Mengusir Dua Pengkhianat

1095 Kata
Bab 3 “Bohong,” katanya, menggeleng. “Tidak ada pertunangan. Tidak ada janji. Kita adalah pasangan yang buruk, Raka. Dan kau baru saja mengajukan laporan yang sangat keliru.” Dia melihat Raka masih ragu. Dia melihat Citra sudah berpakaian dan berdiri di ambang pintu kamar, air matanya tak lagi ditahan, jatuh di pipi yang memerah. “Raka Sanjaya,” panggil Alina, namanya kini hanyalah nama dalam berkas kasus. “Kau akan keluar dari pintu ini sekarang. Dan jika aku melihat wajahmu atau Citra di dalam jarak lima ratus meter dari apartemen ini lagi, aku akan memastikan bahwa firma tempatmu bekerja mengetahui seluruh rincian laporan yang kau buat.” “Kau tidak mungkin melakukannya,” bisik Raka. “Kau tidak akan menghancurkan reputasiku hanya karena hal bodoh ini.” “Kau benar,” Alina mengakui, bibirnya melengkung sinis. “Aku tidak akan menghancurkan reputasimu. Kau yang akan melakukannya sendiri.” Alina melangkah ke kotak Hermes yang tergeletak di tasnya. Ia menarik jam tangan edisi terbatas itu dari kotaknya. Sebuah mahakarya perak yang bersinar, terlalu indah untuk diberikan kepada seorang pengecut. Tanpa berkedip, ia mengangkatnya tinggi-tinggi. Namun, yang ia lihat selanjutnya adalah kengerian. Alina mengayunkan jam tangan itu dengan seluruh kekuatan yang tersisa, menghantamkannya ke layar televisi LED mahal di belakang Raka. Raka mundur selangkah, kaget oleh ledakan tiba-tiba dari Alina yang biasanya tenang. “Itu adalah apa yang tersisa dari waktu yang telah kuhabiskan bersamamu,” bisik Alina, suara kini bergetar, tetapi penuh janji yang menakutkan. Dia mengalihkan tatapan dari layar yang retak dan menatap Raka untuk terakhir kalinya. Matanya kosong. Jiwanya kosong, “Sekarang, ambil kekasihmu yang malang, dan keluarlah. Aku tidak akan mengulanginya untuk ketiga kali. Dan jangan pernah, Raka, mencoba menghubungiku lagi untuk alasan apa pun. Kau tahu aku bersungguh-sungguh.” Pintu apartemen berderak tertutup. Suara kunci elektronik yang berbunyi saat pintu mengunci diri terdengar, seperti penutupan peti mati. Alina Prameswari berdiri di tengah ruang tamu. Dia melihat serpihan kue cokelat. Dia melihat noda basah di karpet yang ia tahu berasal dari cairan kental yang mereka tinggalkan. Dia melihat TV yang pecah, hadiah yang hancur. Semuanya terasa sangat dingin. Jantungnya tidak berdetak cepat. Justru, ia merasa seperti seluruh darahnya telah mendingin. Ia tidak merasakan air mata, hanya rasa kebas yang perlahan menyebar, mematikan rasa sakit. Alina melihat jam tangan mahal yang kini ia pegang, kotor dengan debu kaca. Ia melemparnya ke lantai, menambah bunyi pecahan. Kehilangan Raka dan Citra terasa seperti kehilangan dua rekan kerja yang kurang efisien—mereka bisa diganti. Tapi kehilangan tatanan sempurna hidupnya, itu yang menghancurkannya. Alina berjalan perlahan ke jendela besar apartemennya, menatap kerlap-kerlip cahaya Jakarta Selatan di bawah. Jutaan orang. Jutaan cerita. Dan sekarang, ceritanya yang seharusnya paling rapi, menjadi yang paling kotor. Dia menyentuh pelipisnya. Pusing mendadak. Gaun merah anggur itu kini robek, mencerminkan kekacauan di dalam dirinya. Dia harus mandi. Membersihkan kotoran. Mengatur kembali dirinya. Dia harus kembali ke nol. Dia harus... melakukan sesuatu. Tangan Alina meraih pintu lemari pendingin, membutuhkan sebotol air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang tercekat. Dia membuka pintu lemari es, tetapi yang ia lihat bukanlah air mineral. Itu adalah botol vodka beku Raka yang disimpan di paling belakang. Sedingin jiwanya yang hancur, botol itu menjanjikan pelarian sesaat. Alina mengeluarkan botol itu. Matanya menyapu sekitar, mencari gelas. Tidak. Gelas tidak cukup. Malam ini ia tidak butuh etiket, ia butuh kematian sesaat. Dia mengangkat botol vodka ke bibirnya, siap menenggak cairan beku itu tanpa ragu, ketika ponselnya, yang ia letakkan di meja makan sebelum ia masuk, bergetar hebat dengan pesan baru. Notifikasi masuk bertubi-tubi dari Raka. "Alina, tolong jawab! Aku mohon. Ini tidak seperti yang kau pikirkan." "Sayang, jangan begini. Aku salah. Aku janji, aku akan..." "Aku di lobi. Aku kedinginan. Biarkan aku masuk." Pesan terakhir datang, "Aku hanya membutuhkanmu. Kau yang membuatku merasa sempurna, bukan dia. Alina, aku tidak bisa tanpamu." Alina menatap botol vodka di tangannya, lalu ke ponsel yang terus bergetar. Dia sudah muak dengan kesempurnaan dan segala bentuk kebohongan. Dia menjatuhkan botol vodka ke lantai. Tidak, itu akan terlalu cepat. Malam ini ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh dalam kegilaan sendirian. Ia akan pergi ke tempat di mana kekacauan dirayakan. Dia akan keluar dari apartemen yang kini menjadi nerakanya sendiri. Dia akan mencari orang asing, suara yang bising, apa pun yang bisa menenggelamkan ingatan akan sentuhan Citra dan Raka di ranjangnya. Alina mengabaikan ponselnya yang masih bergetar di meja makan. Ia berlari ke kamar mandi, membuka pancuran, membiarkan air dingin menghantam tubuhnya, berusaha mencuci bersih aroma dosa yang ditinggalkan Raka dan Citra. Di depan cermin berembun, ia melihat wajah yang tidak ia kenali—wanita dengan lipstik merah anggur yang tercoreng dan mata yang dingin. Dalam sepuluh menit, Alina keluar dari kamar mandi, berganti pakaian, memilih gaun hitam minimalis dan sepatu hak tinggi setinggi ancamannya pada Raka. Ia hanya membawa kartu identitas, kartu kredit, dan sebuah tekad dingin. Tekad untuk membakar jembatan yang menghubungkannya dengan Raka, dengan Citra, dengan kehidupan perfect yang ternyata busuk di dalamnya. Dia berjalan ke pintu, tangannya menyentuh gagang yang dingin, lalu menghentikan langkah. Ada satu hal lagi. Bukti akhir dari pengkhianatan itu yang perlu dia hancurkan. Hancur. Hancur lebur. Sambil berjalan menuju pintu keluar, Alina menghentikan langkah terakhirnya. Dia menunduk. Tepat di sana, di ambang pintu, ada sepatu hak tinggi Citra yang tertinggal. Alina mengambilnya, merasakan kulit mahal sepatu itu. Dengan dorongan adrenalin yang mendadak, dia melemparkannya ke sudut ruangan dengan keras. Bunyi benturan yang nyaring. Lalu dia meraih kenop pintu dan memutarnya, meninggalkan Unit 2507, tempat neraka kecilnya. Di koridor sepi yang memantulkan cahaya redup, Alina berjalan cepat, tanpa menoleh. Lift turun. Ia keluar di lobi, menepis lirikan penasaran resepsionis. “Pesan taksi untukku,” perintahnya kepada petugas keamanan di pintu masuk, suaranya parau dan jauh. “Cari bar yang paling bising, yang paling ramai. Aku butuh alkohol sekarang.” Ketika mobil mulai bergerak, Alina menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap ke dalam dirinya yang kosong. Rasa sakit itu akhirnya datang, tajam dan dingin. Bukan patah hati, melainkan penghinaan yang begitu dalam. Semua telah berakhir. Dan yang terpenting dia harus melupakannya malam ini juga. Dia tidak bisa membawa luka ini ke hari esok. Tepat ketika taksi berbelok, menembus kepadatan malam Jakarta menuju pusat hiburan yang gemerlap, ponselnya berdering sekali lagi, bukan dari Raka. Panggilan video dari nomor yang tak dikenal. Alina mengabaikannya. Ponselnya berdering lagi. Nomor itu tertera, +6281xxxxxx—dr. Gibran Mahesa. Cinta pertamanya yang pernah menolaknya dengan dingin sepuluh tahun lalu. Mengapa dia menelepon? Alina tidak peduli. Dia mematikan ponselnya, membuangnya ke tas tangan, dan menoleh ke jendela, bertekad untuk menuju kegelapan yang ia inginkan.Malam ini, ia hanya akan mencari...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN