Daisy sangat-sangat bersyukur memiliki teman dekat seperti Tika, Tari, dan juga Diana. Mereka selalu ada untuknya, selalu siap menjadi pendengar setianya, selalu ada di saat Daisy membutuhkan pendapat atau hanya sekedar saran, selalu siap siaga jika Daisy membutuhkan bantuan, dan lain sebagainya. Saking begitu banyak hal yang selalu membuat Daisy merasa bersyukur memiliki mereka. Mereka yang tak hanya merupakan salah satu temannya, namun juga merupakan sahabatnya. Bahkan mereka saling menganggap bahwa mereka ini adalah saudari beda Ayah dan Ibu. Saudari sesama muslim, yang kedekatannya tak berbeda jauh, bahkan saat ini melibihi kedekatan antar saudari kandung.
Apa yang baru saja ia dan Tika obrolkan tadi, meski hanya sebentar dan cukup rahasia karena mereka bercakap dengan cara berbisik agar tidak didengar oleh yang lain. Sungguh berarti bagi Daisy. Menambah keyakinannya akan apa yang ingin ia pilih. Dan Daisy pun yakin, meski kedua teman dekatnya yang lain, yaitu Diana juga Tari, tidak ikut dalam obrolan singkat tadi, keduanya pun akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang disampaikan Tika kepadanya tadi.
Maka saat sang dosen menutup jam kuliahnya pukul setengah tiga sore tadi, Daisy langsung bergegas pergi meninggalkan ruang kelas. Tak ingin rencananya gagal bahkan sebelum ia mencoba.
"Bye, Girls. Gue cabut dulu ya," ucap Daisy buru-buru kepada ketiga temannya, yang kemudian langsung melesat pergi setelah sebelumnya turut memberikan lambaian tangan kepada ketiga teman dekatnya itu.
"Bye.. Hati-hati ya, semoga rencananya berhasil. Apa pun itu," ucap Tika yang entah dapat Daisy dengar atau tidak. Namun sepertinya masih bisa Daisy dengar, walau tak seluruhnya mengingat meski suara Tika cukup keras, tapi langkah Daisy pun begitu cepat saat meninggalkan ruang kelas tadi.
"Lho, lho, lho. Lo mau ke mana, Sy?" Tanya Diana heran saat melihat Daisy begitu terburu-buru tadi. Kemudian langsung mengalihkan tatapan matanya ke arah Tika yang sepertinya tahu sesuatu perihal Daisy. "Dia.. mau ke mana, Tik? Kok kita berdua nggak tau apa-apa."
"Iyaa. Gue juga kepo. Dan.. Rencana? Rencana apa yang baru aja lo bilang barusan?" ucap setuju Tari yang kemudian langsung mengutarakan juga apa yang berhasil membuatnya penasaran. Satu kata yang baru saja Tika ucapkan tadi.
Rencana.
Rencana apa yang dimaksud? Sebenarnya ini ada apa sampai harus membahas perihal rencana segala? Dan.. Kenapa ia tidak tahu apa-apa? Eh, ralat. Tari dan juga Diana maksudnya. Di antara mereka bertiga hanya mereka berdua yang tidak tahu apa-apa perihal Daisy tadi.
"Wkwk. Sabar, guys. Sabar! Ayo gue ceritain sambil jalan. Tapi satu-satu ya gue bahasnya," jawab Tika seraya mulai melangkah meninggalkan area ruang kelas diikuti kedua temannya yang lain, yaitu Diana dan Tari.
***
Daisy melangkahkan kakinya cepat meninggalkan area kampus dalam menuju parkiran kampus. Dan saat langkah kakinya semakin dekat dengan tempat di mana mobil miliknya terparkir, Daisy melihat seseorang yang seharusnya ia sangat-sangat hindari saat ini.
Di sana, sekitar tiga meter di depannya. Daisy melihat Daisha sedang celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Tentu saja ia orangnya, Daisy.
Mengetahui itu sontak saja Daisy langsung mencari tempat persembunyian. Pokoknya ia tidak boleh diketahui keberadaannya saat ini oleh Daisha. Rencananya yang meskipun ia buat secara mendadak tidak boleh gagal. Kegalauannya selama satu harian ini, bahkan sebetulnya sejak semalam, yang membuatnya menjadi tidak fokus kuliah, dan lain-lain. Pokoknya semua itu, begitu juga pengorbanannya tidak boleh berakhir dengan sia-sia.
"Itu anak kok udah nangkring di sana aja sih. Semangat bener pengen buru-buru pulang bareng gue. Padahal kemarin-kemarin kayaknya nggak segercep ini deh," gerutu Daisy di tempat persembunyiannya, seraya terus mengamati Daisha dari tempatnya saat ini, yaitu di belakang badan sebuah mobil yang jaraknya cukup jauh dari tempat Daisha berada.
"Ini gimana coba cara gue kaburnya kalau dia disitu terus," keluh Daisy kesal saat detik, menit, sudah berlalu namun Daisha tak kunjung pergi meninggalkan mobilnya.
Daisy mulai gusar juga di tempat persembunyiannya. Apalagi ponselnya sejak tadi terus-menerus bergetar. Siapa lagi kalau bukan karena ulah Daisha yang sejak tadi tidak henti-hentinya menelepon juga mengiriminya pesan. Daisy tentu saja tak sama sekali mengangkatnya. Ia mengabaikan semua panggilan telepon juga pesan yang dikirim oleh Daisha.
"Lho, itu bukannya Daisy ya? Ngapain dia di situ? Katanya lagi buru-buru. Gimana sih," ucap Diana heran saat menemukan keberadaan Daisy di belakang sebuah mobil.
"Hey! Lo lagi ngapa--"
Ucapan Diana terhenti seketika. Daisy langsung memberikan kode agar Diana diam dan ikut bersembunyi bersamanya. Jujur saja, keberadaan Diana yang secara tiba-tiba ada di sebelahnya, dan menegurnya seperti tadi membuat Daisy hampir jantungan. Ia merasa terkejut luar biasa. Namun beruntungnya Daisy cukup cepat dalam mengatasi keterkejutannya. Ia tadi langsung menaruh jari telunjuknya di depan kedua bibirnya sebagai kode agar Diana diam, menghentikan ucapannya.
"Lo ngapain di sini? Mencurigakan tau nggak. Orang-orang bisa mikir yang enggak-enggak kalo liat lo kayak gini," ucap Diana sesaat setelah ia ikut bersembunyi bersama Daisy. Bukan ikut sih sebenarnya, Diana terpaksa melakukannya karena permintaan Daisy.
"Menurut lo?" Daisy justru balik bertanya dengan tatapan yang langsung kembali tertuju ke arah Daisha. Memastikan bahwa saudari kembarnya itu masih tidak tahu akan keberadaannya.
"Malah balik nanya lagi ini anak." Diana berucap kesal seraya turut mengikuti arah pandang Daisy, yang ternyata sedang memantau Daisha dari jauh. Oke, Diana mengerti sekarang. "Lo lagi ngumpet dari Adek lo?" lanjutnya, padahal Diana sembilan puluh persen yakin bahwa tebakannya itu benar.
"He'em. Lo pasti udah tau kan ceritanya dari Tika?" gumam Daisy dengan tatapan mata yang tetap tertuju ke arah Daisha.
"Iya barusan. Tapi gue setuju dan dukung lo sih buat nggak dateng aja. Dari pada luka lama lo karena waktu itu lo dijelek-jelekkan abis-abisan kebuka lagi. Ya meskipun gue tau sekarang lo udah inget lagi soal itu karena hal ini. Tapi kan setidaknya buat pencegahan supaya lukanya nggak semakin melebar. Iya nggak?"
Daisy dengan segera menolehkan wajahnya ke arah Diana. Ia memberikan senyuman manisnya. Kemudian berucap dengan raut wajah bangganya, "Yoi. Lo bijak banget ya sekarang. Gue jadi tersepona!"
"Hmm. Ke mana aja lo baru tau sekarang kalau gue ini bijak. Udah dari dulu kali."
Daisy terkekeh pelan sesaat setelah mendengar celotehan Diana. "Ya, ya, ya, ya. Whatever!"
"Btw yang lain pada ke mana? Kok nggak bareng lo?" lanjut Daisy saat sadar bahwa kedua temannya yang lain tidak datang bersama Diana.
"Oh Tika sama Tari. Si Tari tadi laper katanya. Pengen makan dulu baru pulang makanya mampir dulu ke kantin kampus. Terus minta ditemenin sama kita berdua karena nggak mau keliatan jomblo. Tapi karena gue ada perlu setelah ini, jadi gue nggak ikutan." Diana menjelaskan semua faktanya secara singkat, padat, dan jelas.
"Wkwk. Itu anak kebiasaan. Nggak bisa banget sama yang namanya nahan laper."
"Ya, you know lah!"
"Eh lo bantuin gue bisa kali. Gue dari tadi lho ngumpet di sini. Nggak peka amat!"
"Ah iya. Lo kenapa nggak bilang dari tadi sih. Malah asyik ngobrol sama gue."
"Gue baru kepikiran. Wkwk."
"Yeuhh. Kalo gitu gue nggak sepenuhnya salah dong. Gue harus gimana nih? Ngebantuin lo nya?" ucap Diana dan mulai berpikir. Memikirkan cara agar ia bisa membantu Daisy terbebas dari Daisha yang terlihat masih belum menyerah itu.
"Suka-suka lo deh. Yang penting gue bisa bebas."
"Ya udah lo tunggu di sini. Gue samperin dia dulu." Setelah berucap seperti itu Diana langsung keluar dari tempat persembunyiannya bersama Daisy. Tentu saja tadi ia keluar di saat Daisha sedang tidak menatap ke arahnya.
Diana melangkahkan kakinya dengan pelan namun pasti menuju tempat di mana Daisha berada saat ini. Pikirannya sedang bekerja extra agar ia menemukan cara untuk membebaskan Daisy. Hatinya pun tak henti-hentinya berdoa semoga usahanya ini membuahkan hasil.
Tak hanya Diana. Daisy pun sebenarnya di tempatnya saat ini kini tengah berdoa juga untuk keberhasilan Diana dalam membantunya. Semoga apa pun yang Diana rencanakan untuk dapat membebaskannya itu berhasil dan Allah mudahkan.
"Lho, Daisha kan? Apa jangan-jangan Daisy? Tapi kesambet apaan seorang Daisy bisa berubah jadi anggun begini, hehe," ucap Diana melempar candaan saat ia sudah berada di sebelah Daisha.
"Hehe, iya. Aku Daisha. Kakak ini bisa aja. Kalau Kak Daisy tau bisa marah lho," ucap Daisha seraya ikut terkekeh bersama Diana. Ia jadi membayangkan bagaimana reaksi sang Kakak bila mendengar celotehan teman dekatnyanya di belakangnya.
"Hehe biarin aja dia mah. Palingan juga disogok gado-gado, nasi padang, bakso, dia udah nggak marah lagi sama gue. Btw panggil gue Diana aja kayak Daisy biasa panggil gue. Gue sama Kakak lo cuma beda bulan. Kita seumuran berarti."
Daisha menganggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar itu. Karena tadi sebetulnya ia cukup bingung ingin memanggil Diana dengan sebutan apa, mengingat mereka hanya saling mengenal nama dan ada hubungan apa dengan Daisy. Tidak berteman, juga mereka hampir tidak pernah mengobrol bersama. Seringnya mereka hanya saling menatap saja saat tanpa sengaja mereka bertemu entah bersama Daisy mau pun tidak.
"Oke. Diana. Mmm, udah nggak ada jam kuliah?" tanya Daisha kemudian.
"Nggak ada. Udah selesai," jawab Diana jujur, dengan hati harap-harap cemas akan pertanyaan selanjutnya yang akan ia terima dari Daisha.
"Ohh. Tau Kak Daisy di mana nggak ya? Dia kok belum keliatan," tanya Daisha dengan tatapan mata yang kembali memerhatikan sekitar. Mencari keberadaan Daisy siapa tahu saja dia akan muncul.
"Ohh. Daisy. Dia nggak bilang ya sama kamu? Dia lagi nugas bareng Tika," ucap Diana mulai berbohong, seraya mengucap kata maaf atas perbuatannya ini.
"Iya nih. Kak Daisy nggak bilang apa-apa. Nugasnya di mana ya kalo boleh tau? Di perpus? Udah lama?"
Diana dapat melihat gurat kecewa di wajah Daisha saat gadis cantik itu menjawab pertanyaannya. Daisha juga pasti merasa sedih karena harus panas-panasan, menunggu lama Daisy di parkiran. Tapi ternyata orang yang ia tunggu tidak kunjung datang karena ada keperluan. Dan Daisy tidak mengabarinya sama sekali.
"Bukan, bukan. Bukan di perpus. Di luar, entah di cafe, di rumah Tika, atau nggak tau tuh mereka di mana. Tadi pas jam kuliah selesai kita langsung pencar. Aku kebagian nugas bareng Tari, Daisy bareng Tika. Jadi ya kita pisah. Aku cuma tau mereka nugas di luar sih."
"Mmm, btw aku juga mau langsung nugas sama Tari. Karena deadline-nya besok banget. Tapi dia lagi di kamar mandi. Jadi aku nunggu dia di parkiran aja biar langsung caw," lanjutnya takut Daisha menaruh curiga karena ia tak bersama Tari, sedang Daisy saja sudah pergi bersama Tika.
"Ohh. Terus ini mobilnya?" tanya Daisha bingung seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah mobil milik Daisy.
