Pagi datang terlalu cepat bagi Alina. Ia hampir tidak tidur. Sepanjang malam pikirannya dipenuhi satu hal yang sama—tatapan Gibran di parkiran itu. Tatapan yang seolah sudah mengambil keputusan besar tanpa memberinya kesempatan menolak. Kita akan menikah. Kalimat itu terus bergema di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang. Alina menggosok wajahnya pelan di depan cermin kamar mandi. Kulitnya terlihat pucat. Matanya sedikit bengkak. “Tenang,” gumamnya pada bayangan dirinya sendiri. “Kau sudah membuat keputusan.” Ia akan menjalani semuanya sendiri. Tanpa menghancurkan hidup orang lain. Ia mengambil tas kerjanya dan menarik napas panjang. Hari ini ia tetap harus pergi ke klinik. Ia membutuhkan kepastian medis. Usia kandungan, vitamin, semua yang harus ia siapkan. Bayi ini tidak

