Satu Ruang Dengan Mantan

1200 Kata
“Ya Tuhan, Alina. Kau seperti baru selamat dari kecelakaan pesawat,” bisik Santi, meraih tangan Alina dengan kehati-hatian. Alina hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Aku ingin minuman keras. Sekarang. Dan tolong, jangan tanyakan apa pun tentang unit 16B atau 16A,” pinta Alina, suaranya sudah terdengar putus asa. “Tentu saja,” jawab Santi. “Malam ini, hanya kita. Dan vodka. Ayo, mereka sudah memesan corner booth favorit kita.” Alina membiarkan Santi menariknya masuk, menembus keramaian yang berbau tembakau dan keringat. Di dalam, Tania dan Vania, dua sahabat lainnya, sudah menunggu. Meja mereka penuh dengan botol alkohol berkilauan dan gelas kosong. Vania menyambutnya dengan pelukan cepat. “Kita di sini. Untuk melupakan b******n itu, Lin. Katakan apa yang kau inginkan. Akan kami tuangkan.” Alina duduk di sudut, jauh dari pandangan. Lampu redup menyembunyikan wajahnya yang pucat. Seorang pelayan datang membawa menu koktail, tetapi Alina mendorongnya menjauh. “Aku mau yang paling cepat,” ucap Alina pada Santi. “Santi, pelan-pelan. Dia belum makan,” Tania memperingatkan. Alina melambaikan tangannya. “Aku tidak peduli. Aku ingin melarikan diri, sekarang.” Santi, melihat sesuatu yang mengkhawatirkan di mata Alina, hanya mengangguk pelan. Dia tahu ini bukan malam untuk bersikap hati-hati. Minuman pertama, Straight Vodka dengan es tipis datang dengan cepat. Dingin, pahit, dan menusuk, membakar tenggorokannya. Alina memejamkan mata. Sensasi fisik itu menekan sedikit rasa sakit emosional. Ia minum lagi, meneguk habis dalam beberapa kali tegukan cepat. Panas menyebar, menjalar ke pembuluh darahnya. Dia merasa tatapan teman-temannya yang khawatir, tetapi mereka mematuhi permintaannya untuk tidak bertanya. Mereka berbicara tentang hal lain, pekerjaan, gosip kantor, apa pun yang berisik dan dangkal, mengisi keheningan dengan kekacauan sosial yang familiar. Alina meminta isi ulang. Lalu isi ulang lagi. Semuanya terasa jauh, suara musik mulai merayap ke otaknya. Kekuatan alkohol mulai mengambil alih, mengubah kehancuran menjadi keberanian yang bodoh. Di sekitar pukul sebelas malam, dua jam setelah ia tiba, ia berada di titik di mana batas antara rasa sakit dan mati rasa telah kabur. Ia menolak ketika Santi mencoba menahan gelasnya. “Aku baik-baik saja, Santi. Aku butuh ini,” katanya, suaranya kini serak dan lebih keras dari yang ia sadari. “Kau tidak baik-baik saja. Lihat matamu, Alina. Kau sudah cukup. Besok kau akan pusing parah,” desak Santi, mencoba merebut gelas keenam atau ketujuh yang tidak ia hitung. Alina menarik gelasnya kembali. Tangan yang tadi gemetar, kini stabil, dipicu oleh keengganan yang keras. Kenapa mereka harus menahanku? Biarkan aku hancur malam ini. Biarkan aku melupakan bahwa Gibran Mahesa tahu di mana aku tinggal. Biarkan aku melupakan bahwa dia sudah menikah. Ia mencondongkan tubuh ke arah Santi, kepalanya berputar. “Aku tidak butuh penjaga, San. Aku bukan anak kecil. Aku sudah muak dijaga, dikontrol. Aku adalah Aku, malam ini. Bukan Alina yang sempurna.” Dia bangkit berdiri, tubuhnya bergoyang sedikit, tetapi kakinya yang terlatih mengenakan heels berhasil menahan keseimbangan. Ia merasa pusing yang memabukkan, pusing yang membebaskan. “Aku akan ke kamar mandi,” gumamnya. Santi meraih tangannya lagi. “Aku ikut. Kau tidak bisa jalan sendiri.” “Tidak perlu,” Alina menolak dengan kuat. “Aku bisa.” Alina melangkah menjauh dari meja, memaksakan langkahnya tampak percaya diri. Musiknya begitu keras hingga terasa bergetar di dalam dadanya. Ia mendorong keramaian, pandangannya lurus ke belakang bar, di mana pintu yang bertuliskan ‘RESTROOM’ samar-samar terlihat. Saat ia berjalan, setiap orang di sekelilingnya tampak samar, bayangan kabur. Suara, cahaya, semuanya berputar dalam lingkaran pening. Rasa sakit dari Raka kini hanya menjadi gema, sedangkan rasa takutnya akan Gibran telah sepenuhnya diredam oleh alkohol. Hanya beberapa meter lagi. Dia berjalan melewati bilik DJ yang ramai, dan melewati koridor panjang, terpisah dari keramaian utama. Tiba-tiba, ia terhenti. Bukan karena ia tersandung, melainkan karena matanya, yang awalnya hanya melihat kabut, tiba-tiba fokus pada satu titik, seolah alkohol bertindak sebagai lensa tajam. Di koridor remang-remang itu, tidak jauh dari pintu kamar mandi, duduk di sebuah meja kecil, sendirian, seorang pria. Pria itu memegang gelas berisi cairan amber tua, disinari oleh cahaya lilin yang lembut, yang membuat kontur wajahnya tegas dan gelap. Kemeja putihnya yang terbuka di bagian atas leher terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang unik. Sikapnya begitu tenang, begitu berbeda dari semua kekacauan di sekelilingnya. Meskipun ia duduk dengan tenang, Gibran tampak keluar dari tempat ini. Tidak, tunggu. Bukan Gibran. Siapa pun pria ini, dia terlalu… sempurna. Dalam kondisi mabuknya yang menggerogoti, wajah pria itu tampak kabur, tidak dikenal, tetapi karisma gelap dan dinginnya menusuk Alina. Gibran? Tidak. Gibran sudah ada di rumah, menjaga reputasinya, menjaga istrinya. Pria ini hanyalah wajah asing, sebuah pelarian, personifikasi sempurna dari trouble yang baru saja Santi panggilnya. Dia tampan dengan cara yang menyakitkan, rahangnya tegas, matanya… begitu gelap. Dalam dorongan alkohol, dalam keinginan putus asa untuk menggantikan kenangan Raka yang busuk dengan sesuatu yang benar-benar tidak berarti, Alina mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Dia memutar langkahnya, menjauhi pintu kamar mandi, dan sebaliknya, berjalan lurus menuju pria di sudut gelap itu. Ia mendekat perlahan, jantungnya berdebar, bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi. Saat ia semakin dekat, detail-detail pada wajah pria itu semakin jelas. Matanya yang gelap, hidungnya yang tegas, garis wajah yang terlalu familiar, terlalu mustahil. Aroma kayu cendana yang mahal menyambutnya, aroma yang baru saja ia cium di koridor apartemen. Hanya satu meter di depannya. Pria itu mengangkat kepalanya, dan menatap Alina. Wajah itu terungkap sepenuhnya dalam cahaya lilin. Wajah yang menahan pintu liftnya beberapa jam yang lalu. Itu adalah dr. Gibran Mahesa. Jantung Alina berhenti, tetapi kakinya yang mabuk menolak untuk mundur. Pikirannya, yang direndam dalam vodka, hanya bisa melihat satu fakta yaitu Gibran ada di sini. Sendirian. Dia berbohong. Dia tidak pulang pada istrinya. Mata mereka bertemu. Ada kejutan dingin yang cepat di mata Gibran, digantikan oleh pemahaman yang muram. Dia menunduk melihat betapa mabuknya Alina. “Alina,” Gibran memulai, suaranya tenang, waspada. Alina tidak peduli. Dia sudah ada di sini. Semua rencananya, semua prinsipnya, runtuh di bawah pengaruh alkohol dan kebutuhan akan pelarian yang ekstrim. Alina melangkah ke meja, bersandar sedikit untuk menahan pusingnya, dan dengan mata setengah tertutup yang memancarkan tekad yang kacau, ia berbisik kepada pria yang kini diyakininya adalah hantu, takdir, dan bencana. “Dokter. Malam ini aku ingin menjadi jebakan. Kau sendirian, dan aku tidak ingin mengingat apa pun tentang suamiku, tentang mantan pacarku. Tentang siapa dirimu.” Gibran Mahesa memiringkan kepalanya, mempelajari wajah Alina yang diwarnai kesedihan dan vodka. Dia tidak menyangkal, tidak membantah, hanya menunggu. Alina meraih pergelangan tangan Gibran yang berurat di atas meja, aksi fisik yang kasa, dan berkata, suaranya kini mendesak, penuh gairah yang terlahir. “Bawa aku pergi dari sini. Bawa aku ke tempat di mana kita bukan siapa-siapa. Sekarang. Atau aku akan mulai berteriak tentang istrimu. Pilih.” Gibran Mahesa menarik napas dalam, membalas tatapan Alina dengan mata gelapnya yang mengunci. Detik-detik berlalu, terasa seperti satu jam, di tengah kebisingan musik yang memekakkan telinga. Akhirnya, dengan gerakan yang tegas dan tidak terduga, ia menepis tangan Alina, kemudian ia meletakkan gelasnya yang setengah penuh ke atas meja. Bunyi kristal melawan kayu. Gibran Mahesa bangkit, ia meraih tangan Alina kembali, kali ini dengan cengkeraman yang mantap, dan tatapannya yang penuh api. “Baiklah, Alina. Jika jebakan adalah yang kau mau. Aku akan membawamu. Tapi kau harus tahu,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN