Malam Tanpa Penyesalan

1675 Kata
“...Aku akan membawamu. Tapi kau harus tahu,” Gibran mengakhiri kalimatnya dengan suara rendah dan berbisik, mendekat ke telinga Alina. Bau maskulinnya, campuran kayu cendana dan sedikit whiskey, menelusup melalui kabut alkohol di pikiran Alina. “...Kau adalah yang menarik pemicunya. Aku hanya menuruti undanganmu.” Tanpa menunggu respons, cengkeraman Gibran menguat di pergelangan tangan Alina. Bukan cengkeraman kasar. Dia menarik Alina menjauh dari meja lilin yang remang-remang, menuju pintu keluar yang diselimuti oleh lampu disko yang berputar dan bayangan-bayangan yang menari. Kaki Alina goyah, dan dunia terasa seperti perahu di tengah badai. Namun, sensasi ditarik oleh pria setinggi dan sekuat Gibran memberikan fondasi aneh yang ia butuhkan. Dia tidak pulang pada istrinya. Pikiran itu adalah kemenangan kecil yang manis, meski logikanya berteriak. Apa yang sedang aku lakukan? Ini Gibran. Suami Soraya. Cinta pertamamu yang sudah menikah. “Lepaskan dia!” Suara teriakan yang nyaring itu menembus suara musik. Itu adalah Santi, ditemani oleh Tania dan Vania, yang kini berlari dari booth mereka menuju koridor. Santi melihat tangan Gibran yang memegang Alina, dan kemarahan melindungi sahabatnya meluap. Gibran mengabaikannya. Dia terus menarik Alina. Santi mencapai mereka dan mencengkeram lengan Alina yang bebas. “Alina! Apa yang kau lakukan? Kau gila? Siapa pria ini? Lepaskan dia!” Alina tertawa. Itu bukan tawa gembira, melainkan desahan histeris yang tercekat. “Dia… dia dokter, San. Dokter yang sempurna. Yang aku butuhkan. Aku butuh obat keras.” “Ini bukan rumah sakit, Alina! Ini bar, dan kau mabuk!” balas Santi, berusaha keras menarik Alina menjauh. Namun, tubuh Gibran Mahesa yang tegak terasa seperti dinding beton. Gerakan Santi hanya membuat Alina oleng, memaksa Gibran memeluk pinggang Alina sejenak agar ia tidak jatuh. Sentuhan Gibran di pinggangnya, secepat kilat dan profesional, namun tiba-tiba begitu pribadi, mengirimkan kejutan melalui sistem Alina yang kebas. Gibran menoleh pada Santi, tatapannya dingin dan tajam, tatapan seorang dokter yang menangani pasien yang tidak sadarkan diri, atau seorang pria yang tidak ingin ditanyai. “Teman Anda terlalu mabuk untuk mengambil keputusan. Saya mengenalnya. Saya akan membawanya pulang.” “Pulang ke mana, Tuan? Dia baru saja diusir oleh kekasihnya! Dan siapa Anda? Saya tidak pernah melihat Anda! Apa Anda mencoba mengambil keuntungan darinya?” tuduh Santi, keberaniannya dibangkitkan oleh kepedulian. Vania dan Tania, di belakangnya, tampak panik, terlalu takut untuk terlibat dalam perdebatan fisik, tetapi mendukung Santi dengan tatapan mata mereka. “Saya ulangi, Santi,” Gibran mengucapkan nama itu dengan pengenalan yang mengganggu, membuat Santi terkesiap, “saya membawanya pulang. Jika Anda mengkhawatirkan keselamatannya, Anda boleh ikut, tetapi lepaskan tangan Anda.” “Tunggu! Kau kenal Santi?” tanya Alina, pandangannya yang berputar mencoba fokus pada Gibran. Gibran mendesah sabar, memalingkan muka sejenak, “Kami... memiliki koneksi sosial yang sangat samar, Alina. Tidak penting. Sekarang, bisakah kita pergi sebelum semua orang melihat?” Alina memajukan wajahnya, tatapan menantangnya kabur karena vodka. “Kenapa, Gibran? Takut istrimu melihat kau membawa wanita berantakan yang kau tolak sepuluh tahun lalu keluar dari sarang kemaksiatan?” Gibran tidak membalas hasutan itu, melainkan menoleh ke arah Santi lagi, “Anda dengar dia. Dia butuh menjauh dari sini. Dan saya pastikan, dia aman.” Santi terlihat bimbang. Keadaan Alina yang benar-benar tak terkendali jauh lebih menakutkan daripada ketidakpercayaan pada orang asing. Dia melirik wajah Gibran yang terkesan jujur namun tertutup rapat. Ada aura kekuasaan dan kepercayaan diri di sekitar Gibran yang membuat Santi tahu bahwa dia bukan pria sembarangan. “Di mana Anda akan membawanya?” tuntut Santi. “Saya akan mengantarnya pulang ke apartemennya,” jawab Gibran tanpa emosi. “Unit 16B? Yang penuh dengan barang-barang Raka?” teriak Santi. Alina memiringkan kepala. “Tidak! Aku tidak mau ke sana! Itu neraka. Aku tidak mau pulang ke mana pun! Aku hanya ingin—Aku hanya ingin anonim. Tanpa Raka. Tanpa Mahesa. Tanpa Citra. Tanpa segalanya!” Kata-kata itu pecah dari bibirnya. Air mata, yang selama ini tertahan oleh alkohol, kini mulai membasahi pipinya. Kelemahan itu membuat Santi terdiam. Gibran menatap Alina, rasa jijik karena kebodohan telah memudar, digantikan oleh simpati yang terkontrol, “Tidak ada yang sama di Jakarta, Alina. Tapi ada ketenangan. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang tenang. Di mana kita tidak akan menjadi siapa-siapa, jika itu yang kau mau.” “Ya,” Alina mengangguk liar. “Ke mana pun. Asal jangan unit 16A atau 16B.” Santi mencoba untuk yang terakhir kalinya. “Alina, ini pria yang baru kau temui, yang pernah menolakmu! Dia suami orang!” “Aku juga wanita yang baru saja dibuang oleh b******n! Malam ini aku bukan siapa-siapa, Santi!” desak Alina. Matanya kembali menatap Gibran, kali ini dengan kilatan yang membakar. Alina, meskipun mabuk, mencoba mencari kepastian. “Janji. Anonim?” “Janji,” balas Gibran. Itu adalah sebuah janji yang berbahaya, karena ia berjanji pada wanita yang mabuk, tentang sesuatu yang mereka berdua tahu adalah kebohongan terbesar yang bisa mereka ucapkan. Santi menghela napas. Dia tahu pertempuran ini kalah. Dalam kondisi ini, Alina hanya bisa dikendalikan oleh kekuatan yang lebih besar dari kekacauan dirinya sendiri. “Jika terjadi apa-apa, Gibran Mahesa,” ancam Santi, suaranya tajam, “aku akan memastikan seluruh Jakarta tahu bahwa seorang dokter yang terhormat menculik seorang wanita dari Whisper’s Corner.” Gibran menyipitkan mata. “Tidak ada penculikan. Ini adalah kemauan dan kemanusiaan. Saya akan menelepon Anda setelah dia tenang. Tapi sekarang, Anda perlu menjauh dari urusan yang bukan milik Anda, Nona.” Gibran menarik Alina melewati gerbang keramaian, memimpinnya keluar dari hiruk pikuk bar Senopati, menembus lampu-lampu Jakarta yang basah oleh hujan singkat. Mobil sedan mewah hitam yang ia kenal sudah menunggu di luar. “Kau membawa mobil,” gumam Alina, merasa sedikit tercengang. “Ya. Aku hanya ingin minum sedikit scotch, menjernihkan pikiran dari hari yang panjang, sebelum aku pulang. Dan kemudian kau muncul. Sebuah solusi, atau mungkin, sebuah ujian,” Gibran membukakan pintu penumpang mobilnya dengan sikap seorang kusir yang terlatih. Alina terpeleset masuk ke kursi kulit yang dingin dan mahal itu. Aroma pine yang menyegarkan langsung memenuhi indranya, mengusir bau alkohol yang menempel di hidungnya. Gibran menutup pintu, lalu berjalan memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Mesin dihidupkan dengan suara rendah yang memuaskan. Gibran tidak segera menjalankan mobilnya. Ia menatap Alina yang menyandarkan kepala di jendela, napasnya berat dan tak beraturan. “Kau benar-benar menghancurkan diri sendiri,” Gibran berbisik, nadanya bukan penghakiman, melainkan sebuah pengamatan medis. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Alina, memeriksa suhu tubuhnya. “Kau tidak bisa berpikir jernih, Alina. Seharusnya aku mengabaikanmu. Seharusnya aku tidak menuruti hasutan ini.” Alina merasakan kehangatan sentuhan jarinya di kulit kepalanya yang dingin. Dia memejamkan mata, membiarkan kebohongan kecil itu berlanjut. “Kau menuruti karena kau penasaran. Kau menuruti karena aku adalah risiko yang sudah lama ingin kau ambil. Karena kita berdua tahu, kita seharusnya tidak ada di sini, dan itulah mengapa kita ada,” Alina balik berbisik. “Ambil risiko itu, Gibran. Malam ini. Jadilah seseorang yang kau takutkan.” Gibran menarik tangannya, ekspresinya kembali dingin. Matanya menyapu lalu lintas yang ramai, lalu ia mengambil ponselnya. Alina melihatnya membuka aplikasi pemesan hotel. Bukan rumah. Bukan apartemen. Melainkan Hotel. Jantung Alina mulai berdetak lagi, lebih keras. Ini bukan lagi tentang lari dari Raka. Ini adalah melangkah menuju lubang gelap yang Gibran tawarkan. Gibran menyelesaikan pemesanan, meletakkan ponselnya, dan menggenggam erat kemudi mobil. Dia menoleh ke Alina untuk terakhir kalinya, matanya penuh dengan cahaya gelap yang hanya dilihat Alina sekali sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu, sebelum penolakan. “Aku sudah bilang kau harus hati-hati. Pelarian ini adalah jebakan, Alina,” katanya, dengan nada yang rendah. “Aku suka jebakan itu,” jawab Alina, matanya menyiratkan persetujuan yang gila. Gibran menghela napas panjang, kekalahan terpancar di garis-garis lelah wajahnya. Dia mengangguk, lalu menekan pedal gas. Mobil itu melaju mulus memasuki malam, meninggalkan lampu-lampu gemerlap Senopati. Alina menyadari bahwa ia telah sepenuhnya meninggalkan kekacauan emosionalnya, hanya untuk terjun ke dalam kekacauan fisik. Perutnya melilit karena alkohol dan kegugupan yang mengerikan. Lima menit perjalanan terasa seperti lima jam. Akhirnya, mobil melambat, berhenti di depan hotel butik kecil, elegan, dan sangat tertutup di kawasan Kebayoran Baru. Mereka turun. Gibran, yang jauh lebih sadar, dengan cepat meminta kunci, menyebutkan nama samaran, dan menyerahkan mobilnya kepada pelayan. Ia menarik Alina ke dalam lift yang sunyi. Hanya ada mereka berdua. “Kenapa kau di sana?” tanya Alina, menuntut jawaban yang tak terucap. “Kau lari dari apa?” “Pertanyaanmu terlalu terlambat, Alina,” Gibran membalas. Pintu lift terbuka ke lorong berkarpet yang gelap. Mereka adalah satu-satunya di lantai itu. Mereka sampai di depan pintu kamar, Gibran membuka kuncinya. Lampu-lampu redup di dalam menyambut mereka, mengungkapkan kamar mewah dengan jendela tinggi yang menghadap ke langit malam Jakarta. Alina tersandung memasuki ruangan, dan tiba-tiba, semua yang ia butuhkan hanyalah melupakan. Ia mendekati Gibran, meraih kerah kemeja putihnya yang sempurna, dan menariknya ke bawah, paksa, seolah ingin merusak kesempurnaan pria itu. Gibran tidak melawan. Matanya, sekali lagi, menunjukkan percampuran dari konflik internal, bahaya, dan hasrat yang tertahan. Ia membiarkan Alina merusak kerapiannya, mencengkeram bahu Alina untuk menjaga keseimbangan mereka. “Lupakan istrimu, lupakan pekerjaanku, lupakan semua hal tentang kita. Mari kita berdua melupakan segalanya malam ini,” pinta Alina, suara mabuknya dipenuhi kesakitan dan keinginan. Dia mencoba menciumnya, tetapi kepalanya pusing. Gibran menahannya, memegang bahu Alina dan sedikit mendorongnya agar Alina bisa fokus. Dia melihat lurus ke dalam matanya. “Dengarkan aku, Alina. Sekali kau masuk, tidak ada jalan untuk kembali. Ini akan menjadi rahasia, sebuah noda, yang akan terus kita bawa,” Gibran memperingatkan, memberinya satu kesempatan terakhir untuk mundur. Alina mengamati matanya. Gelap, mendalam, dan kini, terbakar. Dia menggelengkan kepalanya. Tidak ada penyesalan yang tertinggal dalam jiwanya yang hancur. “Bawalah aku,” bisik Alina. Seketika itu juga, Gibran tidak lagi profesional. Dokter yang terkendali, suami yang setia, pewaris yang terhormat, semuanya lenyap. Ia adalah Gibran Mahesa yang tiba-tiba, yang baru saja menerima fakta bahwa malam ini, ia telah memilih trouble di atas kesempurnaan. Gibran membungkuk, dan alih-alih mencium Alina, ia memindahkan kedua tangannya ke punggung Alina, mendorongnya ke depan dengan kecepatan mendesak. Alina merasakan dorongan yang keras ke depan, dan dalam sedetik, mereka menabrak...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN