Pagi datang terlalu cepat. Alina hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan mata yang terasa berat, ponsel masih di tangannya sejak malam tadi. Pesan itu masih terbuka. Besok. Datang sendiri. Sinar matahari tipis menembus tirai. Namun hangatnya tidak sampai ke dadanya. Ketukan pelan terdengar di pintu. Alina menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka perlahan. Seorang pelayan berdiri di sana. “Selamat pagi, Nona Alina. Nyonya Soraya meminta Anda sarapan di bawah.” Alina menarik napas pelan. “Baik.” Pelayan itu mengangguk lalu pergi. Alina menatap cermin di depan meja rias. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Ia memercikkan air ke wajahnya, mencoba menghilangkan jejak kegelisahan. Namun pikirannya tetap sama. Hari ini. Ia harus pergi. --- Ruang makan sudah rapi sepert

