Alina menatap foto itu lebih lama. Tangannya perlahan mengepal. “Itu tidak membuktikan apa-apa.” Namun suaranya tidak lagi setegas sebelumnya. Pria itu menyandarkan tubuhnya, mengamati reaksi Alina dengan santai. “Benarkah?” Alina meletakkan foto itu kembali ke meja dengan gerakan sedikit keras. “Itu bisa diambil kapan saja. Di mana saja.” “Benar,” jawab pria itu tenang. “Namun waktunya menarik.” Alina menatapnya tajam. “Kau ingin aku percaya bahwa Gibran merencanakan semuanya?” Pria itu tersenyum tipis. “Aku ingin kau berpikir.” “Aku sudah berpikir.” “Belum cukup.” Keheningan jatuh. Alina menarik napas panjang. Ia memaksa dirinya tetap tenang. “Katakan saja apa tujuanmu.” Pria itu memiringkan kepala sedikit. “Aku sudah bilang. Kebenaran.” “Tidak,” potong Alina. “Tidak

