Daisy yang sedang bersembunyi sembari memantau bagaimana interaksi Diana dan Daisha sempat terkejut saat mendengar suara mesin mobil yang baru dihidupkan. Pantas saja suaranya terdengar begitu nyaring sampai membuatnya terkejut. Ternyata suara itu berasal dari mobil yang telah membantunya bersembunyi.
Mengetahui itu Daisy mengedarkan pandangan matanya ke arah sekitar, berniat untuk mencari tempat persembunyian lain. Karena ia sangat yakin bahwa tempat persembunyiannya saat ini sudah tidak aman. Keberadaannya bisa diketahui oleh Daisha, dan usaha temannya Diana untuk dapat membantunya akan sia-sia jika mobil ini bergerak pergi.
Saat ucapan "Hey, ayo masuk!" terdengar, tentu saja Daisy merasa terkejut. Saking terkejutnya ia sampai hampir berteriak kaget. Karena fokusnya saat itu sedang mencari tempat persembunyian lain. Dan saat si pemilik mobil menurunkan kaca jendela mobilnya, Daisy dibuat melongo seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perpaduan macam apa ini? Kok bisa ada dia? Pikir Daisy tak percaya. Karena orang itu adalah Arsel.
Ya, memang. Masalahnya terkait laki-laki itu telah selesai. Daisy tidak harus menghindari Arsel lagi karena laki-laki itu telah berjanji akan tutup mulut. Namun tetap saja, Daisy rasa setidaknya ia masih harus selalu waspada. Seseorang bisa berubah secepat kilat. Apalagi Daisy tidak mengenal Arsel itu orangnya seperti apa. Ia hanya mengetahui beberapa hal soal Arsel, itu pun hanya sedikit, dan semua itu ia dapat dari "katanya". Katanya Arsel ini lah, katanya Arsel itu lah. Bukan hasil penilaiannya sendiri. Dan satu hal lainnya yang menurutnya penting, keakuratan penilaian kita pun tidak bisa hanya dapat disimpulkan dari sedikitnya waktu. Namun harus selalu continue.
Pasti banyak yang sudah mendengar bukan? Tentang bisa saja seseorang yang pada awalnya kita nilai baik, karena dalam kurun waktu sekian tahun ia selalu berkelakuan baik dan banyak hal positif lainnya. Namun seseorang itu tiba-tiba berubah dan berhasil membuat orang-orang terdekatnya terkejut tidak menyangka.
Karena hati manusia bisa berubah. Karena Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Oleh karenanya, seperti apa yang pernah Daisy simak dari sebuah kajian keagamaan. Kita, harus selalu berdoa. Memperbanyak doa agar senantiasa Allah istiqomahkan dalam hal kebaikan.
"Hey! Buruan masuk! Lo mau ngumpet di mana lagi coba?" ucap Arsel yang berhasil menyadarkan Daisy dari keterkejutannya. Meski tak begitu mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan padanya, Daisy bergegas membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Mobil itu pun mulai bergerak sesaat setelah Daisy mendudukkan dirinya dengan nyaman di bangku penumpang depan.
Hening, sepi, dan sunyi. Mungkin itu lah yang bisa Daisy gambarkan bagaimana suasana di dalam mobil saat ini.
Ia bingung harus berkata apa. Apakah ia harus menjelaskan alasannya kenapa ia harus bersembunyi di balik mobil Arsel? Daisy pikir tidak harus. Ia tidak perlu melakukan hal itu.
Apakah Daisy harus meminta maaf karena telah bersembunyi di balik mobil laki-laki itu? Daisy pikir tidak harus juga. Menurutnya yang penting ia tidak membobol pintu mobil laki-laki itu agar dapat bersembunyi di dalamnya. Ia pun tadi tidak sama sekali mencoba melihat-lihat apa saja yang ada di dalam mobil, dan yang lainnya. Karena tatapan matanya selalu tertuju ke arah tempat di mana Daisha berada. Fungsi mobil itu hanya untuk menutupi dirinya saja agar tidak terlihat.
Apakah Daisy harus berterima kasih kepada Arsel karena mobil milik laki-laki itu telah berhasil membuatnya aman selama beberapa saat tadi? Juga, karena laki-laki itu telah mengajak dan mengizinkannya masuk ke dalam mobilnya, kemudian membawanya pergi meninggalkan area parkiran, berhasil lolos dari Daisha, yang mana kedua hal itu memang merupakan tujuannya. Jadi, berdasarkan dua hal itu, apakah Daisy harus mengucapkan kalimat terima kasih kepada Arsel?
Untuk pertanyaan terakhir ini sepertinya jawaban yang ia harus pilih adalah iya. Karena laki-laki itu berhasil membantunya mewujudkan rencananya. Karena sampai saat ini, rencananya masih tergolong berhasil bagi Daisy. Jadi,
"Mmm, makasih ya." Daisy betul-betul menjalankan apa yang ia baru saja pilih. Mengucapkan kalimat terima kasih kepada Arsel.
"For what?" tanya Arsel seraya menoleh singkat ke arah Daisy.
"Mm, makasih karena kamu udah bantu aku," jawab Daisy dengan tanpa menatap sedetik pun ke arah Arsel. Pandangan matanya ia fokuskan ke arah depan. Jujur sebetulnya Daisy tidak berani menolehkan wajahnya ke arah Arsel. Entah alasan pastinya apa itu.
"Bantu kamu soal?"
Harus banget ya Daisy sebutkan semuanya? Secara rinci? Oke baiklah. Daisy akan menjawabnya meski ia tidak tahu apa tujuan dari pertanyaan tersebut.
"Karena mobil lo gue bisa ngumpet. Dan karena sekarang gue udah di sini, di luar area kampus yang memang itu tujuan gue ngumpet tadi."
Setelah Daisy memberikan jawabannya. Jawaban yang cukup memuaskan bagi Arsel. Arsel pun menganggukkan kepalanya. Oke dia mengerti dan paham. "Sama-sama."
Kembali hening. Namun tak berlangsung lama. Karena Arsel tiba-tiba dengan begitu beraninya mengajak Daisy berbicara. Mempermainkan mood Daisy yang begitu mudah berubah itu.
"Eumm kalau gue boleh tau lo kenapa pake acara ngumpet segala? Lagi main petak umpet lo sama Adek lo?" tanya Arsel, berusaha memecah keheningan dengan jalan membercandai Daisy.
Daisy yang pada awalnya tidak berani menolehkan wajahnya ke arah Arsel secepat kilat berubah pikiran. Sesaat setelah Arsel menyelesaikan ucapannya Daisy langsung menolehkan wajah ke arahnya. "Adek gue?" tanya Daisy dengan nada suara terkejutnya.
"Iya, Adek lo. Lo tadi ngumpet di balik mobil gue karena dia kan? Gue liat kok dari tadi selama lo ngumpet lo ngapain. Merhatiin gerak-gerik Adek lo kan?" ucap Arsel dengan tetap fokus pada kemudinya. Hanya mulutnya saja yang berbicara, sedangkan tatapan mata serta fokusnya lebih tertuju ke kegiatan mengemudinya.
"Lo ngeliatin gue sejak awal?" ucap Daisy tak percaya. Ia bahkan langsung membekap kedua mulutnya tak percaya. Pasti tingkah lakunya tadi memalukan sekali bukan?
"Enggak. Enggak dari awal banget kok. Cuma sekitar tiga menit sebelum gue ngidupin mesin mobil. Tapi ya dari situ gue langsung tau lo lagi ngapain," sanggah Arsel yang menurut Daisy tidak ada bedanya. Tetap membuatnya merasa malu karena pasti tingkahnya tadi "nggak banget". Dan Arsel memerhatikannya!
Tapi tunggu deh. Sepertinya yang lebih harus Daisy pentingkan bukan soal seberapa lama Arsel memerhatikannya. Tapi soal kalimat laki-laki itu tadi yang sempat menyebutkan kata Adiknya. Bagaimana bisa Arsel tahu seseorang yang Daisy perhatikan tadi adalah Adiknya? Dia asal menebak saja atau bagaimana? Pasalnya sejak tadi Daisha menghadap membelakanginya.
"Oke lupain soal itu. Tadi lo bilang Adek gue? Siapa yang lo maksud?"
