“Daniel. Kau bilang itu asisten pribadimu,” desis Alina, suaranya parau dan sedikit serak. “Kenapa dia harus berada di luar pintu, sekarang?”
“Aku tidak tahu. Dia seharusnya ada di bandara besok pagi, mengurus jadwalku,” Gibran memotongnya tajam. “ Biasanya Daniel jika dia melihatku, atau tahu aku menginap, itu akan sampai ke Soraya dalam waktu kurang dari satu jam.”
Alina menelan ludah. Soraya. Nama itu membawa kembali rasa bersalah.
“Dan yang bersamanya?” tanya Alina lagi. Ketegangan membuatnya tidak bisa bernapas lega. “Kau bilang ada yang lain."
“Dia mengenakan jaket tim olahraga klub yang sering kudatangi,” Gibran menjelaskan, suaranya menjadi sangat pelan, nyaris berbisik. “Dia biasanya berada di rumah ibuku. Mengurus properti, atau… ya ampun. Ini semakin buruk dari yang kukira.”
Ibuku. Laras Mahesa. Sosok yang lebih menakutkan bagi Gibran daripada Soraya.
“Mereka datang mencari kau,” simpul Alina. Itu bukan pertanyaan.
Gibran mengangguk. “Mungkin. Atau mungkin kebetulan menginap di lantai ini. Aku tidak peduli. Kita harus memastikan kita pergi terpisah dan tidak ada yang tahu kita berada di ruangan ini, malam ini.”
Gibran berbalik sepenuhnya, tatapannya akhirnya tertuju pada Alina. Matanya gelap, tajam. Dia tidak lagi mabuk. Hanya ketakutan yang memenuhi dirinya.
“Ini penting, Alina. Aku akan memberikanmu uang tunai, sebanyak yang kamu butuhkan. Ambil tasmu, ambil pakaianmu. Segera kenakan. Aku akan menghubungi taksi dan memintanya menunggu di pintu samping.”
Alina hanya duduk di ranjang, memperhatikan kelebat gerakan Gibran. Betapa cepatnya seorang dokter bisa kembali menjadi dokter. Menjadi pria yang rapi, yang punya istri, dan punya nama besar untuk dijaga. Sementara ia? Ia masih wanita yang hancur.
“Aku tidak butuh uangmu,” sahut Alina, nadanya tiba-tiba dingin. Ia berpegangan pada sisa-sisa harga diri yang mungkin masih tertinggal. “Aku tidak meminta kompensasi atas kesalahanku malam ini.”
Wajah Gibran menegang. “Ini bukan tentang kompensasi. Ini tentang kehati-hatian. Tentang memastikan tidak ada koneksi. Kau ingin ini jadi rahasia, bukan? Kau tidak mau ini menjadi berita utama firma tempatmu bekerja, kan?”
Ancaman tersirat itu, yang sangat masuk akal, menghantam Alina telak. Reputasi. Kariernya. Setelah kehilangan Raka dan Citra, satu-satunya yang ia miliki adalah nama baiknya di SCBD.
Alina dengan gemetar meraih blazernya yang sobek di karpet, mengambil pakaiannya dengan cepat. Gerakannya canggung, tangan dan kakinya terasa berat. Alkohol itu racun, pelarian yang kini menuntut balasan. Setiap jahitan di pakaian terasa menjepit kulitnya yang tiba-tiba terasa sensitif dan ternoda.
“Kau harus berjanji padaku,” ujar Alina, matanya menyipit, berusaha membaca kebenaran di mata Gibran. “Bahwa malam ini, setelah kita meninggalkan kamar ini, kita akan berpura-pura tidak pernah terjadi.”
Gibran menutup matanya lagi, sesaat saja, tetapi Alina melihat pergulatan batin itu. Ini bukan hanya tentang mereka berdua. Ini melibatkan banyak pihak.
“Aku bersumpah,” jawab Gibran. Sumpah itu terasa kosong dan terpaksa. “Aku akan menghapusnya dari memori dan kehidupan nyata."
Alina mengenakan dress hitamnya. Ia menoleh ke cermin dan melihat matanya merah, rambutnya kusut. Ia terlihat seperti orang asing, tetapi itu tidak masalah. Yang penting ia bisa keluar dari tempat ini.
“Dan bagaimana dengan istrimu?” tantang Alina, rasa sakit tiba-tiba berubah menjadi rasa ingin tahu yang tajam. Ia perlu melukai Gibran juga, sebagai imbalan atas luka yang ditorehkan padanya dengan janji pernikahan orang lain. “Kau akan pulang ke Soraya dan berpura-pura mencintainya?”
Wajah Gibran menjadi dingin dan kejam. “Itu bukan urusanmu. Jangan pernah, aku ulangi, jangan pernah, sebut namanya. Kau hanya perlu mengurus dirimu, Alina. Aku akan mengurus duniaku.”
Kekejaman kata-kata itu terasa seperti air dingin. Ia pantas mendapatkannya. Alina tahu itu. Dia melangkah ke samping Gibran, yang sibuk mengatur dompet dan kunci mobilnya.
“Aku tidak pernah mencari masalahmu, Gibran,” bisik Alina, kali ini ia benar-benar terluka. “Kau yang menemukanku. Kau yang mengizinkan dirimu disentuh.”
Gibran mencengkeram lengan Alina dengan kencang, matanya menusuk Alina. Ada gairah dan penyesalan yang membara di dalamnya.
“Kau benar,” aku Gibran, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, sebuah pengakuan yang menyakitkan. “Kau adalah racun yang aku minum dengan gembira malam ini. Dan aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menawarkanmu lebih dari kegelapan satu malam.”
“Cukup.” Alina menarik lengannya. “Aku pergi. Jangan ikuti aku.”
Ia berjalan cepat menuju pintu, tetapi Gibran menariknya kembali.
“Tunggu! Lorong harus meninggalkan tempat ini tanpa jejak. Dan… pakai ini.”
Gibran mengambil salah satu jaket mahalnya yang tergantung. Alina melihat kain itu, jaket wol abu-abu yang terlalu besar untuknya. Tapi itu bisa menutupi noda air mata dan ketidakrapiannya.
Gibran kembali mengintip melalui lubang pintu. Kali ini lebih lama.
“Daniel sudah pergi,” Gibran melaporkan, nada lega. “Dan pria dari rumah juga. Cepat, sebelum yang lain datang. Mereka punya kunci untuk kamar sebelah, kurasa. Jangan lari. Berjalan normal.”
Alina menarik napas, tangannya gemetar saat ia menyentuh kenop pintu. Perutnya mual lagi, lebih parah dari yang disebabkan alkohol. Kali ini, mualnya karena kesadaran yang teramat jernih, ia baru saja m*****i hidupnya lebih dalam dari yang Raka pernah bisa lakukan.
Gibran meraih dagunya, memaksa Alina menatapnya. “Kita tidak pernah ada di sini. Kau dan aku, hanya ilusi dari keputusasaan.”
“Pernah,” Alina menentang, matanya dipenuhi air mata. “Ada konsekuensi dari setiap kecelakaan, Dokter.”
Alina tidak menunggu jawabannya. Ia memutar kenop, keluar, dan menarik napas sedalam-dalamnya di udara koridor yang ber-AC dingin.
Ia melangkah ke lift, jantungnya berdebar kencang. Lift terbuka di lantai lobi, membawanya ke keramaian malam Jakarta yang belum tidur. Ia berjalan menuju pintu samping, mencoba terlihat tenang.
Saat Alina mendekati pintu, ia melihat mobil sedan mewah hitam menunggu di tepi jalan, dekat taksi yang seharusnya ia naiki.
Di belakang kemudi sedan itu, ia mengenali seorang wanita. Sosoknya elegan, rapi, dengan rambut yang tertata sempurna dan tatapan mata yang sangat familier. Wanita itu tidak sendirian.
Di sampingnya, ada seorang pria yang baru saja dilihat Alina di koridor, pria yang menjaga rumah Gibran. Wanita itu adalah...
Wanita itu, di kursi penumpang mobil sedan hitam, baru saja menoleh ke arahnya.
Bukan hanya itu. Alina bisa melihat kilatan kecil di jari manis kirinya.
Itu adalah Soraya.
Jantung Alina serasa berhenti. Soraya sedang melihat ke arah pintu tempat ia keluar, tatapannya tajam dan menghakimi, seolah tahu persis mengapa Alina berada di hotel ini. Dan meskipun jaraknya beberapa meter, mata Soraya menangkap sesuatu yang familier, sesuatu yang ada di tubuh Alina.
Alina menoleh ke bawah. Ia menyadari. Ia masih mengenakan jaket wol abu-abu milik Gibran.
Panik yang dingin menyerang Alina. Ia mencoba mempercepat langkah, menjauh, tetapi sudah terlambat. Ia mendengar suara klakson mobil, sebuah sinyal, bukan kepadanya, tetapi kepada...
Ia merasakan bahunya disentuh dari belakang. Ia tersentak, berbalik.
Itu Gibran. Ia datang mengejarnya. Ia terlihat terengah-engah.
“Taksi mu sudah menunggu. Aku minta maaf soal...” Gibran melihat ke arah mobil sedan hitam. Ekspresi ketakutan kembali menyergapnya, tetapi kali ini sepuluh kali lipat. Ia telah melihat Soraya. Soraya pasti melihat Alina.
Gibran menarik Alina, mencoba menyembunyikannya. Ia berbisik, “Kau mengenakan jaketku! Lepaskan! Cepat, lepaskan!”
Alina merobek jaket itu dari tubuhnya. Terlalu panik untuk merangkai kata. Ia memandang ke arah mobil. Soraya telah membuka jendela, matanya memicing. Pandangannya bergerak dari wajah Gibran yang ketakutan, lalu mendarat di pakaian Alina, lalu ke tubuh Gibran, dan kemudian kembali lagi pada jaket yang jatuh di lantai.
Soraya tahu. Itu tertulis jelas di mata tajamnya. Alina melihat senyum tipis, dingin, penuh pengertian yang berbahaya, di wajah wanita yang sudah menikah itu.
“Gibran,” panggil Soraya, suaranya tajam menembus bising malam.
Gibran menutup matanya, melepaskan cengkeramannya dari Alina. Semuanya sia-sia.
“Pergi, Alina,” perintahnya, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran, “Lari sekarang.”
Alina mematuhinya. Ia berlari ke arah taksi yang menunggu, menjatuhkan diri ke kursi belakang, berteriak pada sopir untuk segera jalan.
Dan kemudian, hal terakhir yang dilihat Alina, Soraya membungkuk. Dia mengambil jaket wol abu-abu milik Gibran dari trotoar hotel.
Jaket itu adalah bukti tak terbantahkan. Sebuah janji yang gagal dari kecelakaan yang tidak pernah bisa ditarik kembali. Alina menyentuh perutnya, refleks naluri yang bahkan ia sendiri tidak pahami. Saat taksi melaju cepat menembus jalanan Senopati, satu pertanyaan saja yang bergema di kepalanya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi racun malam ini untuk...