Ditanya seperti itu tentu saja Diana mendadak bingung. Pasalnya tadi ia tidak memikirkan jawaban perihal mobil Daisy.
"Eee mobilnya.. Iya ya? Mm, berarti Daisy nggak bawa mobilnya. Pergi bareng Tika karena hari ini dia bawa mobil juga. Kayaknya sih ya, biar efisien dan mereka bisa saling diskusi mereka berangkat satu mobil. Gitu. Jadi mobilnya ditinggal di sini," jawab Diana pada akhirnya. Dia turut berucap syukur juga dalam hati karena dapat memberikan jawaban yang sepertinya terdengar masuk akal. "Harusnya tadi dia dititipin kunci mobilnya ya buat lo biar kalian berdua pulangnya nggak ribet. Lo bisa pulang pake mobil dia, dia juga nanti selesai nugas bisa langsung pulang ke rumah. Nggak harus repot bolak-balik," lanjutnya.
"Ooo ya udah deh kalo gitu. Mm, mungkin Kak Daisy tadi buru-buru perginya, makanya lupa nitipin kunci mobilnya buat aku. Tapi nggak papa juga sih hehe. Aku kebetulan emang lagi mager nyetir. Ntar pulang gampang lah tinggal pesen taxi online. Kalau gitu makasih ya. Sebenarnya aku lagi buru-buru harus cepetan pulang. Jadi mau langsung pulang aja," jawab Daisha dengan kata-kata yang sebenarnya Diana tahu semua itu Daisha ucapkan agar ia terdengar tak masalah. Tak merasakan apa-apa. Daisha kemudian langsung pamit pulang dan pergi meninggalkan area parkiran setelah sebelumnya berucap pamit kepada Diana.
"Iya, sama-sama. Hati-hati ya," jawab Diana ramah dan terus memantau kepergian Daisha sampai gadis cantik itu tak terlihat.
"Daisy, Daisy. Kurang baik apa coba gue sama lo. Gue sampe bohong lho tadi beberapa kali buat nyelamatin lho," gumam Diana pelan. Namun di dalam hati dan pikirannya ia sama sekali tidak menyesal telah memilih melakukan itu. Ia lebih menyayangkan Daisy jika harus hadir dan menjamu teman-teman arisan mamanya.
Diana tidak ingin Daisy kembali terluka, meski setiap harinya ia tahu temannya itu bisa saja sering mengalaminya. Namun setidaknya mengurangi kemungkinan Daisy terluka terlalu banyak. Membuka kenangan lamanya bersama mereka dan semakin memperburuknya dengan luka yang baru. Luka yang mungkin saja rasanya akan terasa lebih menyakitkan dibanding dulu. Karena coba bayangkan saja, dulu mereka berani melukai perasaan Daisy sebegitunya di hadapan keluarga Daisy sendiri. Apalagi sekarang di saat Daisy sudah beranjak lebih besar. Mungkin mereka lebih berani lagi kan.
Saat dilihatnya Daisha sudah pergi meninggalkan area parkiran, Diana kembali melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Daisy berada tadi.
Tapi, saat Diana sudah kembali ke tempat semula, ia tidak menemukan keberadaan temannya itu. Bahkan mobil tempat Daisy bersembunyi tadi sudah tidak ada di tempatnya.
"Lho.. Ke mana perginya Daisy?"
***
Beberapa menit lalu, Arsel melangkahkan kakinya menuju area parkiran. Menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Namun dia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang seperti tengah bersembunyi di balik badan mobilnya.
Arsel memerhatikan itu beberapa saat. Dan ia cukup terkejut saat mengetahui fakta bahwa seseorang yang tengah bersembunyi itu adalah Daisy. Tapi kenapa gadis itu bersembunyi di balik badan mobilnya?
Arsel mendapatkan jawabannya saat melihat Daisy sesekali mencuri-curi pandang ke arah suatu tempat. Dan ia baru mengerti bagaimana situasinya saat tahu siapa yang sedang Daisy lihat dan perhatikan daro jauh. Daisy sepertinya sedang bersembunyi dari saudari kembarnya, tebak Arsel yang ia cukup yakin akan kebenaran dari tebakannya itu.
Arsel buru-buru melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Sesampainya ia di sana Arsel langsung masuk ke dalam mobilnya. Mulai menyalakan mesin mobilnya, dan ia terdiam selama beberapa detik untuk berpikir.
Kemudian,
Arsel memilih untuk menurunkan kaca jendela mobilnya dan berucap pelan kepada Daisy. "Hey, ayo masuk!" Arsel memilih untuk mengajak Daisy masuk ke dalam mobilnya.