Selama perjalanan pulang, setelah sebelumnya menurunkan Daisy sesuai dengan permintaan gadis itu tadi di pinggir jalan, pikiran Arsel mendadak tak tenang. Apakah tindakannya tadi, menurunkan Daisy di pinggir jalan, di luar daerahnya pula, adalah tindakan yang benar?
Kalau gadis itu kenapa-kenapa bagaimana?
Padahal tadi Arsel sudah bilang kepada Daisy, kalau ia sama sekali tidak masalah jika harus kembali bersama, atau bahkan mengantar Daisy pulang sampai ke rumahnya pun Arsel tidak keberatan. Kenapa Daisy menolak ajakannya? Apakah gadis itu merasa tak enak hati karena merepotkannya? Karena gengsi?
"Lo sebagai laki-laki harusnya lebih gantle dong, Sel! Perempuan kan memang katanya makhluk perasa. Ya bisa jadi dia ngerasa nggak enak kalau harus numpang lagi, terus di anter pulang sampe ke rumahnya pula. Atau setidaknya sampai ke kampus lagi karena mobil Daisy masih ada di sana. Wajar juga lah kalau dia gengsi an, kalian berdua kan emang nggak sedeket itu. Kenal juga baru bentar. Bahkan kadang sama temen deket aja kita suka gengsi-gengsian, apalagi sama orang yang nggak begitu deket sama kita?" Isi pikiran Arsel saat ini, yang seolah sedang memerahinya. Menyalahkan tindakannya yang kurang begitu peka dan perhatian terhadap perempuan. Terlalu cuek.
'Lo yang salah, Sel! Lo laki-laki dan harusnya lo lebih mengalah sama ego lo. Lo harusnya tadi keras kepala aja jangan biarin dia turun dari mobil lo. Perempuan biasanya seneng kok digituin. Bahkan banyak yang aslinya bilang nggak usah. Gue bisa pulang sendiri. Padahal realitanya si perempuan pengen si laki-lakinya lebih peka dan peduli. Lo tega banget deh jadi orang!"
Isi pikiran Arsel terus menerus memarahinya dan menyalahkannya. Dan hatinya, terus menerus merasa bersalah dan tak enak hati. Membuat Arsel memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya. Segera berbalik arah untuk kembali menjemput Daisy dan membawanya pulang bersamanya.
"Semoga aja itu orang belum pergi ke mana-mana," ucap Arsel di tengah kegiatan mengemudinya. Saking tak sabaran dan terburu-buru, takut ia kehilangan jejak Daisy, Arsel sampai menambah kecepatan laju mobilnya.
Arsel hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk kembali sampai di tempat ia menurunkan Daisy tadi. Selain karena laju mobilnya tadi saat hendak kembali menuju Jaksel cukup lambat, karena ia lebih memilih mengemudi dengan santai dan dalam batas normal. Arsel pun merasa bersyukur karena ia tadi cepat sadar akan pilihan yang menurutnya salah itu. Meski sebenarnya pilihan itu ia ambil tadi atas permintaan Daisy sendiri.
Setelah menghentikan laju mobilnya, Arsel menatap kesal ke arah di mana Daisy berdiri tadi saat baru saja turun dari mobilnya. Arsel mengeratkan tinjuan tangannya dan asal meninju ke sembarang arah. Arsel kesal. Ia tidak menemukan keberadaan Daisy di sana. Padahal ia tadi sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa sampai secepatnya.
"Apa mungkin dia udah balik pake taxi online ya? Bisa jadi sih," ucap Arsel setelah ia memikirkan bahwa kemungkinan Daisy saat ini sudah dalam perjalanan pulang dengan mengendarai taxi online. Kemungkinan yang menurutnya paling masuk akal untuk saat ini.
Lo mendingan balik aja! Gue emang sebenernya lagi pengen ke sini kok. Serius..
Arsel langsung teringat akan perkataan Daisy beberapa saat lalu. Alasan yang gadis itu berikan agar ia membiarkan Daisy turun dari mobilnya. Setelah Arsel pikir kembali, apakah alasan itu benar adanya? Tapi kok menurutnya seperti kurang masuk akal. Arsel justru lebih setuju untuk mengatakan bahwa alasan itu sengaja Daisy buat agar Arsel membiarkannya turun dari mobilnya. Hanya sekedar alasan saja. Mengingat terlalu kebetulan sekali jika mereka tersasar dan justru berada di tempat yang ingin Daisy kunjungi.
"Hah!" Arsel membuang napasnya kasar. "Tau bakal ada drama kayak gini sebelum gue turunin dia tadi di pinggir jalan harusnya gue minta nomor teleponnya dulu. Biar gue bisa tau kabar dia kayak gimana sekarang. Udah dalam pulang atau belum? Naik apa? Udah di mana sekarang? Gue mau ya kena masalah!"
Isi pikiran Arsel sudah melanglang buana ke mana-mana. Perasaannya saat ini begitu tak menentu. Namun yang lebih mendominasi tentu saja rasa menyesalnya.
Arsel mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia bingung harus melakukan apa saat ini. Ia telah membiarkan seorang perempuan melakukan perjalanan pulang seorang diri. Mengendarai taxi online, di sore hari, dan dengan jarak yang cukup jauh dan lama. Apakah Daisy akan aman? Sedangkan Arsel tidak mengetahui nomor teleponnya, juga nomor orang sekitar Daisy untuk mengetahui bagaimana kabarnya.
"Ini mah. Alamat gue nggak bisa hidup tenang sampe besok. Sampe gue bisa nemuin dia di kampus dalam kondisi baik-baik aja," ucap Arsel pasrah, yang diakhiri dengan helaan napas panjangnya.
Tok, tok, tok. Tok, tok, tok.
Suara ketukan yang berasal dari kaca jendela mobilnya terdengar beberapa kali dan tak sabaran. Tentu saja berhasil membuat Arsel yang tengah sensitif dan mudah tersulut emosi itu merasa kesal dan ingin marah kepada siapa saja yang datang mengganggunya. "Siapa sih? Ganggu aja deh," ucapnya kesal seraya mulai menolehkan wajahnya. Saking kesalnya Arsel bahkan berniat untuk tak akan menahan dirinya jika nanti emosinya tiba-tiba meledak. Suara ketukan yang terdengar cukup brutal itu menurutnya seperti hendak mengajaknya bergelut.
Dan saat tolehan wajahnya akan sempurna, berbarengan dengan kedua daun bibirnya yang sudah siap untuk mengeluarkan kata-kata pedasnya, wajah seseorang yang ia kenal lah yang muncul di hadapannya.
Daisy, orang yang saat ini telah berhasil membuatnya khawatir, takut, menyesal, marah, dan berbagai perasaan lainnya yang turut bercampur aduk. Daisy yang saat ini sedang menatapnya bingung sekaligus penasaran.
Arsel sempat berpikir kalau ia tadi salah lihat. Karena pikirannya sejak tadi dipenuhi oleh Daisy. Namun saat dilihatnya Daisy kembali mengetuk kaca jendelanya, diiringi dengan suara heran bercampur khawatir, "Arsel.. Lo nggak pingsan di dalam mobil kan?" Barulah ia benar-benar percaya bahwa keberadaan Daisy di depan matanya adalah nyata bukan hanya sebuah khayalan.
Arsel dengan segera langsung keluar dari mobilnya. Mengitari mobilnya dengan langkah lebar hingga kini sampai di hadapan Daisy. "Lo dari mana aja?" tanya Arsel yang terdengar tidak begitu bersahabat di telinga Daisy.
"Kenapa tadi nggak nurut aja sih pas gue bilang balik bareng gue aja?" lanjut Arsel yang semakin membuat Daisy merasa heran. Ada apa dengan dia? Kenapa mendadak berubah seperti ini?
"Guuee.. gue dari warung kecil di sana," ucap Daisy seraya menunjuk sebuah warung kecil yang tak begitu jauh dari tempat mereka kini. "Gue tadi haus, terus ke sana deh buat beli minum. Sekalian ikut duduk, nunggu pesenan taxi online dateng. Dari pada nunggu di sini kan?" Lanjut Daisy memberi penjelasan.
"Ini sekarang lagi nunggu taxi online dateng?"
"Iya. Nih dua menit lagi nyampe," jawab Daisy seraya menunjukkan apa yang tertera di ponselnya ke arah Arsel. Lantas berkata," btw lo kok balik ke sini lagi sih. Ada yang ketinggalan? Apa? Biar gue bantu cariin, sebelum taxi online nya dateng."
Arsel terdiam dan menatap Daisy dengan tatapan gemasnya. Gue balik ke sini gara-gara lo! Ulah lo! Masih nanya lagi, pikirnya dalam hati dengan pendar mata yang ingin sekali mengacak-acak pelan rambut Daisy. Agar terlihat sama berantakannya dengan dirinya saat ini. Hasil karya Arsel efek frustasi tadi karena tak tahu harus berbuat apa saat belum menemukan Daisy.
"Iya ada yang ketinggalan."
"Apa? Biar gue bantu cariin juga."
"Lo!"
"Hah? Gue?" tanya Daisy tak percaya seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arahnya sendiri. Daisy bingung. Bukannya tadi ia sudah bilang kalau ia bisa pulang sendiri?
"Iya, lo!"
"Kenapa? Ada barang gue yang ketinggalan ya di mobil lo?" Daisy pikir inilah alasan yang menurutnya paling masuk akal terkait kenapa laki-laki itu kembali dan mencarinya.
Arsel menggelengkan kepalanya yakin. "Nggak ada. Gue beneran nyari lo aja. Gue nyesel ngebiarin lo turun gitu aja. Di daerah orang, sendirian, udah sore, jauh lagi kan kayak dari ujung ke ujung. Ntar kalo lo kenapa-kenapa gue harus bilang apa sama orang tua lo? Sama anak kampus?"
"Ohh. Wkwk." Daisy ber-ohh ria kemudian terkekeh singkat. "Kasian lo sama gue? Terus takut kena masalah gara-gara gue? Ih padahal nggak usah repot-repot. Aku orangnya bisa jaga diri kok. Jadi insyaallah aman."
Apa kabar kau hari ini~
Sebuah dering lagu yang terdengar cukup nyaring yang berasal dari ponsel Daisy, membuat Daisy dengan segera membuka ponselnya. Kemudian menjawab panggilan telepon karena rupanya dering tadi terdengar karena ada seseorang yang menelponnya.
"Ohh yang warna hitam itu ya, Pak. Saya di depannya, Pak. Yang pake kemeja flanel kotak-kotak. Mm, saya yang ke sana aja deh, Pak."
Sesaat setelah Daisy mengakhiri panggilan teleponnya, ia langsung menoleh ke arah Arsel. "Taksi online gue udah dateng. Lo langsung balik ke Jaksel aja. Gue bisa pulang sendiri dan gue bisa jaga diri kok. Hati-hati di jalan ya, bye!" ucap Daisy ramah kemudian bergegas pergi menghampiri taxi online yang sudah menunggunya, sekitar empat meter di belakangnya.
Daisy pada awalnya mengernyit heran saat Arsel tiba-tiba sudah berjalan cepat mendahuluinya. Keheranannya semakin menjadi saat dilihatnya Arsel ternyata menghampiri supir taxi online yang datang menjemputnya. Dan semua keheranannya itu terjawab sudah saat mobil taxi online itu tiba-tiba melaju pergi meninggalkannya. Pergi dengan tidak membawa Daisy ikut di dalamnya, yang padahal Daisy ini adalah orang yang memesannya. Apa yang terjadi?
Daisy yang pada saat itu hanya tinggal beberapa langkah lagi tiba di tempat taxi online itu terparkir, segera menghampiri Arsel yang saat ini menatapnya dengan seulas senyuman. Catat! Dengan seulas senyuman, tanpa ada rasa bersalah sama sekali!
"Eh lo ngomong apa barusan sama supir taksi online gue? Kenapa dia pergi ninggalin gue gitu aja?" ucap Daisy kesal seraya menatap nelangsa ke arah di mana mobil taksi online itu pergi meninggalkannya.
"Gue bilang kalau gue yang akan nganter lo balik. Terus gue kasih beliau uang kompensasi. Ya udah yuk langsung cabut," jawab Arsel jujur, kemudian dengan entengnya langsung melangkah kembali menuju mobilnya. Seolah apa yang baru saja ia lakukan tadi bukan apa-apa.
Setelah mendengarnya Daisy menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Menatap punggung tegak Arsel dengan tatapan marah. "Lo siapa berani-beraninya ngelaluin hal kayak tadi? Gue udah nunggu lumayan lama lho tadi sampai taksi online nya dateng," ucap Daisy dengan sedikit menaikkan volume suaranya. Sungguh berani sekali Arsel ini terhadapnya. Benar-benar lancang terhadapnya, melakukan apa yang ia sendiri mau dengan sesuka hati tanpa memedulikan bagaimana perasaan Daisy.
"Sori gue nggak bermaksud apa-apa. Gue pikir lo akan lebih aman kalau pulang bareng gue dibanding dengan naik taksi online. Perjalanannya cukup jauh, Daisy. Dan lo itu perempuan! Sendirian pula," jawab Arsel seraya menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Daisy.
"Gue nggak masalah. Gue udah gede, dan gue bisa jaga diri!"
"Lo harus tau bahwa kejahatan bisa terjadi tanpa mengenal lo masih kecil atau lo udah gede. Dan lo itu perempuan lho, sekuat apa pun lo, lo nggak bisa tutup mata dengan fakta bahwa tenaga laki-laki itu lebih besar daripada tenaga perempuan. Kalau jaraknya dekat sih gue nggak masalah. Silakan aja. Ini masalahnya cukup jauh. Udah beda daerah. Gue nggak mau ambil resiko kalau lo kenapa-kenapa!"
Daisy membuang muka dengan raut wajah kesalnya. Laki-laki di depannya ini benar-benar menyebalkan. Benar-benar semaunya sendiri. Nggak mau ambil resiko katanya. Takut popularitasnya meredup eh kalau apa yang disebutnya resiko tadi kejadian? Hah! Daisy benar-benar kesal kepada laki-laki itu. Mana sok tahu lagi orangnya.
"Jaraknya jauh apaan sih? Kan gue udah bilang gue emang sebenernya lagi pengen ke daerah ini. Jarak paling lamanya juga cuma sekitar dua puluh menitan kayaknya. Ah gue sebel banget sama lo!"
Arsel membulatkan kedua matanya tak percaya saat tahu bahwa Daisy ternyata tidak berbohong kepadanya.
"Jadi lo beneran nggak mau langsung pulang? Bukan cuma alasan supaya nggak perlu balik bareng gue?"
Daisy seketika mendongakkan kepalanya. Ohh rupanya laki-laki ini mengiranya berbohong? Karena gengsi? Gengsi karena sudah ditolong beberapa kali olehnya? Masuk akal sih, tapi sayangnya gue nggak gitu-gitu amat orangnya, pikir Daisy dalam hati.
Daisy menggelengkan kepalanya satu kali disertai dengan ucapannya "nggak" sebagai jawaban. Namun sepertinya Arsel kurang begitu puas akan jawaban yang Daisy berikan. Terlihat dari tatapan matanya yang menatap Daisy dengan tatapan menuntutnya. Menuntut jawaban lainnya karena kata tidak, baginya tidak cukup.
"Gue emang punya wishlist buat wisata kuliner di street food gitu. Dan setau gue di daerah ini ada street food yang lagi viral. Jadi ya mumpung di sini kenapa nggak sekalian mampir aja. Itung-itung lagi healing, karena memang lagi butuh healing juga sih gue ini."
"Ohh ya udah kalo gitu kita langsung let's go aja kali ya? Supaya nyampe rumah nggak kemaleman banget," ucap Arsel dengan mood baiknya yang sudah kembali, setelah tahu alasan sebenarnya di balik ucapan Daisy tadi. "Kebetulan gue lagi nggak harus buru-buru karena ada kesibukan lain. Gue free sampe malem," lanjutnya yang entah sebenarnya Daisy memerlukan penjelasan lebih lanjut seperti ini atàu tidak.
Keduanya kembali melangkahkan kaki menuju mobil Arsel. Setelahnya mobil yang mereka kendarai mulai melaju dengan kecepatan normal menuju street food yang Daisy inginkan. Balok batu es keduanya perlahan mulai mencair, dikarenakan mereka yang kembali mengobrol selama perjalanan.
Keduanya sampai di daerah street food setelah lima belas menit perjalanan. Tak ingin membuang-buang waktu, setelah Arsel memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan, Daisy dan Arsel dengan segera turun dari mobil dan mulai melihat-lihat berbagai macam jenis makanan yang terlihat sangat menggugah selera itu.
Dari mulai jajanan tradisional, modern, hingga makanan dan minuman viral berjajar dengan begitu rapih. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan tergugah untuk segera mencicipinya. Begitu pun Daisy, yang mana salah satu hobinya adalah makan, terlihat begitu berbinar-binar saat mulai melihat-lihat. Arsel yang saat ini di sampingnya saja bisa ikut merasakan binar antusias itu.
"Lo mau beli apa?" tanya Daisy dengan tatapan mata penuh binar saat melihat seorang penjual sedang mengolah makanannya.
"Semuanya makanan dan minuman di sini kayaknya enak-enak. Gue jadi bingung mau nyobain yang mana dulu," jawab jujur Arsel yang turut diangguki Daisy. Karena Daisy pun merasakan hal yang sama.
"Rasanya pengen gue cobain satu-satu tapi itu mustahil kalau hanya dalam satu waktu. Banyak banget soalnya."
"Lambung gue juga nggak bisa nampung semuanya sih kalau semuanya kita cobain satu-satu. Wkwk."
"Atuh lah, Bro! Wkwk. Gue juga nggak sanggup. Mmm, gue tadi sempet liat ada menu mie terbang di sini. Penasaran deh kayak gimana. Kayaknya itu menu pembuka yang gue pilih. Kalo lo mau apa?"
"Gue mie gyutan deh penasaran juga kayak gimana."
Baik Arsel mau pun Daisy, keduanya mulai memesan makanan pertama mereka. Berharap menjadi hidangan pembuka yang rasanya begitu memanjakan lidah mereka.