Serangkai Pesan

1350 Kata

Terlambat pulang dan mengapa kau masih menunda memberi kami seorang cucu,” pungkas Soraya, senyumnya dingin, penuh ancaman yang didasarkan pada kekuasaan Ibunda mereka berdua, Laras Mahesa. Gibran hanya bisa berdiri terpaku. Bau Bourbon, aroma Alina, dan beban dari malam terlarang itu seolah merangkak keluar dari kulitnya. Ia terperangkap, dan kesalahan kecilnya semalam baru saja memberinya tumpukan ancaman baru yang akan membuatnya tersiksa. Ia menundukkan kepalanya, mengumpulkan sisa martabat yang ia miliki, dan berjalan menuju kamarnya. Ia tahu ia tidak bisa melawan Soraya dan ibunya hari ini. Ia perlu waktu, perlu tidur, perlu melupakan. Sayangnya, ingatan tentang sentuhan Alina jauh lebih kuat dan jauh lebih berbahaya daripada seluruh tuntutan sosialita Jakarta. Jauh di apartemen k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN