Jangan pernah menghubungiku lagi. Selamat menikmati pilihanmu, tapi tinggalkan aku sendiri. Citra menjatuhkan ponselnya ke sofa seolah benda itu membakar kulitnya. Pesan itu lebih dari sekadar memutuskan kontak itu adalah proklamasi, bahwa Alina tahu dan Alina menutup semua pintu tanpa penyesalan, tanpa perdebatan. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan hanya sebuah kepastian yang menakutkan. Raka menoleh, melihat keterkejutan Citra yang total. "Ada apa? Apa katanya? Apa dia setuju bertemu?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar karena harapan yang tidak realistis. Citra tidak menjawab, ia hanya menatap Raka, kemudian melihat ke kejauhan. Keheningan yang tiba-tiba melanda ruangan itu terasa lebih mencekik daripada teriakan atau pertengkaran mana pun. Dunia lama mereka sudah berakhir. Ali

