuk diam saja. Menunggu Daisha untuk berbicara saja. Daripada seperti tadi dan membuatnya semakin kesal.
Daisha menahan senyumnya saat dilihatnya sang Kakak kini tampak diam dan terlihat kesal. Lucu sekali raut wajahnya. Sampai Daisha rasanya ingin memberikan cubitan di kedua pipi itu. Namun tentu saja rasa ingin itu ia tahan karena sang Kakak pasti akan marah jika ia berlaku demikian. Bisa-bisa kedepannya ia tidak boleh berada dalam jarak yang dekat dengan sang Kakak lagi. Jarak yang ada saat ini saja Daisha merasa tak suka, tak nyaman, dan terasa begitu menyakitkan. Apalagi jika sang Kakak semakin menjadi-jadi dalam hal menjaga jaraknya? Oh tidak bisa. Daisha tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Justru ia akan berusaha untuk dapat menghancurkan benteng jarak yang beberapa tahun ini sang Kakak buat untuknya.
"Ekhem. Jadi, Kak.. Tujuan aku ke sini sebenarnya, aku ingin memperpanjang masa berlaku aku jadi penumpang mobil Kakak. Boleh ya? Sampe tiga Minggu ke depan deh nggak papa. Jadi biar genap satu bulan gitu hehe. Ya?" ucap Daisha yang pada akhirnya membicarakan juga tujuannya berkunjung ke kamar sang Kakak di pagi buta seperti saat ini.
Daisy menatap tak mengerti ke arah sang Adik. Otaknya tiba-tiba ngelag. Apa maksudnya ucapan Daisha barusan? Memperoleh masa berlaku, apa maksudnya itu?
Daisy bingung. Mungkin karena ia belum sadar betul saat ini. Mengingat waktu saat ini masih menunjukkan pukul empat lebih sekian menit. Sedang waktu subuh saja masih sekitar satu jam lagi, ditambah ia yang sebelumnya terbangun karena jatuh dari kasurnya. Atau, apa ucapan Daisha memang terlalu sulit untuk dipahami?
"Duh, gimana maksudnya? Ini masih pagi banget jadi gue kayaknya belum seratus persen sadar deh. Bahasanya tolong dipermudah aja."
"Wkwk. Oke, Kak. Jadi.. kan awalnya masa berlaku aku jadi penumpang khusus mobil Kakak adalah tujuh hari. Dan, hari ini adalah tepat hari ke tujuh. Aku pengen besok-besok berangkat kuliah dan pulang kuliah bareng Kakak lagi. Jadi mau ya masa berlakunya diperpanjang? Sampai satu bulan lah minimal. Tiga minggu lagi.. Gimana? Mmm, imbalannya nanti kita gantian aja nyetir mobilnya. Jadi kan lumayan tuh di mobil bisa istirahat, nggak harus nyetir. Terus kalau masih kurang, Kakak akan aku kasih voucher makan gratis setiap harinya satu kali di kantin kampus. Aku yang bayarin maksudnya. Gimana?"
Daisy yang terlihat tidak tertarik membuat Daisha berpikir keras. Memikirkan kiranya apa yang akan membuat sang Kakak menyetujui tawarannya.
"Mmm, aku tambah satu lagi deh. Satu hari di setiap minggunya di akhir pekan, Kakak bebas mau aku ngapain. Mau minta aku nemenin plus bayarin Kakak belanja hayo. Mau ditraktir makan di restoran mana pun hayo. Apa pun deh."
Daisy kini menatap sang Adik dengan tatapan yang cukup sulit untuk Daisha tebak dan artikan. Daisy menyedekapkan kedua tangannya di atas perutnya. Menarik napasnya panjang, dan bersiap untuk mengeluarkan kata-kata yang saat ini begitu ingin ia ucapkan kepada sang Adik.
"Pertama, gue nggak keberatan sama sekali kalau berangkat dan pulang kuliah harus nyetir mobil sendiri. Kedua, gue juga nggak butuh dibayarin setiap kali gue makan di kampus. Ketiga, gue tau lo punya banyak uang di tabungan. Uang dari hasil lomba, olimpiade, dan entah dari mana lagi. Uangnya lebih banyak kan dari pada gue? Tapi gue nggak sekere itu harus segalanya dibayarin."
Mendengar jawaban sang Kakak, tentu saja Daisha merasa terkejut. Ia tidak bermaksud apa-apa tadi. Apalagi seperti apa yang sang Kakak bilang tadi. Ia pun tak menyangka kalau sang Kakak akan sesensitif itu. Apa sang Kakak saat ini sedang PMS?
"Lho, Kak. Aku nggak bermaksud seperti itu. Sebenarnya aku hanya ingin bersama Kakak aja. Pergi ke kampus, pulang dari kampus, bareng-bareng sama Kakak. Hampir satu minggu ini kita kan selalu bareng-bareng, jujur aku seneng banget. Kayak kenangan lama kita kembali gitu. Kakak nggak mau apa kedepannya kita kayak gitu lagi? Kayak dulu?"
Daisy membuang muka saat dilihatnya sang Adik memberikan tatapan mata penuh harapnya. Juga, ada raut wajah sendu di sana. Ia tak tahan melihatnya.
Jujur, sebenarnya Daisy tahu apa maksud Daisha sebenarnya. Ia pun tahu betul kalau sang Adik tidak ada sama sekali pikiran untuk meremehkannya. Namun tetap saja, Daisy tidak bisa. Apa pun yang berhubungan dengan Daisha, ia akan selalu mengucapkan tidak. Tidak bisa, tidak mau, dan tidak tidak lainnya. Daisy akan berusaha melakukan dan memilih itu.
"Oke gue ngerti maksud lo. Tapi maaf gue nggak bisa. Sekarang lo bisa keluar dari kamar gue?"
Daisha menggelengkan kepalanya kuat. Ia yang pada awalnya tak akan memaksa berpikiran untuk berubah pikiran sesaat setelah sang Kakak berdiam untuk berpikir tadi. Saat sang Kakak merenung dalam beberapa detik tadi.
"Tapi kenapa?"
Satu kalimat yang saat ini terus berputar dalam benak Daisy. Di pagi hari yang begitu sejuk ini ia tidak ingin lepas kendali. Ia tidak ingin hilang kesabaran. Dan ia juga tidak ingin moodnya hilang bahkan sejak awal pagi. Oleh karena itu yang Daisy lakukan adalah ia menarik tangan Daisha, dan membawanya keluar dari kamar tidurnya.
"Maaf gue nggak bisa. Gue nggak mau"
Dan langsung menutup rapat pintu kamarnya.