"Cewek yang pakai dress biru laut. Yang rambutnya panjang dan lurus. Tingginya kayaknya sekitar seratus enam puluh centi-an deh. Terus juga--"
"Cukup, cukup!" Daisy dengan segera langsung memotong ucapan Arsel. Laki-laki itu kenapa sampai menyebutkan ciri-ciri Adiknya sedetail itu? Tapi kok Arsel bisa tahu kalau ciri-ciri yang ia sebutkan tadi adalah Adik Daisy? Kenapa Arsel tidak berpikir kalau mungkin saja seseorang yang Daisy amati diam-diam tadi adalah musuh Daisy yang sangat jahat. Seseorang yang cukup menakutkan hingga berhasil membuat Daisy ingin selalu bersembunyi tiap kali melihat keberadaannya.
"Kenapa lo kayaknya seyakin itu kalau dia adalah Adek gue? Lo tadi sempet liat wajahnya?" tanya Daisy penasaran.
Arsel menyempatkan diri untuk menoleh singkat ke arah Daisy. Memerlihatkan senyuman misteriusnya. Kemudian kembali memfokuskan tatapan matanya ke arah semula seraya berkata, "Nggak. Orang pas gue perhatiin tadi yg keliatan cuma bagian belakangnya. Tapi hebat kan gue?" Arsel masih sempat-sempatnya kembali menoleh ke arah Daisy dan menaik turunkan kedua alisnya secara kompak. Membanggakan dirinya bisa menebak bahwa seseorang yang Daisy perhatikan adalah Adiknya sendiri. Padahal akunya dia tadi tidak sempat melihat wajah Adik Daisy.
"Terus?" tanya Daisy menuntut jawaban lainnya. Membuat Arsel seketika terkekeh mendengarnya.
"Tadi siangnya gue sempet liat dia. Masih ingetlah gue dia pake baju apa. Jadi pas lo tadi diem-diem ngeliatin dia gue langsung tau siapa orangnya," ucap Arsel menjelaskan, yang berhasil membuat Daisy justru semakin penasaran dan ingin terus bertanya. Bukannya langsung puas dengan jawaban yang baru saja Arsel berikan.
"Jadi artinya sebenernya lo udah tau kalau gue punya kembaran?"
Arsel menganggukkan kepalanya satu kali. "Yaa."
"Sejak kapan? Lo pasti kaget banget ya waktu itu?"
"Yaa. Banget, banget, banget. Lo pasti nggak nyangka kalo gue bilang, gue tau lo punya kembaran itu sejak awal gue baru tau kalau ternyata kita satu kampus. Coba lo bayangin! Gimana kagetnya gue saat gue liat orang yang wajahnya mirip lo, tapi kok penampilannya udah beda lagi dari yang sebelumnya saat gue ngobrol sama lo. Gue awalnya masih mikir mungkin lo bawa baju ganti ke kampus. Tapi kok sekurang kerjaan itu pagi-pagi udah ganti baju lagi. Tapi anehnya gaya bicara lo juga beda pas ngomong sama gue dan pas gue liat orang yang mirip lo dengan tampilan berbeda itu. Pokoknya gue waktu itu kayak orang b**o deh. Lho, kok? Terus yang gue ucapin waktu itu. Tapi untungnya temen gue langsung ngejelasin kalo dia itu bukan lo. Tapi saudari kembar lo. Jadi wajar kalau gue bisa sekaget itu. Ya, begitulah ceritanya. Pokoknya hari itu gue ngerasa kaget itu berkali-kali. Surprise banget sih! Gokil! Dari pagi pas awal ketemu lo, sampe siang!"
Daisy yang mendengarkan cerita Arsel dari awal sampai akhir tampak terhibur. Ia sejak awal menyimak, menanggapinya dengan berbagai macam raut wajah. Di awal dia terkejut, kemudian merasa kasihan saat mendengar Arsel kebingungan, dan di saat itu juga dia ingin tertawa. Pasti menyenangkan sekali jika ia bisa melihat betapa kaget dan bingungnya Arsel saat itu. Oohh, terima kasih Arsel. Tanpa sadar laki-laki itu kini telah menghibur Daisy.
"Wkwk. Sayang sekali gue nggak ada di moment itu ya. Kalo ada mungkin gue udah ngemper di lantai kali sambil ketawa-ketawa. Atau bahkan guling-guling? Wkwk," jawab Daisy dengan diiringi candaannya. Membuat Arsel cukup terkejut, karena.. Ternyata seorang Daisy yang selalu serius itu-- menurutnya, ternyata bisa bercanda juga.
"Dasar! Gue justru bersyukur lo nggak ada di situ. Tapi ya, kayaknya sih.. gue pasti keliatan bodoh, b**o, banget waktu itu. Wkwk." Tak disangka Arsel ikut tertawa juga saat membayangkannya. Meski diawal ia sempat kesal sebentar.
