Alina menggeleng lebih keras. “Tidak. Itu tidak benar.” Namun suaranya sendiri terdengar tidak seyakinkan yang ia inginkan. Gibran masih menatap layar ponsel itu. Rahangnya mengeras. “Alina.” Nada suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Namun justru itu yang membuat d**a Alina semakin sesak. “Jangan katakan apa pun,” potong Alina cepat. Gibran mengangkat wajahnya. “Aku hanya ingin memastikan—” “Aku bilang jangan.” Keheningan jatuh. Alina memalingkan wajah. Tangannya mengepal. Ia bisa merasakan detak jantungnya terlalu cepat. Terlalu keras. “Aku tahu apa yang terjadi malam itu,” katanya pelan, hampir seperti membujuk dirinya sendiri. Gibran tidak langsung membantah. Namun ia juga tidak setuju. Dan itu lebih menyakitkan. Alina tertawa kecil tanpa humor. “Lihat

