Pagi Mengejutkan

1300 Kata
Alina mendongak, matanya kabur, tetapi ia melihat jelas gurat bahaya di wajah Gibran yang kini membungkuk sepenuhnya ke arahnya. Ia tidak mencium bibir Alina. Ia mencium keputusasaannya, menyerbu lehernya dengan mulut yang kehausan. “Kau yang menginginkannya, Alina,” geram Gibran di telinganya. Suaranya dalam dan dipenuhi rasa bersalah yang kini telah dibebaskan. “Jangan berani-berani kau menyesal besok pagi.” Penyesalan? Alina tertawa dalam hati. Apa yang tersisa darinya selain penyesalan? Pengkhianatan Raka telah menghancurkan segalanya. Alina meremas kerah kemeja Gibran lebih keras, merobek kancing yang sudah kendur karena tarikannya. Kain mahal itu berdecit saat terkoyak, suara kekerasan yang asing bagi pria rapi itu. “Lakukan saja,” desis Alina, nafasnya terengah-engah. “Hancurkan aku. Karena aku sudah hancur sebelum ini.” Sentuhan Gibran beralih dari bahaya menjadi penuh kuasa. Ia membalik tubuh Alina, berjalan mundur menuju ranjang besar di tengah ruangan, tidak pernah melepaskan cengkeramannya pada pinggang Alina. Setiap sentuhan terasa seperti meniadakan semua batasan sosial, batasan pernikahan, dan sepuluh tahun penolakan. Ketika mereka akhirnya mencapai ranjang, gerakan menarik mereka ke bawah. Tubuh Alina tenggelam dalam kelembutan sutra dingin. Gibran, yang jauh lebih berat dan lebih teratur, bergerak dengan presisi, seolah-olah dia sedang melakukan operasi darurat. Alina menatap mata Gibran, berusaha membaca apa yang ada di balik kekejaman sesaat itu. Apakah dia melihat wanita yang dia tolak di masa lalu? Apakah dia melihat tetangganya yang berantakan? Atau hanya pelarian singkat dari borgol emas yang diikatkan Soraya di tangannya? “Jangan lihat aku seperti itu,” Gibran menggerutu, napasnya memburu, terhenti oleh jaket blazer Alina yang menghalangi. Dengan sekali sentakan, dia merobeknya, dan pakaian mahal itu jatuh ke karpet tebal. Alina mencengkeram rambut Gibran, memaksanya mendekat. Dalam kegelapan dan kekacauan alkohol, Gibran bukan lagi Gibran yang menolak, bukan lagi dokter yang dingin. Dia hanyalah pria. Pria yang diizinkan untuk mengambil alih kontrol yang sudah lama hilang dari Alina. “Kau datang karena kau kesepian,” bisik Alina, menuduh, meskipun itu juga berlaku untuk dirinya sendiri. “Kau datang karena di rumahmu hanya ada kekosongan.” Wajah Gibran menjadi sangat tegang, ekspresinya tiba-tiba terluka oleh kebenaran. Untuk sesaat, dokter yang profesional itu kembali. Rasa sakit dan kejengkelan campur aduk. “Dan kau datang karena kau ingin menghukum Raka dengan merusak dirimu,” Gibran membalas, nadanya tajam. “Kau sama egoisnya, Alina.” “Kalau begitu, biarkan kita berdua tenggelam,” pinta Alina, tangannya mulai meraba wajah Gibran, merasakan tulang pipi yang tegas, kontur yang dulu hanya bisa ia bayangkan saat masa SMA. Waktu, dalam kamar hotel itu, menjadi cair. Kehilangan arti. Satu-satunya hal yang nyata adalah desakan, keringat, dan panas yang melawan hawa dingin AC kamar. Tubuh Alina merespons bukan dengan gairah, tetapi dengan kebebasan yang mengerikan. Setiap sentuhan adalah pemadam luka yang Raka tinggalkan. Setiap desahan adalah janji, sekaligus pengkhianatan yang lebih besar. Alina mencengkeram punggung Gibran, merasa terperangkap, namun dengan gembira menerima jeratannya. Alkohol melindungi pikirannya dari pertanyaan-pertanyaan mematikan. Apakah ia mencintai Gibran? Tidak. Apakah ia membenci Gibran? Mungkin. Apakah ia butuh Gibran malam ini? Ya. Alina menyandarkan kepalanya ke bantal. Rasa pusing di kepalanya semakin parah. Vodka menuntut balasannya, danmengundang kegelapan. Saat pandangannya mulai kabur sepenuhnya, ia berusaha menoleh. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menangkap wajah Gibran yang berantakan. Rambut hitamnya jatuh ke dahi. Alisnya yang tebal ditarik dalam garis kelelahan. Wajah yang sama persis yang pernah ia tatap dalam kebodohan remajanya, tetapi sekarang ditandai oleh kesedihan dewasa. Gibran. Dokter Gibran. Pikirannya, meski mabuk, berhasil mengucapkan nama itu. Ini bukan sembarang pria di bar. Ini adalah tetangga. Ini adalah Suami Soraya. Sebuah beban rasa bersalah yang lebih berat daripada patah hati Raka, tiba-tiba menimpa dadanya. Alina ingin berteriak. Ia ingin mendorong Gibran dan berlari, mencuci bersih dirinya dari noda ini. Namun, tubuhnya sudah mati rasa, kelelahan, dan alkohol membujuknya untuk menyerah. Gibran berbalik sedikit, mencari kenyamanan. Tangannya secara refleks melingkari pinggang Alina yang ramping, menariknya mendekat, memeluknya dengan erat seolah Alina adalah sesuatu yang berharga. Alina merasakan panas kulit Gibran, bau wewangian kayu cendana dan bau tembaga, kini bercampur dengan bau kulit. Ia terperangkap dalam pelukannya, dalam noda ini. Ia berusaha keras untuk tidak bergerak, agar Gibran tidak bangun. Ia menatap langit-langit yang gelap. Kenapa? Kenapa harus Gibran? Dari semua pria di Jakarta yang bisa ia ajak berbagi keputusasaan satu malam, kenapa harus pria yang menjabat tangan Soraya, yang memiliki unit tepat di sebelah unit apartemennya? Sial. Ini adalah malapetaka yang mematikan. Alina membuka mulut untuk berbisik, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Yang keluar hanyalah isakan yang tertahan. Aku melakukan kesalahan yang sangat besar. Dalam kondisi setengah sadar, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Gibran. Sedikit. Ia harus pergi. Sebelum fajar, sebelum... ia melihat tangan Gibran yang melingkari perutnya. Dan kemudian, pandangannya jatuh pada cahaya redup yang menangkap kilau logam yang melingkar sempurna di jari manis tangan kanan Gibran. Cincin Kawin. Gibran benar-benar telah menikah. Dan kini ia tidur memeluknya. Mual, yang sempat tertahan, kini kembali naik ke kerongkongannya, dingin dan mematikan. Bukan karena alkohol, melainkan karena kenyataan. Alina berusaha melepaskan cengkeraman tangan Gibran. Ia harus... “Tidur, Alina,” gumam Gibran, suaranya parau dan dalam, sedikit menyeret dalam tidur yang dangkal. Cengkeramannya justru menguat, membuat Alina kembali ke tempatnya, di dalam tempat yang menjebak dirinya sendiri. Alina menutup mata, menyerah. Malam telah mengambil alih dirinya. Dan besok pagi, ia tahu, akan tersiksa. Satu detik kemudian, pintu hotel di lorong terdengar dibanting dengan keras. Suara itu begitu nyaring dan asing, bahkan di tengah malam Jakarta yang bising. Gibran dan Alina serempak tersentak bangun. Mata Gibran langsung terbuka penuh, kegelapan malam telah pergi, digantikan oleh kewaspadaan seorang dokter. Ia segera menyadari di mana dia berada. Tangannya, yang masih melingkari Alina, kini terangkat, rambutnya yang basah kuyup berantakan. “Apa itu?” bisik Alina, rasa mabuknya terbang sekejap digantikan ketakutan. Suara itu tidak jauh dari pintu kamar mereka. Lorong sepi itu. Gibran dengan cepat menarik selimut dan melilitkannya di pinggangnya, sebelum berjingkat menuju lubang intip pintu. Ia menempelkan mata ke kaca kecil itu. Alina memegangi napasnya, jantungnya berdegup tak karuan. Siapa? Apakah Santi mengikuti? Atau jangan-jangan? “Sial,” Gibran berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar, namun dipenuhi kepanikan. Dia mundur dari pintu, wajahnya pucat. Semua kendali dirinya telah hilang. “Siapa?” desak Alina. Gibran berbalik ke arahnya, tidak sepenuhnya melihatnya. Matanya melihat ke titik yang jauh, titik di mana seluruh kehidupannya yang diatur dengan baik kini terancam hancur. “Itu…” Gibran meneguk ludah, seolah-olah nama itu mencekiknya. “Itu valet. Tapi di sebelahnya ada... Sosok yang sangat dikenal oleh Gibran. Seseorang yang sama sekali tidak boleh melihatnya. Gibran bergegas kembali ke ranjang, mengambil ponselnya. Wajahnya serius, kepalanya menggeleng, menyadari betapa tololnya ia bertindak di bawah emosi yang gelap. Ia tidak menyalahkan Alina. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena mengizinkan pelarian sesaat ini terjadi. “Kita harus pergi sekarang. Dari sini. Sebelum mereka...” Gibran melihat ke arah Alina yang kebingungan. “Mereka mungkin tidak akan datang ke lantai ini, tapi... Alina yang panik meraih selimut yang jatuh dari tubuhnya. “Siapa, Gibran? Siapa?” Gibran menghela napas, menutup matanya sejenak. Ia harus memberitahunya, harus— Ponselnya berdering keras, memotong ketegangan dengan suara memekakkan telinga yang tak tertahankan. Itu adalah nomor Soraya. Gibran memandang Alina, ketakutan terlukis di wajahnya. Lalu, dia melihat ponselnya berdering lagi, nomor Santi, teman Alina. Dunia Gibran telah runtuh di pintu hotel ini, dan kini ia harus memilih salah satu kekacauan untuk ditangani terlebih dahulu. Ia harus meyakinkan Alina, ia harus... Gibran menekan tombol mute, menjatuhkan ponselnya ke seprai sutra, dan kembali menatap Alina. Suara yang tadi dia dengar dari balik pintu, kini jelas di benaknya. “Itu adalah asisten pribadiku, Daniel. Dan, di belakangnya ada...” Gibran tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi ia menarik napas tajam, seolah sedang mengambil keputusan yang sangat menyakitkan. Alina menunggu, bibirnya bergetar. Gibran meraih baju dan celananya dengan gerakan mendesak. “Kita harus segera berpisah, Alina. Malam ini adalah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN