Part 15. Dadar Gulung

1878 Kata
Di suatu pagi yang cerah, terlihat dua orang gadis cantik berjalan beriringan meninggalkan pintu rumah. Dua orang gadis cantik dengan langkah santai berjalan menuju sebuah mobil berwarna putih yang sudah siap untuk dikendarai, setelah sebelumnya sudah dikeluarkan dari garasi juga dipanaskan mesin mobilnya oleh Pak Amin. Kedua gadis itu sama-sama cantik. Wajah mereka sangat mirip. Tinggi mereka pun tak berbeda jauh, hanya berbeda dua cm dengan posisi tinggi sang Kakak yang lebih tinggi dua cm daripada sang Adik. Namun penampilan, gaya berpakaian, mereka memiliki ciri khas masing-masing. Sang Kakak lebih suka berpenampilan casual, dengan lebih memilih mengenakan sweater, hoodie, jacket, cardigan, shirts, denim wear, blazer, dan yang sejenisnya. Sedangkan sang Adik lebih suka berpenampilan feminim, anggun, juga elegan, dengan lebih memilih mengenakan dress, tunik, blouse, dan yang sejenisnya. Ya, tak lain mereka berdua adalah Daisy dan Daisha. Dua bersaudara, tepatnya saudari kembar yang saat ini hendak pergi menuju kampus tercinta. Daisha yang kini sedikit lebih tenang dibanding awal-awal mereka berangkat kuliah bersama, membuat Daisy pun merasa tenang dan nyaman dalam berkendara. Ia tak harus dilanda bingung, kesal, bad mood dan lain sebagainya. "Ekhem." Suara dehaman yang berasal dari arah samping tempat duduknya, berhasil membuat Daisy terkejut. Membuatnya segera siaga takut-takut Daisha mulai beraksi seperti sebelum-sebelumnya. Mengajak Daisy mengobrol, atau jika Daisy tak menanggapinya Daisha akan berceloteh sendiri, menggangunya dengan berbagai hal, dan lain sebagainya. Yang terkadang membuat Daisy menjadi plin-plan. Kadang ia merasa gemas dan lucu, kadang juga merasa kesal. Dan merasa kesal inilah yang paling dominan dan menyiksanya. Tak ada suara setelahnya. Daisha rupanya hanya berdeham saja. Daisy mengembuskan napasnya lega. Namun tak lama berselang. Mungkin sekitar satu setengah menit kemudian. Suara dehaman itu kembali terdengar. Daisy mengernyitkan dahinya. Menoleh sekilas ke arah Daisha yang kini tampak biasa saja. Seperti memang hanya sekedar ingin berdeham saja. Tenggorokannya tadi sedikit gatal atau kering? Daisy mencoba untuk menebak. "Baiklah. Mari kita abaikan saja." Pikir Daisy dalam hatinya. Sekitar dua menit lebih tiga puluh detik kemudian.. "Ekhem." Suara dehaman kembali terdengar, untuk yang ketiga kalinya dari Daisha. Apakah Daisy masih dapat diam, tenang, dan bersabar? Oh tentu saja tidak! "Kenapa sih? Tenggorokannya gatel? Atau kering? Minum gih. Bawa botol minum kan?" ucap Daisy, yang pada akhirnya ia mengeluarkan suaranya. Lebih panjang dari hanya sebuah dehaman yang berasal dari Daisha. Mendengar ucapan sang Kakak, yang Daisha artikan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian, membuat Daisha melebarkan senyumnya. Daisha menganggukkan kepalanya, menuruti perkataan sang Kakak kemudian menggeledah isi tas kuliahnya. Sesaat setelah ia menemukan keberadaan botol minum yang selalu ia bawa ke mana pun itu, Daisha langsung meminumnya dengan penuh semangat. "Disuruh ayang. Harus semangat minumnya supaya ayang seneng," ucap Daisha membercandai dirinya sendiri dalam hati. "Minumnya jangan kayak orang nggak bisa minum sebulan. Woles (santai) aja. Nggak ada yang bakal minta kok. Nanti kalau keselek tau rasa," ucap Daisy mengingatkan, saat dilihatnya sang Adik meminum air minumnya seperti seseorang yang sedang kesurupan. Bar-bar sekali. Daisha kembali menolehkan wajahnya ke arah sang Kakak. Turut melebarkan senyumnya kembali, dan langsung menganggukkan kepalanya mengerti. "Kalau ayang maunya gitu, baiklah! Wkwk," ucap Daisha membercandai dirinya sendiri. Lagi. Entah kenapa ia merasa baper akan perhatian yang samg Kakak berikan kepadanya. Meng-salting kalau kata anak-anak zaman sekarang. Padahal mereka hanya Adik dan Kakak. Saudari kandungnya, yang juga merupakan saudari kembarnya. The real meng-salting sama Kakak sendiri. "Mm, Kak. Bener nih nggak mau nerima tawaran aku pagi tadi?" Kalau Daisy boleh jujur, sebenarnya karena inilah ia beberapa berdeham tadi. Karena entah kenapa ia merasa gugup saat hendak akan kembali membujuk sang Kakak soal tadi pagi. Siapa tahu saja kan sang Kakak berubah pikiran. Daisy tidak memberikan jawaban yang berarti. Saat mendengar pertanyaan Daisha tadi ia hanya menolehkan kepalanya dengan dahi berkerut bingung. Kemudian mengabaikan pertanyaan Daisha dan lebih memilih fokus terhadap kegiatan mengemudinya. Daisha tak berkecil hati mendapat respon seperti itu dari sang Kakak. Ia justru mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang berbeda. "Itu lho, Kak. Soal obrolan kita tadi pagi. Tentang perpanjangan masa berlaku aku bisa terus nebeng sama Kakak. Beneran nih nggak mau nerima tawaran aku? Lumayan banget tau." Oh soal itu. Mau berapa kali pun sang Adik menawarinya, mau seberapa besar dan bagus penawaran yang ditawarkan kepadanya. Daisy tidak akan setuju. Karena apa yang dilakukannya selama satu minggu ini saja ia lakukan karena terpaksa. Karena permintaan serta bujukan sang Ayah. Lagi pula Daisy yakin, sang Mama tidak akan menyetujuinya jika kebersamaan mereka yang cukup singkat ini terus berlanjut. Pasti sang Mama akan berkomentar, "Janganlah. Lebih baik kalian berdua berangkat dan pulang masing-masing aja. Selain karena jam kuliah kalian berdua nggak selalu sama. Mama takut kamu ketularan Kakak kamu. Jadi anak pemalas." Atau dengan bahasa yang lebih halus, "Mama ngerti kenapa kamu pengen berangkat dan pulang kuliah bareng sama Kakak kamu. Tapi kan kalian udah besar. Udah dewasa. Kegiatan, kepentingan, dan fokus masing-masing dari kalian Mama yakin pasti berbeda. Jadi sendiri-sendiri aja lah ya. Mama juga ngerti mungkin kamu bisa membentengi diri kamu supaya nggak tertular Kakak kamu yang pemalas itu. Tapi kan kedepannya nggak ada yang tau. Siapa tahu kamu penasaran rasanya jadi orang malas itu kayak apa? Kamu coba-coba terus malah keterusan dan keenakan. Pokoknya Mama nggak mau ambil resiko." "Kamu dan Daisy pasti udah pernah denger kan kalau bagaimana kita itu tergantung sama lingkungan kita. Sama temen-temen kita. Kalau sering berinteraksi dengan penjual minyak wangi kita akan ikut wangi karena wewangiannya menempel dan mengikuti kita. Tapi kalau misalnya berinteraksi dengan tukang las, maka lama kelamaan bau yang tercium dari badan kita adalah bau besi, bau sengatan api, dan lain-lain. Jadi kalau kamu keseringan berinteraksi sama orang malas, ada kemungkinan kamu juga akan ikut menjadi malas. Tentu aja Mama nggak mau. Mama nggak mau ambil resiko. Kamu harapan Mama satu-satunya lho." Daisy tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut sang Mama. Ia juga tak ingin dijadikan kambing hitam oleh sang Mama nantinya. "Bener dong. Keputusan gue udah final. Dan, lo lebih baik nggak usah ngelakuin apa pun deh supaya gue berubah pikiran. Buang-buang waktu sumpah. Karena jawaban gue tetep nggak mau, sebanyak dan sebagus apa pun penawaran yang lo buat dan kasih ke gue," jawab Daisy dengan tegas. Mendengar jawaban yang sang Kakak berikan, Daisha tentu saja merasa kecewa dan sedih. Dia saat ini hanya bisa terdiam dengan raut wajah mendungnya. Dia sudah tidak bisa menawarkan penawaran baru kepada sang Kakak, karena sepertinya ucapan sang Kakak barusan sangatlah serius. Setelahnya tidak ada lagi obrolan di antara mereka, hingga mobil yang membawa mereka sampai di parkiran kampus. Sepanjang perjalanan menuju kampus tadi, setelah ucapan penolakan terdengar dari mulut Daisy, kedua saudari kembar itu hanya asyik tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Baik Daisy mau pun Daisha keduanya saling mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Kenapa sang Kakak tega sekali kepadanya? Kenapa Daisy sampai sekeras itu memberikan penolakan kepada Daisha.. Dan, pertanyaan yang selalu Daisy ulang-ulang sejak tadi adalah.. kenapa nasib mereka berdua menjadi seperti ini? Keduanya yang merupakan saudari kembar, kenapa harus saling menyakiti seperti ini? *** Selama jam perkuliahannya berlangsung tadi, jujur saja Daisy tidak bisa fokus dalam hal menyimak dan memperhatikan. Raganya ada di sana, bersama sang dosen dan teman-teman sesama mahasiswa dan mahasiswi, namun hati dan pikirannya tidak ada di sana. Hati dan juga pikiran Daisy melanglang buana ke mana-mana. Memikirkan apakah ia harus datang sore nanti? Ia harus pulang menuruti keinginan sang Mama untuk menjamu tamu arisan sang Mama? Atau lebih baik tidak usah saja, dan memilih pulang di waktu malam dengan sebuah alasan? Keputusan akhirnya ada padanya saat ini. Karena waktu sore yang dimaksud tadi kian bertambah detik dan menit, kian dekat. Mendekat secepat kilat, tanpa ia sadari dan minta. Itu lah waktu. Dia berlalu begitu cepat tanpa terasa. Bahkan saat ini, di masa ini, Daisy sangat menyadari bahwa perpindahan waktu itu terasa begitu cepat. Sangat cepat. Membuat Daisy kadang berpikir dan bertanya, apakah ini yang dimaksud dengan tanda-tanda akhir zaman? Yang pernah ia dengar saat sang Mama mengundang teman-temannya untuk menghadiri acara kajian di rumahnya. Saat itu, seorang ustadz pernah menyebutkan perihal hal ini. Membuat Daisy yang mendengarnya menjadi takut namun bersyukur juga bahwa ia bisa mendengar materi tersebut. Materi keagamaan yang sangat penting, sebagai reminder yang akan selalu Daisy ingat. "Woy! Lo kenapa dah? Dari pagi gue perhatiin kayaknya lo nggak pernah fokus nyimak materi. Ada masalah?" ucap Tika berbisik, merasa penasaran akan kelakuan Daisy satu harian ini yang menurutnya tak biasa itu. Jujur saja, selama kurang lebih satu mingguan ini Tika dan kedua temannya yang lain, Diana juga Tari merasa lega akan perubahan sikap Daisy. Daisy yang tak seaneh dulu, saat-saat mereka dibuat khawatir, bingung, sekaligus penasaran akan apa yang terjadi kepada Daisy. Tika pikir masalah yang menimpa Daisy dulu sudah selesai karena selama satu minggu ini Daisy nya kembali seperti Daisy yang ia dan kedua temannya yang lain kenal. Tapi kok sekarang kenapa Daisy kembali terlihat berbeda? Apa sebenarnya yang Daisy sembunyikan dulu, entah masalah atau apa pun itu belum selesai? Masih menghantui Daisy? Atau, apakah ada hal yang baru lagi? "Nggak papa. Gue lagi bingung aja harus langsung pulang atau nggak," jawab Daisy jujur yang berhasil membuat Tika merasa dapat bernapas lega. Kalau Daisy berani memberikan jawaban jujurnya, itu artinya bukan masalah yang terlalu serius. Tidak harus disembunyikan seperti waktu itu. "Ohh, kirain ada apa. Kenapa gitu pake acara bingung segala? Setau gue lo anaknya paling seneng setiap kali pulang kuliah," tanya Tika penasaran, tentunya dengan masih berucap pelan. Kebetulan posisi duduk keduanya berada di tempat yang cukup aman dari jangkauan sang dosen. Semoga saja kegiatan mereka saat ini tidak terdengar dan tidak diketahui oleh sang dosen. "Nyokap gue ngundang temen-temen arisannya ke rumah sore ini. Dan gue sama Daisha disuruh pulang cepet buat menjamu mereka. You know lah alasan gue sebenernya kenapa bisa bingung kayak gini sekarang." Tika menganggukkan kepalanya singkat sebagai jawaban. Tentu saja ia tahu apa alasan yang dimaksud Daisy. Alasan yang membuat teman dekatnya, teman yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya, bahkan saudarinya, merasa bingung dan galau seperti itu. Karena waktu itu, Daisy sudah pernah menceritakan apa yang dialami juga dilaluinya selama teman-teman arisan sang Mama berada di rumahnya. "Menurut gue lo mendin nggak usah ikutan aja deh. Nggak usah langsung pulang. Ntar bikin alesan apa lah yang kira-kira nyokap lo bisa percaya dan ngerti." Tika menyatakan pendapatnya setelah mencoba memikirkan dan menimbang baik buruknya untuk Daisy. Tentu saja sebagai seorang teman, apalagi sahabat dan saudari yang artinya sudah sangat dekat itu, Tika tidak ingin melihat Daisy kembali terluka. Meski yang Daisy dapat dari acara itu hanya sebuah cibiran, kata-kata menyakitkan, bukan perlakuan yang menyerang fisik. Tetap saja membuat Daisy sakit. Bukan kah dari hanya sekedar kata-kata, sebuah ucapan, efeknya tetap bisa semenyakitkan itu juga? Bahkan hanya sebuah ketikan jari pun, di masa sekarang ini bisa begitu berbahaya. Karena efeknya juga bisa semenyakitkan itu juga. Baik perbuatan, perkataan, mau pun tulisan, semuanya dapat melukai seseorang. "Menurut lo gitu ya?" tanya Daisy yang langsung Tika angguki. "Menurut gue juga sebenernya gitu sih. Tapi gue masih bingung kira-kira gue harus ngasih alesan apa sama nyokap supaya dia bisa percaya dan ngerti." "Apa pun itu. Dan lo kalau misal butuh bantuan gue, tentang apa pun itu. Just call me! Gue akan selalu ada buat lo. Ngebantu lo. Everything and anything for you!" "Awww so sweet! Thank you, Darling!" "Wkwk. Jijik tau. Darling, darling. Gue mending dibilang dadar gulung dari pada darling sama you. Dadar gulung enak soalnya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN