Dunia Gibran

1060 Kata
...menghancurkan segalanya? Alina memejamkan mata di kursi belakang taksi, mencoba mengusir citra dingin wajah Soraya. Aroma samar parfum mahal dari jaket Gibran, yang kini tergeletak kusam di trotoar hotel, terasa menempel di seluruh kulitnya, sebuah bau dosa yang tidak akan bisa dicuci bersih. Ia menyentuh pipinya, merasakan sensasi kulit yang terasa perih. Kepalanya berdenyut tak karuan, kombinasi antara migrain yang dipicu alkohol dan lonjakan adrenalin yang mematikan. Rasa mual itu semakin kuat. Kali ini, bukan mual akibat minuman keras, ini adalah reaksi visceral terhadap fakta. Ia melarikan diri dari seorang pria yang berselingkuh hanya untuk menjadi pihak ketiga dalam pernikahan pria lain, yang sialnya adalah cinta pertamanya. Taksi itu melaju kencang menuju kawasan apartemennya. Setiap sentimeter jarak yang memisahkannya dari hotel itu terasa seperti menjauh dari jurang yang ia ciptakan sendiri. Jurang yang dalam, dingin, dan kotor. Kecelakaan, batinnya pahit. Gibran benar. Itu adalah kecelakaan yang memuaskan. Kelegaan yang ia cari dalam pelukan asing ternyata adalah senjata bermata dua. Ia telah mencari pelarian total, dan Gibran memberikannya, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal daripada yang pernah ia perhitungkan. Sesampainya di lobi, Alina menghindari tatapan ramah petugas keamanan. Ia hanya ingin kembali ke unitnya, menenggelamkan diri di bawah air, dan berpura-pura bahwa 24 jam terakhir tidak pernah terjadi. Tapi itu mustahil. Apartemennya sudah hancur oleh amarah pada Raka, dan kini jiwanya hancur oleh kebodohan dirinya sendiri. Ia masuk, menjatuhkan tasnya, dan merosot di balik pintu yang terkunci. Bau penghancuran masih terasa, campuran debu, sisa alkohol, dan kelembapan yang tidak sehat. Pukul 04.30 pagi. Pagi yang terlalu dini untuk realisasi yang menyakitkan. Alina memaksa dirinya mandi. Air dingin itu menusuk kulit, sedikit demi sedikit membersihkan sisa aroma Gibran dan menipiskan kabut mabuknya. Namun, saat tubuhnya bersih, pikirannya menjadi terlalu jernih, terlalu kejam. Ia kembali ke kamar tidurnya yang berantakan. Membaringkan diri di atas seprai yang sudah ia ganti, Alina menatap langit-langit. Malam yang terpotong-potong itu kembali menyerang memorinya. Sentuhan Gibran. Ciumannya. Bisikannya yang parau. Lalu, yang terpenting, percakapan mereka saat subuh menyingsing, di mana ia melihat matanya, jelas dan terukir sempurna dalam kesadarannya. Nama itu, Gibran Mahesa. dr. Gibran Mahesa. Sebuah sambungan listrik seolah menyambar otaknya. Nama itu... mengapa begitu familier? Ia tidak hanya tahu nama itu karena Gibran adalah tetangga barunya, tetapi karena nama itu pernah terukir dalam lembaran sejarah yang ia yakini telah ia bakar habis-habisan di masa lalu. Mahesa. Alina tiba-tiba bangkit, jantungnya berdegup gila. Tangannya gemetar. Ia mencari ponselnya, yang semalam terabaikan di saku jaketnya. Matanya langsung menuju fitur pencarian. Dengan jari-jari yang hampir kaku, ia mengetik nama itu, Gibran Mahesa. Alina melihat foto itu, diunggah oleh salah satu teman Soraya. Foto di mana Gibran, gagah dalam balutan jas, tersenyum hampa di samping seorang wanita elegan yang memegang buket bunga. Soraya Adnan. Istri sahnya. “Oh Tuhan,” bisik Alina, rasa mual itu kembali menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Bukan karena alkohol, tapi karena kebenaran. Gibran Mahesa. Sang Golden Boy dari SMA 3 Jakarta. Kapten tim basket yang diidolakan semua orang. Anak dari keluarga Mahesa yang berpengaruh. Dan pria yang dulu, delapan tahun lalu, Alina cintai dengan sepenuh hati semasa remajanya. Ia ingat, bagaimana dulu, dengan keberanian bodoh yang hanya dimiliki oleh anak muda yang mabuk asmara, ia menyatakan perasaannya di depan loker Gibran. “Alina,” Gibran menjawab, nadanya ramah, tetapi jauh. “Aku sangat menghargainya. Tapi aku punya jalur yang harus kutempuh. Dan kau... kau bukan bagian dari rencanaku.” Bukan bagian dari rencanaku. Kalimat itu membekas, sebuah penolakan dingin yang mengajarkannya untuk mengunci hatinya rapat-rapat. Setelah penolakan itu, ia fokus pada karier, membangun dirinya, meyakini bahwa kesuksesan adalah pembalasan terbaik. Dan kini, takdir sekejam ini? Ia kembali bertemu Gibran, tetangga di unit yang berjarak tiga meter darinya. Mereka berpapasan beberapa kali di lobi, saling memberi anggukan canggung karena tak ada yang ingin mengakui perkenalan masa lalu. Dan kemudian, mereka menghabiskan satu malam. Satu malam gila, terdorong oleh keputusasaan dan rasa sakit yang tumpang tindih. Malam yang menghilangkan batas, menghilangkan logika, menghilangkan moralitas. Air mata Alina tidak lagi mengalir. Matanya kering, perih karena penyesalan yang membakar. Ini jauh lebih buruk daripada perselingkuhan Raka. Raka menghancurkan kebahagiaan. Tapi ia? Ia baru saja menghancurkan pernikahan seseorang, dan entah bagaimana, itu terasa jauh lebih menghinakan martabatnya sebagai wanita yang terpelajar. Gibran. Pria yang menolaknya dulu, kini menjadi bagian dari kekacauan terbesar dalam hidupnya. Apa yang kupikirkan? Aku melihat wajahnya saat ia mabuk, tetapi aku terlalu ingin melupakan diriku sendiri sehingga aku mengabaikan semua lonceng peringatan, raung suara di kepalanya. Dia tahu siapa aku. Dia tahu kita saling mengenal. Kenapa dia tidak menghentikanku? Mungkin Gibran juga putus asa. Mungkin Gibran juga ingin melarikan diri dari ‘rencana’ sempurna yang diatur oleh ibunya, Laras Mahesa, yang kabarnya legendaris dalam mengendalikan kehidupan anak-anaknya. Namun, semua alasan itu hanyalah pembenaran yang lemah. Dan Soraya, wanita elegan di dalam mobil sedan hitam itu, yang mengambil jaket bukti itu. Soraya yang melihat ketakutan di mata Gibran, melihat Alina yang keluar dari pintu samping. Alina memeluk lututnya, berusaha menahan getaran yang menguasai seluruh tubuhnya. Keputusan semalam terasa seperti lompatan bunuh diri dari tebing yang tinggi. Ia hanya ingin sakit hati Raka menghilang, tetapi kini ia menciptakan sakit hati baru, bagi Gibran, bagi Soraya, dan bagi dirinya sendiri. Ia melihat jarinya. Tidak ada yang salah di sana. Tidak ada cincin, tidak ada tanda-tanda komitmen yang hancur. Alina masih memegang kendali atas kerangka luar kehidupannya. Tapi bagaimana dengan Gibran? Ia harus memeriksa. Perlu tahu seberapa jauh ia sudah mengacaukan hidup pria itu. Perlahan, seolah tubuhnya terbuat dari kaca rapuh, Alina turun dari ranjang. Ia berjalan menuju jendela, menarik tirai tebal, membiarkan cahaya fajar Jakarta yang keras masuk ke dalam unitnya. Di bawah cahaya pagi yang brutal itu, sesuatu di balik meja samping ranjang Gibran terlintas di ingatannya... Sebuah kilatan emas kecil yang tampak familiar, melingkar di jari manis tangan kanan pria itu, saat ia dengan terburu-buru mengenakan jam tangan sebelum pergi. Tidak. Itu tidak mungkin. Alina menggelengkan kepalanya. Ia tidak sempat melihat detail semalam. Matanya fokus pada tatapan gelap Gibran. Tapi sekarang, dengan kesadaran penuh, detail yang diabaikan itu tiba-tiba mengambil alih pikirannya. Ia melihat kembali foto pernikahan di layar ponselnya. Ia harus memastikan. Ia harus melihat jarinya sendiri, sebagai perbandingan, sebagai konfirmasi konyol bahwa simbol pengikat itu benar-benar ada. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menoleh kembali ke ponselnya. Ia membuka hasil pencarian tentang pernikahan itu lagi, memperbesar gambar tangan Gibran, melihat cincin kawin yang...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN