Alina mundur satu langkah dari balkon. Napasnya tercekat. Tangannya refleks memegang pagar besi dingin di sampingnya. Pria itu sudah menghilang. Seolah tidak pernah ada. Namun wajah itu… Ia yakin. Ia pernah melihatnya. Malam di Senopati. Suara langkah kaki terdengar cepat dari koridor. Pintu kamar terbuka lagi dengan keras. Gibran kembali. “Dia masih di sana?” tanyanya cepat. Alina menggeleng pelan. “Sudah pergi.” Gibran berjalan langsung ke balkon dan melihat ke arah pagar belakang. Kosong. Ia mengumpat pelan. Alina menatapnya. “Kau mengenalnya?” Gibran tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap taman beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Tidak.” Alina menyilangkan tangan di d**a. “Kau bohong.” Gibran menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Wajahmu berubah,” lanjut

