Alina tidak bergerak. Seolah tubuhnya lupa bagaimana caranya bereaksi. “Keluarga… Soraya?” ulangnya pelan. Gibran mengangguk. “Sepupu.” Dunia terasa bergeser. Semua potongan yang sebelumnya terasa acak— tiba-tiba mulai membentuk pola yang jauh lebih mengerikan. “Jadi ini semua…” bisik Alina. “Tidak sesederhana yang terlihat,” potong Gibran. Alina tertawa kecil. Getir. “Tentu saja tidak.” Ia berjalan mundur satu langkah. Tangannya menyentuh meja di belakangnya. “Dia mencariku sebelum malam itu.” Gibran menegang. “Apa?” “Dia datang ke rumah sakit. Menanyakan namaku.” Gibran mengerutkan kening. “Itu tidak masuk akal.” “Namun itu terjadi.” Keheningan jatuh. Alina menatapnya. “Dan sekarang kau bilang dia keluarga Soraya.” Gibran tidak membantah. Alina menggeleng pelan.