"Etapi nggak cuma lo kok yang ngerasa kaget berkali-kali. Kalau lo lupa gue waktu itu kan pernah bilang kalau gue tau lo sekampus sama gue itu di hari pertama kita ketemu waktu insiden itu. Pas gue nyampe kampus ternyata gue liat muka lo di parkiran. Coba deh lo juga bayangin gimana kagetnya gue waktu itu! Di saat gue nggak pengen ada yang tau soal insiden itu, karena itu bisa jadi masalah besar buat gue. Di saat gue takut, khawatir, dan banyak pikiran, lo muncul di depan mata gue. Gue rasanya pengen punya kekuatan menghilang saat itu! Makanya setelahnya gue selalu menghindar tiap kali ketemu lo," celoteh Daisy saat diingat-ingat, ternyata nasibnya tidak berbeda jauh dengan Arsel.
"Wkwk. Kalau gitu kita kosong-kosong sekarang."
"Oke! Kosong-kosong ya! Jangan ada ya merasa dendam karena toh ternyata kita sama-sama kaget juga."
Daisy dan Arsel mengobrol cukup lama. Nostalgia. Mengingat masa-masa yang membuat mereka mendapatkan kejutan berkali-kali. Hingga keduanya tak sadar mobil Arsel melaju begitu saja tanpa arah. Sejak tadi Arsel hanya mengendarainya tanpa tujuan. Terkadang berbelok ke arah kanan, terkadang terus lurus saja, dan terkadang berbelok ke arah kiri.
"Eehh, bentar deh. Btw kita lagi ada di mana ini?" ucap Daisy bingung saat ia mencoba melihat-lihat sekitar.
Membuat Arsel yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Daisy dengan tatapan meminta maafnya. "Sori. Kayaknya saking asyiknya kita ngobrol gue nggak terlalu mikirin ini gue lagi bawa mobilnya ke mana. Lo juga nggak bilang sih di awal tadi pengen ke mana."
"Iya sih." Daisy menghela napasnya panjang. Sadar bahwa ia pun turut andil kenapa mereka bisa berada di sini. Selain karena Daisy tidak memberi tahu Arsel ke mana tujuannya di awal, dia juga tidak mengingatkan laki-laki itu. Daisy mengaku juga di dalam hatinya, kalau ia cukup menikmati obrolan santai tadi sampai lupa akan tujuannya dan tak terlalu memperhatikan sekitar.
"Tapi ini kita lagi ada di mana? Mau ke arah Bogor nggak sih?" tanya Daisy yang tak begitu yakin akan tebakannya.
"Iya. Bentar lagi nyampe Bogor."
Daisy mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Senyum kecil namun samar tercipta di kedua daun bibirnya. Ia tidak harus menyesal bisa sampai ke daerah ini. Ia cukup mengambil hikmahnya saja, pikir Daisy dalam hati.
Kenapa? Karena sejujurnya ia punya satu wishlist di daerah sini. Mungkin ini salah satu hikmah yang Allah berikan. Ia bisa mewujudkannya tanpa harus memiliki niat besar. Karena jujur saja, meski Jakarta Selatan - Jakarta Utara cukup dekat. Daisy semalas itu untuk pergi ke sana meski ia sebenarnya ingin melakukan sesuatu hal di daerah itu.
"Mmm, nggak papa deh. Gue turun di sini aja. Di depan sana lo menepi ya. Gue turun di sini," ucap Daisy dengan senyum samar yang masih belum hilang juga.
"Seriusan lo mau gue turunin di sini?"
"He'em. Nggak papa. Gue serius. Gue mau turun di sini aja."
Arsel terlihat berpikir selamat beberapa saat. Kemudian, "Kayaknya nggak usah deh. Nggak papa lo ikut gue puter balik aja. Ini udah sore lo btw. Lo perempuan. Nanti baliknya gimana. Mending bareng gue, ya walaupun kita nggak selama itu saling kenal. Gue nggak keberatan sama sekali kok."
"Eh enggak, nggak. Lo balik aja. Gue emang lagi pengen ke sini kok. Jadi ya, nggak papa."
"Seriusan nih?" tanya Arsel dengan raut wajah tak yakinnya ke arah Daisy.
"Wkwk. Serius! Udah stop di sini aja."